Akhirnya Berbondong Ber-Tax Amnesty! (Bagian 2)

Tax Amnesty
Tax Amnesty

Gonjreng.com – Apa yang menyebabkan masyarakat berbondong ber-tax amnesty di akhir September 2016? Mengapa hanya dalam sebulan ini uang tebusan bisa melonjak pesat dari Rp 2,42 triliun menjadi Rp 69,9 triliun?

Salah satu pemicunya karena mulai banyaknya nama-nama konglomerat yang muncul berpartisipasi dalam program pengampunan pajak ini. Setelah taipan pemilik Grup Lippo James Riady dan mantan ketua APINDO Sofjan Wanandi melaporkan harta kekayaan mereka, pengusaha nasional kakak beradik Erick Thohir dan Boy Garibaldi Thohir pun ikut melaporkan harta kekayaan mereka yang berada di luar negeri.

Kemudian Hutama Mandala Putra alias Tommy Soeharto, putra mantan presiden Indonesia, Soeharto, tak hanya mengungkapkan hartanya di kantor pajak, namun juga meyakinkan bahwa saudara-saudara kandungnya juga akan mengikuti langkahnya dalam program pengampunan pajak ini. Meski banyak orang dengan skeptis mengasumsikan langkah Tommy ini adalah upaya pembersihan diri dalam rangka melangkah ke bursa calon presiden Indonesia, namun menurut Tommy repatriasi ini diharapkan bisa memudahkannya mengembangkan proyek-proyek di Indonesia.

Menurut Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, tarif uang tebusan program pengampunan pajak di Indonesia sangat rendah. Namun banyak pengusaha seolah tak ingin ketinggalan untuk mendapatkan tarif tebusan termurah 2 persen di periode 1 yang berlaku hingga akhir September 2016, serta ingin menghindari kenaikan tarif di periode Oktober – Desember 2016, yakni sebesar 3 persen dan 6 persen.

Lalu, jika kira-kira kita bisa menduga motif para taipan dalam melakukan amnesti pajak, lantas apa motif masyarakat kecil dan menengah yang ikut berbondong-bondong ber-tax amnesty di akhir September ini?

“Saya tidak mau diobrak-abrik di kemudian hari,” ujar Pak Edi yang baru saja mengakhiri konsultasi di Help Desk Kantor Pajak di Jakarta Selatan. “Sekarang ini kebetulan pemerintahan sedang dipegang oleh pimpinan yang relatif bersih, jadi terasa baik-baik. Tetapi di kemudian hari, jika pemerintahan kebetulan dikuasai oleh rejim kotor dan petugas pajaknya tidak terkendali, saya ingin semua catatan saya bersih, sehingga mereka tidak bisa mencari-cari kesalahan.”

Terhadap pertanyaan yang sama, seorang ibu di kantor pajak yang sama menjawab, “Saya ingin melakukan kewajiban saya sebagai warga negara yang baik.” Tentu yang terakhir ini jawaban yang politically correct – meski dasarnya bisa saja berupa rasa khawatir akan dipersulit petugas pajak di kemudian hari.

Bagi Pemerintah sendiri, seperti yang diungkapkan Sri Mulyani, yang paling berharga dari program ini adalah data basis pajak yang semakin tepat. Deklarasi ekonomi yang semula tidak terekam menjadi terlacak, sehingga membuat ekonomi Indonesia lebih formal serta mampu menciptakan fondasi ekonomi lebih kuat. “Saya bukan ingin mengejar-ngejar, tetapi data yang tepat akan mambantu pengusaha membuat perencanaan yang tepat dan membantu Pemerintah membuat kebijakan yang tepat.”

SELESAI

* Laksmi D. Haryanto, dari berbagai sumber. Sumber ilustrasi: maxpixel.

Category: PelangiTags: