Tersesat di Gunung Semeru, Misteri atau Karma?

0 922
Gunung Semeru
Taman Nasional Bromo Tengger Semeru

Gonjreng.com – 26 Juli 2017 – Jam menunjukkan angka 09.30, saat kami tiba di base camp Ranupani. Setelah registrasi dan briefing, perjalanan menuju Ranu Kumbolo dimulai tepat jam 11.00. Tanpa banyak kendala, 2 jam 30 menit pun berlalu, dan segera saja keindahan Ranu Kumbolo terbentang di depan mata. Keindahan telaga ini seakan memanggilku bercengkrama. Rasanya seperti berada di kahyangan! Gunung Semeru kami datang, untuk ‘mengecup’ Sang Puncak Mahameru!

Satu jam tak cukup rasanya untuk memuaskan mata di pesona Ranu Kumbolo. Namun rute Kali Mati harus segera dimulai. Setelah dua jam berlalu, Kali Mati pun tampak di depan mata. Kami segera mendirikan tenda di sini, berlanjut dengan memuaskan nafsu para naga di perut kami yang terus berteriak kelaparan. Setelah berbincang, masak, dan makan bersama, maka segeralah kami beristirahat dan tidur.

Gunung Semeru

Gunung Semeru – Ranu Kumbolo

Keesokan paginya, tepat jam 01.00, kami siap untuk menuju puncak Gunung Semeru. Kebiasaan kami yang ngebut saat naik gunung, menyebabkan banyak rombongan lain tersalip, dan kami selalu berada di posisi terdepan. Tapi karena ini adalah pertama kalinya kami mendaki puncak Gunung Semeru, kami sepakat untuk menunggu rombongan lain sambil beristirahat. Namun jam 04.00 hujan mulai turun. Perlahan kami melanjutkan perjalanan. Hujan kian menderas setelah 20 menit berlalu. Maka kami pun memutuskan berhenti, meski puncak tinggal sekitar 20 menit lagi.

Tak lama kemudian hujan bertambah lebat seperti tertumpah dari langit dan cuaca semakin buruk. Beberapa pendaki memutuskan untuk turun, tapi aku dan teman-temanku masih bertahan. Dengan harapan cuaca kembali normal, kami ingin menikmati sunrise yang akan hadir 45 menit lagi. Namun rencana tinggal rencana, alam pun berkehendak lain. Cuaca terus memburuk, jarak pandang pun terbatas hanya 1 meter, dan tidak ada tanda-tanda mentari akan menyapa. Karena itu, dengan pertimbangan keselamatan, kami bertiga pun akhirnya menyerah.

Maka kami pun turun dengan cepat. Jarak pandang yang terbatas membuat kami sangat sulit mengamati kondisi jalur. Yang kami lakukan adalah terus berjalan lurus ke bawah. Dan ternyata tanpa sadar kami telah membuat kesalahan fatal! Seorang pendaki yang berpengalaman tahu bahwa kami seharusnya turun secara zig-zag, dengan tetap memperhatikan jalur pendakian.

Kami baru tersadar sudah salah arah, setelah turun cukup jauh. Sambil mencoba tetap tenang, kami berusaha mencari penanda di Arcopodo. Penanda kain yang kami ikatkan di salah satu pohon di sana pada siang sebelumnya, ternyata tidak dapat kami temukan. Setelah menyadari tidak ada juga tanda-tanda adanya pendaki lain, kami pun berteriak minta tolong. Namun tentu saja, teriakan itu hilang terbawa angin.

Gunung Semeru

Gunung Semeru – Tenda di Ranu Kumbolo

Dingin menerpa dan gerimis tebal terus mengikuti. Kami harus terus bergerak dan tidak boleh berhenti untuk menghindari kedinginan yang makin menjadi-jadi. Jika kembali naik, jalurnya sulit sekali. Maka kami berunding dan bersepakat untuk mengambil jalur ke kiri. Mengapa? Karena jika mengambil jalur kanan, kami takut akan menuju Blank 75.

Para pendaki pasti sudah mengenal apa yang disebut Blank 75. Blank 75 adalah sebuah jurang dengan kedalaman sekitar 75 meter, di sebelah Timur Laut puncak Mahameru, yang lokasinya berada di luar jalur sebelah kanan Arcopodo, bila diambil dari arah puncak. Medannya berupa lereng berpasir dengan jalur terputus (blank) karena dipisahkan oleh jurang yang dalamnya sekitar 75 – 100 meter.

