Terapung – Puisi Rumi yang Membuka Jiwa

Gonjreng.com Terapung – Puisi Rumi yang Membuka Jiwa

Cinta merenggut seluruh tingkahku
dan mengisiku dengan puisi.

Aku mencoba mengulang-ulang dalam hening,
Tiada kekuatan selain kekuatanmu,
namun aku tak mampu.

Aku harus bertepuk tangan dan menyanyi.
Aku dulu pernah terhormat dan murni dan mapan,
tapi siapa yang bisa tegak dalam badai ini
dan mengingat semua itu?

Gunung memendam gema jauh dalam dirinya.
Begitulah aku menyimpan suaramu.

Aku adalah ranting kecil yang terlempar dalam apimu,
dan dengan cepat hancur menjadi asap.

Aku memandangmu dan menjadi kosong.
Kekosongan ini, jauh lebih indah dari keberadaan,
ia melebur keberadaan, namun saat ia datang,
keberadaan bersemi menciptakan keberadaan lainnya.

Langit biru. Dunia adalah laki-laki buta
yang berjongkok di jalan.

Namun siapa pun yang memandang kekosonganmu
memandang di atas biru dan di atas laki-laki buta itu.

Jiwa besar tersembunyi seperti Muhamad, atau Yesus,
bergerak melewati keramaian di suatu kota,
tanpa dikenali siapa pun.

Memuji adalah memuji
bagaimana seseorang menyerah
pada kekosongan.

Menyanjung matahari adalah menyanjung matamu sendiri.
Sanjunglah, lautan. Kata-kata kita, adalah perahu kecil.

Maka pelayaran ini terus melaju, dan entah ke mana!
Hanya ditopang oleh samudera adalah keberuntungan terbesar
yang kita miliki. Kita dibangunkan!

Mengapa mesti bersedih karena kita telah tertidur?
Tak jadi soal berapa lama kita tak sadar.

Kita grogi, tapi biarkan rasa bersalah itu pergi.
Nikmati saja gerakan-gerakan kelembutan
di sekitarmu, rasa terapung itu.

* Diterjemahkan bebas oleh Laksmi D. Haryanto. Sumber: Buoyancy by Rumi, Ten Poems to Open Your Heart by Roger Housden, Harmony, 2003. Foto: Laksmi D. Haryanto

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *