Toraja, Keindahan Alam dan Upacara Adat yang Luar Biasa

Ma'badong di Toraja

Gonjreng.com – Berkunjung ke Toraja kita pasti akan dibuat kagum akan keindahan alam dan upacara adatnya yang luar biasa. Terletak 328 km di utara Makasar, Toraja dapat dicapai setelah berkendara selama 8-10 jam. Lumayan lama, karena melalui jalan yang berliku, naik dan turun mengitari pegunungan. Namun kita akan disuguhi pemandangan cantik. Salah satunya adalah Gunung Nona atau Buttu Kabobong yang terletak antara Enrekang – Toraja. Perbukitan di sekitar gunung membentuk bentang alam yang berbentuk unik.

Namun suku Toraja juga terkenal dengan upacara pemakamannya yang mewah dan penuh mistis. Setelah meninggal, jenazah akan tetap disimpan dalam kamarnya sebelum dimakamkan. Upacara pemakaman memerlukan persiapan, antara lain untuk membangun tempat upacara, mengumpulkan hewan kurban dan memastikan keluarga besar dapat berkumpul. Bila biaya tidak menjadi masalah, diperlukan sekitar 4- 6 bulan masa persiapan. Namun, masa persiapan bisa menjadi lama bila keluarga besar harus menabung terlebih dahulu. Tidak heran bila jenazah bisa berada dalam rumah selama bertahun-tahun. Selama masih di rumah, mendiang akan diperlakukan seperti masih hidup. Diberi makan setiap hari, diganti pakaiannya serta diajak bicara.

Saat persiapan telah selesai, barulah upacara pemakaman atau Rambu Solo’ dimulai didahului dengan mengadu kerbau diikuti dengan penyembelihan kurban berupa kerbau dan babi. Jumlah binatang yang disembelih menunjukkan kekekayaan keluarga. Kerbau putih dengan totol hitam kecil (seperti pola anjing Dalmatian) menjadi binatang termahal. Harganya mencapai ratusan juta rupiah. Pada saat yang bersamaan diadakan juga pertunjukan kesenian daerah, sehingga Rambu Solo’ lebih mirip festival yang meriah lengkap dengan makan bersama.

Upacara utama dilakukan dengan mengarak mayat menuju tempat upacara untuk kemudian disemayamkan di bangunan berbentuk tongkonan. Tongkonan terbuat dari kayu dan bambu yang memiliki tiga lantai. Pada lantai ke 2 diletakkan Tao-tao yaitu patung mendiang lengkap dengan baju. Peti jenazah diletakkan di lantai 3 yang tingginya bisa mencapai 15 meter. Sebelum dipindahkan, keluarga besar akan melakukan ritual Ma’badong berupa nyanyian dan tarian dengan membentuk lingkaran. Mengenakan pakaian adat berwarna hitam, doa-doa dalam bahasa Toraja kuno dilantunkan sambil menggerakkan kedua kaki dan tangan. Proses memindahkan peti jenazah menjadi acara yang menarik untuk ditonton. Dipimpin oleh seorang pimpinan adat, peti ditarik dengan bantuan bambu secara beramai-ramai ke atas.

Menaikkan peti mati ke Tongkonan

Menaikkan peti mati ke Tongkonan

Upacara masih berlanjut dengan menerima tamu dan menyembelih kerbau dan babi. Tamu yang datang membawa buah tangan, mulai dari beras, kopi, gula, babi hingga kerbau. Semua dicatat oleh keluarga mendiang. Karena bila tamu yang datang suatu saat mengadakan Rambu Solo’, keluarga mendiang harus memberikan buah tangan yang sama. Para tamu juga dijamu makanan, bahkan para turis yang menonton disuguhi makanan.

Makam suku Toraja dapat dibagi menjadi 3 jenis. Pertama makam berupa gua atau lubang yang ditatah di bukit karst. Ketinggian tempat makam menunjukkan derajat keluarga. Makin tinggi letaknya, makin tinggi strata sosial keluarga. Selain mayat dalam peti mati, diletakkan pula Tao-tao di dalam lubang makam.

Jenis makam kedua, adalah makam berbentuk rumah adat atau rumah biasa yang dibangun keluarga. Makam jenis ini lebih banyak ditemukan sekarang. Makin bagus dan mewah bangunan menunjukkan makin tinggi strata sosial keluarga. Di Kete’ Kesu ada juga peti mati yang digantung pada dinding bukit sehingga disebut sebagai “the hanging tomb”. Bila berkunjung ke sana, selalu waspada ya, karena setiap saat peti mati tua yang telah lapuk bisa jatuh.

Jenis makam terakhir adalah makam khusus untuk bayi. Jenazah diletakkan di dalam labang yang dibuat pada batang pohon sukun. Kemudian lubang ditutup dengan kulit kayu yang diikat.

Upacara pemakaman selesai setelah peti diletakkan di gua atau rumah persemayaman. Namun keluarga tetap tidak melupakan mendiang. Setiap beberapa tahun sekali dilakukan upacara penggantian baju. Keluarga akan mengganti pakaian semua mayat keluarga mereka yang telah lapuk dengan yang baru.

Upacara penggantian baju ini juga unik, karena tak mudah menurunkan jenazah dari tempat yang begitu tinggi. Bagaimana caranya menurunkan mayat ke bawah untuk digantikan baju, lalu membawanya lagi ke atas? Ternyata tak sedikit yang menggunakan kekuatan supranatural untuk membuat mayat bisa berjalan sendiri. Sulit dipercaya! Tapi upacara membuat mayat berjalan ini benar terjadi dan telah membuat suku Toraja terkenal karena kekuatan mistisnya. Sesungguhnya upacara itu adalah perwujudan rasa sayang mereka terhadap keluarga. Rasa sayang dan hormat yang ditunjukkan bukan hanya pada saat orang tua masih hidup, tapi juga jauh setelah mereka meninggal.

* Sumber foto-foto: koleksi pribadi

Category: KelanaTags:
No Response

Leave a reply "Toraja, Keindahan Alam dan Upacara Adat yang Luar Biasa"