Telepati, Komunikasi Masa Depan Setelah Ponsel? (Bagian 2)

Telepati
Telepati

Gonjreng.com – Pernahkah Anda mengalami, saat Anda sedang memikirkan seseorang, tiba-tiba orang tersebut menelepon Anda? Pernah? Ya, besar kemungkinan Anda pernah mengalami fenomena ‘telepon telepati’. Sebuah penelitian yang dilakukan oleh ilmuwan biologi Rupert Sheldrake membuktikan bahwa lebih dari 80 persen populasi manusia ternyata pernah mengalami fenomena seperti itu. Selain ‘telepon telepati’, ternyata komunikasi antar pikiran juga sering terdeteksi di antara orangtua dengan anak, antara saudara kandung, atau antara mereka yang memiliki hubungan erat. Apakah telepati ini sesuatu yang nyata? Apakah telepati bisa menjadi komunikasi masa depan yang canggih, setelah ponsel?

Meski sudah ratusan tahun para ilmuwan berusaha melakukan penelitian tentang komunikasi antar pikiran, secara umum telepati masih dianggap tidak ilmiah, lebih pada kebetulan belaka, atau bahkan bersifat paranormal. Terobosan penelitian penting pertama baru dilakukan pada tahun 1937 oleh seorang penjelajah kelahiran Australia, Sir Hubert Wilkins, bersama Harold Sherman, seorang penulis kenamaan Amerika. Selama penelitian yang berlangsung lima bulan itu, Wilkins berada di tempat yang jauh sekali di wilayah Kutub Utara. Sambil melakukan penelitian ia membantu pencarian sebuah kapal Rusia yang hilang di perairan Arktik. Selama itu Sherman yang berada di New York ditugaskan melakukan telepati secara berkala untuk mendeteksi aktivitas apa saja yang dilakukan oleh Wilkins. Ternyata hasilnya menakjubkan. Sherman berhasil menangkap apa-apa saja yang dialami Wilkins dalam pengembaraannya di wilayah Kutub Utara, bahkan ia dapat menulis tepat posisi bujur dan lintang di mana Wilkins berada di perairan Arktik.

Namun terobosan baru yang menghebohkan terjadi tahun lalu, ketika seseorang di India bisa mengucapkan “hola” dan “ciao” pada tiga orang lain di Perancis. Tentu saja dengan teknologi modern seperti telepon, internet, dan satelit – mungkin Anda berpikir, apa istimewanya mengucapkan “halo” pada seseorang di ujung dunia? Keistimewaannya adalah, salam itu dikirimkan melalui pikiran. Penelitian yang dilakukan oleh Starlab, Axilum Robotics, dan Harvard Medical School itu berhasil mengirimkan pesan dalam kode binary dengan menggunakan EEG (electroencephalography) yang dipasangkan di kepala sang pengirim, dan TMS (transcranial magnetic stimulation) – sebuah sistem non-invasive yang merangsang neurons di otak, yang dipasang di kepala sang penerima. Sang penerima yang ditutup matanya namun distimuli otaknya, berhasil menangkap pesan-pesan binary dalam kilasan-kilasan cahaya.

Kabar gembira lain adalah, dalam waktu dekat sebuah alat microelectrodes seukuran pil aspirin akan bisa ditransplantasikan di otak. Transplantasi ini akan membantu penyandang cacat yang tak bisa menggunakan tangan dan kakinya. Dengan transplantasi itu, otak mereka bisa langsung menginstruksi perintah-perintah melalui komputer. Komunikasi masa depan telah menanti. Selamat datang, telepati.

* Laksmi D. Haryanto. Sumber: Harvard Medicine, Smithsonian, The Telegraph, Wake-Up World, Yale Scientific. Sumber foto: greatist.com

Category: HakikatTags:
No Response

Leave a reply "Telepati, Komunikasi Masa Depan Setelah Ponsel? (Bagian 2)"