Telepati, Komunikasi Masa Depan Setelah Ponsel? (Bagian 1)

Telepati
Telepati

Gonjreng.com – Saya pernah mengalami kejadian luar biasa tak terlupakan di Stockholm, Swedia, yang berhubungan dengan telepati, atau kemampuan berkomunikasi antar pikiran. Itu membuat saya memikirkan tentang komunikasi masa depan yang jauh lebih modern dari ponsel, internet, atau satelit – yakni komunikasi di mana manusia tak lagi menggunakan media apa pun untuk mengirimkan pesan, kecuali pikiran. Ya, telepati.

Singkat cerita, saat itu saya berada di stasiun Stockholm yang ramai. Karena terlalu letih dan ingin duduk beristirahat sebentar, saya melepas backpack yang selalu tergantung lekat di punggung. Saya sangat berhati-hati, namun dalam sepersekian detik saya lengah, seseorang menjambret backpack saya, lalu menghilang secepat kilat di antara ratusan manusia di stasiun yang sangat ramai itu. Di hari naas itu saya kehilangan tak hanya sejumlah besar uang, namun juga perhiasan, kamera, kartu kredit dari berbagai bank, surat-surat berharga, dan paspor.

Namun fokus tulisan ini bukanlah pada berbagai kerepotan setelahnya – seperti lapor polisi, memblok kartu kredit, lapor kedutaan, atau mengurus visa baru. Karena luar biasa sedih, hari itu saya melakukan suatu hal yang tidak biasa dan tidak pernah saya lakukan. Saya bereksperimen dengan telepati. Bagaimana cara melakukan telepati? Di keheningan malam, saya duduk bersila, menenangkan diri lewat pernapasan panjang dan teratur, lalu memusatkan semua indera pada satu konsentrasi tinggi. Melalui gelombang semesta saya mengirimkan pesan telepati pada sang pencuri, “Halo, saya relakan semua harta yang hilang. Semoga semua yang berpindahtangan padamu membawa kebaikan lebih besar di tanganmu daripada saat di tanganku. Tapi saya mohon, tolong kembalikan semua surat yang sangat penting untukku, namun yang tidak berguna untukmu. Terima kasih.”

Pesan telepati itu saya kirimkan terus menerus selama empat malam. Dan di hari terakhir, saat saya sedang mengurus perpanjangan visa, tiba-tiba petugasnya berkata, “Ada telepon dari Kedutaan Indonesia. Seseorang mengirimi Anda dompet yang berisi surat-surat penting.”

Ah, apakah telepati benar-benar ada? Semua orang berusaha meyakinkan saya bahwa pengalaman itu hanya kebetulan saja. Telepati adalah omong kosong yang hanya ada dalam kisah fiksi sains belaka. Akhirnya saya pun mulai meragukannya. Sampai suatu hari seorang sahabat tiba-tiba menelepon dengan semangat. “Temanku yang dompetnya kejambret di Ho Chi Minh berhasil melakukannya!” teriaknya. “Ia mengerjakan persis sepertimu. Telepati. Berkomunikasi lewat pikiran. Lalu malamnya sang penjambret menelepon untuk negosiasi.”

Saya terperangah. Dua kali kejadian, bukanlah bukti. Namun entah mengapa, akhir-akhir ini saya juga menemukan banyak tulisan di berbagai media sains seperti Smithsonian dan Yale Scientific, yang mengabarkan: “Scientists Prove that Telepathic Communication is Within Reach“.

BERSAMBUNG

* Laksmi D. Haryanto. Sumber foto: onlinemba.com

Category: HakikatTags:
No Response

Leave a reply "Telepati, Komunikasi Masa Depan Setelah Ponsel? (Bagian 1)"