Namun, keputusan kami untuk terus mengambil arah kiri menghindari Blank 75, ternyata justru menyebabkan kami semakin tersesat. Putus asa sudah mulai melanda, medan berduri, hujan lebat dan langit semakin gelap. Dengan tekad harus selamat, bukit dan ceruk kami lewati, duri pun kami terabas. Tapi tanda-tanda jalur pendakian belum juga kami jumpai.

Gunung Semeru

Gunung Semeru – Keindahan di perjalanan

Setelah seharian berjalan, rasa lelah pun memuncak. Namun kami tetap berusaha mendaki bukit tertinggi agar dapat memandang ke sekitarnya, untuk memperkirakan lokasi kami. Tapi apa daya? Kami tak dapat melihat apa pun! Kabut begitu tebal! Lalu kami berusaha menelusuri bukit, yang ternyata juga sangat sulit dilalui karena terlalu rimbunnya semak-semak di sekitarnya.

Jam telah menunjukkan pukul 10.30 ketika kami memuutuskan untuk mengikuti ceruk bekas jalur lahar. Beberapa pohon tumbang dan semak-semak rimbun yang menjadi halangan, kami terabas. Keadaan di sekeliling kami temaram dan matahari hanya sesekali saja menampakkan dirinya.

Setelah berjalan cukup lama, tiba-tiba ceruk berubah menjadi sungai yang kian lama semakin deras. Menyusuri sungai adalah salah satu cara untuk mencapai dataran rendah! Hanya saja, kekhawatiran utama kami adalah bila sungai ini berujung di air terjun. Namun hanya itu satu-satunya harapan kami untuk mencapai dataran rendah. Maka kami pun menyusuri sungai. Dan ternyata, kekhawatiran kami pun terjadi! Bukan hanya kami menemukan beberapa air terjun, tapi kami bahkan menjumpai air terjun tak berdasar!

Apa yang harus kami lakukan? Dengan perasaan tak menentu kami mencoba peruntungan membuka ponsel. Alhamdulillah, ternyata signal cukup baik. Kami bisa menghubungi base camp tapi tidak ada jawaban. Begitu pula dengan 911. Dengan harapan yang kian menipis, aku mencoba menghubungi keluarga. Dan, berhasil!

Maka berdasarkan pemberitahuan dari keluarga, tim SAR gabungan Personil Polisi Hutan dan Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BB TNBTS) segera bergerak mencari posisi kami. Dari GPS yang kubuka, ternyata posisi kami saat itu berada sangat jauh dari jalur pendakian Gunung Semeru. Ini membuat kami shocked dan mulai patah semangat.

Gunung Semeru

Jalur Pendakian Gunung Semeru

Namun kami harus meneruskan perjalanan dengan berpegang pada peta jalur pendakian Gunung Semeru dan kompas. Kami berharap segera dapat menemukan desa terdekat. Kali ini dengan menaiki bukit kami terus mengarah ke Selatan. Sebenarnya jalur ini seperti mustahil dilalui karena semak-semaknya tumbuh sangat rimbun, duri-duri pakisnya tajam, dan hari sudah mulai gelap. Tak hanya itu, hujan mulai kembali turun. Tetapi berbekal tekad untuk selamat, kami terus naik menerobos semak belukar.

Setelah tubuh benar-benar sangat lelah sehabis berjalan seharian, barulah kami memutuskan untuk berhenti. Kami beristirahat di lereng bukit yang tertutup semak. Jam menunjukkan angka 17.30. Meski kami mencoba tidur untuk memulihkan tenaga, tapi setiap 20 menit kami terbangun. Tidur nyenyak adalah hal mustahil. Dalam kondisi basah kuyup, hypothermia adalah ketakutan kami yang terbesar. Telapak tangan kami sudah berkeriput parah, dan luka-luka sudah tidak dapat kami rasakan. Gunung Semeru seperti membenamkan kami ke perutnya yang paling dalam.

Gunung Semeru

Pendakian Gunung Semeru

Namun malam panjang yang menakutkan itu akhirnya berganti pagi juga. Dengan tetap ditemani gerimis tebal, kami masih terus menerobos semak-semak untuk melanjutkan perjalanan. Jam sudah menunjukkan angka 11.30 ketika kami sampai di atas bukit. Dan di situlah kami merasakan kelegaan yang luar biasa! Kami melihat jalan setapak! Puji syukur kami panjatkan pada Sang Kuasa. Api semangat kembali tumbuh, harapan kembali datang, dan segala rasa sakit hilang lenyap. Kami pun segera menyusuri jalan setapak itu, meski salah satu temanku mulai sakit karena tidak ada yang kami makan sejak kemarin.

Pada saat hujan sudah berhenti, kami menghadapi kendala lain yang serius. Persediaan air habis! Setelah seharian berjalan, kami merasakan kehausan yang luar biasa. Pada titik inilah temanku sampai meminum air seninya sendiri untuk bertahan hidup! Kami harus terus berjalan meski sadar kami tidak akan mampu bertahan jika harus bermalam lagi. Perbekalan sudah habis, dan tenaga serta semangat kami sudah makin menipis.

Namun, saat kami menjumpai beberapa gubuk tempat berteduh petani, dan juga melihat sampah berupa bungkus plastik bekas, harapan muncul lagi. Ini artinya tak lama sebelumnya jalan ini pernah dilalui penduduk atau pendaki.

Gunung Semeru

Puncak Gunung Semeru adalah Impian

28 Juli 2017 – Jam 16.00 barulah kami menjumpai sebuah kebun penduduk. Dengan harapan ada yang mendengar, kami segera berteriak minta tolong. Betapa gembira tak terlukiskan ketika teriakan kami terjawab! Tapi kami tak bisa mengetahui di mana sumber suaranya. Menit demi menit berlalu, kami merasa seperti menunggu keabadian. Setelah 10 menit tak ada tanda apa-apa, kami kembali berjalan. Baru beberapa langkah, tiba-tiba terdengar deru sepeda motor. Rasa syukur dan leganya bukan kepalang! Ternyata pengendara motor adalah orang yang menjawab teriakan kami tadi. Kami segera dibonceng dan dibawa ke rumah Kepala Desa Tamansatriyan, Tirtoyudo, Kabupaten Malang. Di tempat itu kami juga bertemu dengan tim gabungan SAR TNBTS, yang rupanya sedang bergerak mencari kami.

Setelah beristirahat dan memulihkan tenaga, aku mendengar bahwa salah satu teman yang ikut tersesat ternyata telah memetik bunga eidelweiss di Cemoro Kandang. Entah ini adalah karma buat kami yang telah cacat aturan, atau ini adalah pelajaran atas kesombongan kami? Aku percaya perbuatan itu memiliki andil, hingga kami mengalami pengalaman pahit ini.

Gunung Semeru

Indahnya Sunrise di Gunung Semeru

Sahabat pencinta alam, menggapai dan ‘mengecup’ puncak Gunung Semeru, adalah impian. Tidak hanya bagi kita pecinta alam, tapi bagi para pengejar sunrise dan penyuka selfie pencapaian ini adalah kebanggaan, bahkan bisa dibilang kesombongan tersembunyi. Percaya atau tidak, logis atau misteri, mendaki puncak gunung yang bahasa kerennya adalah summit attack, memiliki aturan tertulis dan tidak tertulis yang harus kita patuhi. Jangan lupa bekali dirimu dengan pengetahuan dasar survival, untuk dapat bertahan di keliaran belantara sana.

Gunung Semeru

Berfoto sebelum tersesat

Aturan tertulis mungkin mudah dipahami dan diamalkan, tapi bagaimana dengan aturan tak tertulis? Ego manusia kadang cenderung meremehkan, merasa jumawa. Namun, alam biasanya memiliki kehendaknya juga. Tetaplah berpijak dan membumi, mencintai dan mematuhi. Semoga dengan pengalaman kami ini, tidak ada lagi pendaki yang cacat aturan, sehingga Gunung Semeru tetap bisa menjadi tempat yang selalu dirindukan dengan segala misterinya.

* Diceritakan oleh: Afandi Panheru (afandiheru23@yahoo.com). Ilustrasi dan foto : koleksi pribadi Afandi Panheru, L. Pudjanarko, Dany Ta Pak

Category: Kelana, UncategorizedTags:
No Response

Leave a reply "Tersesat di Gunung Semeru, Misteri atau Karma?"