Tersihir Ranah Minang nan Elok (Bagian 3)

Tersihir Ranah Minang nan Elok (Bagian 3)

Gonjreng.com – Malam sudah jatuh ketika kami memasuki Bukittinggi. Namun semangat kami masih membara saat menjejakkan kaki di depan Jam Gadang, ikon kota Bukittinggi yang terkenal. Suasana di sekitar Jam Gadang sangat ramai. Muda-mudi bercengkerama, para turis berpotret, dan para pedagang menjajakan dagangannya. Jam Gadang selesai dibangun pada tahun 1926 sebagai hadiah dari Ratu Belanda kepada Rook Maker, sekretaris Fort de Kock atau kota Bukittinggi pada waktu itu. Menara Jam Gadang kemudian dijadikan sebagai marka atau penanda titik nol kota Bukittinggi.

minang2Setelah berfoto bersama di depan Jam Gadang, kami menyantap makan malam di restoran Family yang konon tempat pertama kalinya ayam pop dilahirkan. Lalu kami menyempatkan diri menonton aneka tari-tarian dan pertunjukan kesenian tradisional Sumatera Barat. Bukan main! Sebagian dari kami yang sudah terkantuk-kantuk, langsung membelalakkan mata begitu para penari tari piring menginjak-injakkan kaki dan melemparkan dirinya di dalam tumpukan pecahan piring yang tajam berserakan! Aku merasakan hawa api yang panas begitu salah satu  penarinya menyembur-nyemburkan api dari mulutnya! Ini adalah pertunjukan luar biasa!

minang3

Namun, semua itu ternyata “bukan apa-apa” dibandingkan dengan penjelajahan kami keesokan harinya. Berdiri di taman Panorama yang menghadap Ngarai Sianok yang indah, ditemani kera-kera yang berseliweran dengan santainya, kami memandang ke bawah, ke dasar ngarai yang dipenuhi pepohonan, sawah-sawah hijau, kampung mungil, dan sungai kecil yang melingkar-lingkar. Tiba-tiba seorang teman di sebelahku bertanya, “Bagus mana jika dibandingkan dengan Grand Canyon di Amerika?”

minang1Aku tersenyum. Keduanya memiliki keindahannya masing-masing. Yang jelas, di dasar tebing-tebing Grand Canyon yang gersang, tidak ada sawah-sawah hijau dan kampung mungil. Sumatera Barat memiliki keindahannya yang unik. Seperti di negeri dongeng, tiba-tiba kaki kami melangkah turun, terus turun, menuruni anak-anak tangga yang seperti tak ada habis-habisnya, terus turun ke dalam bumi yang gelap.

minang4Dan, tibalah kami di terowongan bawah tanah yang sering disebut dengan “Lubang Jepang”. Terowongan bawah tanah ini sebenarnya adalah bunkers Jepang yang bercabang-cabang, yang memiliki lebar sekitar 2 meter dan panjang mencapai 1400 meter. Jepang membangun terowongan ini sekitar tahun 1942 dengan mengerahkan ribuan romusha Indonesia, yang semuanya akhirnya dibunuh. Di dalam cabang-cabang terowongan ini dijumpai beberapa ruangan khusus yang dulunya digunakan sebagai penjara, gudang senjata, ruang pengintaian, dan ruang penyergapan. Pemandu kami menunjukkan sebuah lubang di sudut dinding yang digunakan sebagai lubang pembuangan mayat. Tempat itu menyimpan banyak kesedihan. Namun sejarah selalu seperti itu. Di satu sisi memiliki kisah heroik jiwa-jiwa besar yang berjuang membela kebenaran, di sisi lainnya mengandung banyak kisah derita dan air mata dari rakyat jelata yang jadi tumbal sejarah.

BERSAMBUNG

* Laksmi D. Haryanto. Foto: koleksi pribadi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *