Tetap Menyerang Jokowi, untuk Apa Diajak Bergabung?

Tetap Menyerang Jokowi

Gonjreng.com – Ketua DPP Partai Golkar sekaligus Juru Bicara TKN Jokowi-Ma’ruf Amin, Ace Hasan Syadzily mengeluarkan pernyataan yang cukup menarik, yaitu tetap menyerang Jokowi.

Untuk mengetahui latar belakang tetap menyerang Jokowi yang dikatakan Ace Hasan Syadzily tadi, sejenak melihat ke belakang terkait isu atau wacana ikut bergabung parpol pendukung Prabowo-Sandi.

Partai Gerindra, PKS, PAN, dan Partai Demokrat merupakan parpol utama pendukung Prabowo-Sandi serta memiliki kursi di parlemen. PKS sudah menyatakan dirinya akan menjadi partai oposisi.

Ada sedikit lelucon terkait sikap PKS yang ingin menjadi partai oposisi tadi. Hal ini ditengarai karena tidak ada tawaran kepada PKS untuk menduduki jabatan menteri pada kabinet Jokowi-Ma’ruf Amin.

Jika Gerindra sempat diisukan Sandi akan menjabat menteri, begitu juga Partai Demokrat dengan AHY, tapi tidak demikian halnya dengan PKS.

Apakah PKS tidak memiliki kader yang layak untuk menjadi menteri sehingga tidak ada tawaran untuk bergabung, makanya menyatakan dirinya sebagai partai oposisi?

Terlepas lelucon tadi lucu atau tidak, Gerindra, PAN, dan Demokrat isunya sedang mempertimbangkan untuk ikut bergabung. Di sinilah keluar pernyataan tetap menyerang Jokowi dari Ace Hasan Syadzily tadi.

Menurutnya, jika ada parpol pendukung Prabowo-Sandi ikut bergabung dengan pemerintah, tapi kelakuannya seperti partai oposisi, atau tetap menyerang Jokowi, hal ini bisa membahayakan nantinya.

“Justru kami ingin memastikan bahwa pemerintahan Pak Jokowi dikawal sebaiknya-baiknya dalam pemerintahan 5 tahun ke depan,” kata Ace Hasan Syadzily di sini.

Tidak disebutkan contohnya, tapi publik bisa mengetahui pada periode pertama pemerintahan Jokowi, PAN sempat bergabung, tapi Amien Rais justru berkoar-koar di luar menyerang pemerintah.

Keledai saja tak ingin jatuh ke lubang yang sama, makanya kejadian di atas tadi seharusnya bisa menjadi pelajaran berharga.

Ace Hasan Syadzily pun mengatakan parpol pendukung Prabowo-Sandi tak mudah untuk bergabung dalam pemerintahan baru nanti. Mereka harus setuju terlebih dahulu untuk menyamakan gagasan, visi dan misi dengan pemerintahan Jokowi-Ma’ruf Amin guna menghindari kejadian lucu seperti di atas tadi. Sudah menyatakan ikut bergabung, tapi tetap menyerang Jokowi dari luar.

Bagaimana memastikan parpol pendukung Prabowo-Sandi tadi – Gerindra, PAN, dan Demokrat – bisa menjaga komitmennya? Mungkin saja awalnya setuju dengan kesepakatan yang ada, tapi di kemudian hari tetap menyerang Jokowi.

Ace Hasan Syadzily sendiri pun ragu, tidak bisa memastikannya.

“Apakah ada jaminan masuknya kubu Partai Gerindra, Demokrat, PAN itu akan memberikan kenyamanan bagi pemerintahan Jokowi 5 tahun kedepan?.”

Maka dari itu, sebaiknya dipikirkan lagi secara matang jika ingin menerima parpol pendukung Prabowo-Sandi masuk ke dalam kabinet Jokowi-Ma’ruf Amin.

Lihat saja, awalnya para politikus kubu 02 berkoar-koar tidak akan mengajukan gugatan, tapi setelah kerusuhan 22 Mei ada juga gugatan yang diajukan ke Mahkamah Konstitusi.

Setelah Mahkamah Konstitusi menolak semua gugatan Prabowo-Sandi pun masih saja ada kesan “ngeyel”, atau tidak mau mengakui kekalahan. Hal ini bisa dijadikan pertanda bahwa Partai Gerindra sebaiknya tidak usah diajak bergabung.

Bukan hal yang mudah melakukan reshuffle di tengah jalan. Bagaimana seandainya Partai Gerindra ikut bergabung, tapi para politikusnya tetap menyerang Jokowi?

Ada cost yang harus dibayar. Belum lagi kemungkinan taktik “playing victim” yang akan dimainkan Gerindra jika akhirnya mengeluarkan kader parpol tersebut dari kabinet.

Di sisi lain, oposisi yang lemah secara keseluruhan tidak baik bagi bangsa ini. Maka dari itu, Partai Gerindra dan PAN tak perlu diajak bergabung. Biarlah mereka, plus PKS menjadi partai oposisi saja.

Partai Demokrat masih bisa diajak bergabung, tapi harus ada jaminan yang kuat dari SBY bahwa para politikusnya tidak akan tetap menyerang Jokowi dari luar.

Partai Demokrat dan SBY diperkirakan dapat menjaga komitmennya mengingat perolehan kursinya turun pada Pemilu 2019 lalu. Di samping itu jika AHY menjadi menteri merupakan nilai plus untuk pertarungan pada Pilpres 2024 nanti.

Tapi seandainya tidak ada satupun parpol pendukung Prabowo-Sandi yang ikut bergabung, tidak ada masalah sebenarnya. Koalisi parpol pendukung Jokowi-Ma’ruf Amin yang ada saat ini sudah cukup kuat untuk membangun pemerintahan baru.

sumber gambar: detik.com.

Category: NawacitaTags:
No Response

Leave a reply "Tetap Menyerang Jokowi, untuk Apa Diajak Bergabung?"