Pendaki Kagetan yang Membuat Ekosistem Merana

1 367
Pendaki
Pendaki

Gonjreng.com – Ditutupnya banyak jalur pendakian di berbagai gunung tinggi di Indonesia, adalah karena kerusakan ekosistem akibat ulah para pendaki kagetan yang tak bertanggung jawab. Di berbagai gunung di Indonesia, saat ini banyak ditemukan dalam skala besar, timbunan plastik bekas air mineral, buangan tissue, plastik bungkus mie instan, aluminium foil bekas bungkus coklat bar, sisa kaleng minuman, bekas tabung gas, dan bermacam barang buangan lainnya. Inilah penyebab utama rusaknya ekosistem kita.

Siapa yang rugi ? Tentu saja kita semua, terutama para penikmat alam sejati yang selalu memegang prinsip bahwa apa pun yang kita bawa ke atas gunung, harus dibawa turun kembali, kecuali jejak langkah. Bangsa dan negara juga dirugikan, karena gunung-gunung tropis di Indonesia merupakan salah satu faktor pemikat turis mancanegara dan lokal, yang luar biasa.

Semua pendaki yang notabene mengaku sebagai pecinta alam, sepatutnya memiliki kesadaran dan bertanggung-jawab atas segala tindakan mereka dalam menjaga ekosistem. Jika kita semua sudah sadar, nggak perlu lagi tuh, setiap tahun jalur pendakian harus ditutup hanya untuk membersihkan sampah dan menanam pohon baru. Karena banyak pendaki tak bertanggung jawab, saat ini ditemukan banyak pohon dan perdu yang terinjak-injak dan rusak. Memulihkan ekosistem dengan menanami pohon baru tentu memerlukan waktu panjang.

Lantas siapa yang disalahkan?

Demam “gerudug gunung” ini dimulai gegara film “5 cm” yang mengambil lokasi di keindahan Mahameru, negeri di atas awan. Film yang populer itu, menyebabkan banyak orang berduyun-duyun menyoba merambah ketinggian Gunung Semeru dan kini juga berbagai gunung lainnya di Indonesia, hanya untuk sekadar narsis di medsos supaya dianggap kekinian. Namun banyak aturan tak tertulis atau bahkan yang tertulis pun, telah dilanggar. Aturan para pencinta alam sejati adalah, barang siapa membawa perbekalan instant, karena nggak mau repot, dilarang keras meninggalkan warisan sampah di sana. Pada tahun 2016, para sukarelawan harus membersihkan dan memanggul turun 1,5 ton sampah dari Gunung Semeru! Timbunan sampah yang tinggi ini adalah hasil ketidakpedulian para pendaki gunung kagetan.

Para pecinta alam sejati saat ini banyak menyesalkan ketidakpedulian para pendaki kagetan, juga pendaki yang cuma sekadar sampai puncak biar dibilang hebat, tapi tak peduli dengan kelestarian lingkungan. Petugas pos pendaftaran juga disesalkan karena kurang tegas dalam menangani pemeriksaan bekal dan barang bawaan. Selain itu, sosialisasi cara menjaga ekosistem juga harus ditingkatkan. Seperti di bandara, seharusnya semua bawaan harus dibongkar. Dan, barang atau perlengkapan yang tidak sesuai dengan tujuan pendakian, harus disita. Pada saat mereka turun, seharusnya dicek apakah mereka membawa sampah mereka sendiri. Dan kalau tidak, mereka harus naik lagi untuk mengambilnya. Kalian yang makan, kalian yang minum, lalu kenapa harus orang lain yang mesti bawa turun? Jangan pernah muncak, kalau nggak sanggup bawa turun sampahmu sendiri!

Tidak mungkin dilakukan? Mengapa tidak? Dengan prosedur dan disiplin, semua bisa dilakukan. Semoga para pendaki kagetan dan semua yang mengaku pecinta alam sadar dan peduli, sehingga jalur pendakian tak perlu ditutup tiap setahun sekali hanya buat membawa turun gunungan sampah dan menanami tanah yang rusak. Please deh!

* Sumber gambar: maxpixel.freegreatpicture.com.

Category: KelanaTags:
One Response
  1. author

    Chaerul2 years ago

    Itulah yang ada, semoga alam Indonesia asri kembali, Aamiin

    Reply

Leave a reply "Pendaki Kagetan yang Membuat Ekosistem Merana"