Tari Caci, Simbol Kejantanan Lelaki Manggarai

Tari Caci, Simbol Kejantanan Lelaki Manggarai

Gonjreng.com – “Ibu-ibu beruntung! Di depan sedang ada tari Caci. Ayo kita lihat!” seru pemandu wisata kami dengan semangat. Saat itu aku dan dua orang teman sedang dalam perjalanan menyusuri pulau Flores, dari kota Ende hingga Labuan Bajo di Nusa Tenggara Timur. Kami tiba di Manggarai untuk makan siang, sebelum melanjutkan perjalanan ke Labuan bajo. Saat sedang menunggu makan itulah perhatian kami tertarik pada keramaian di seberang jalan.

Maka kami pun bergabung dalam kerumunan. Kami berusaha mencari posisi terdepan agar bisa menonton tarian khas Manggarai ini dengan seksama. Di tengah keramaian kulihat dua kelompok lelaki sedang berdiri berhadap-hadapanan. Mereka bertelanjang dada, mengenakan hiasan kepala berwarna-warni yang tinggi, lengkap dengan bulu-bulu. Kostum mereka menarik. Celana panjang putih yang dilapisi tenun Manggarai berwarna hitam menyatu dengan berbagai hiasan logam yang melingkari pinggang mereka. Sungguh meriah! Mereka membawa semacam perisai dan cambuk dengan gagang rotan yang panjang.

Tidak berapa lama, satu orang dari tiap kelompok maju ke depan. Awalnya mereka menari seperti saling menantang, kemudian mereka mulai saling menyerang dengan cambuk mereka. Menyambuk dengan sungguh-sungguh! Bila yang satu menyerang, lawannya berusaha mengelak dan melindungi tubuh dengan perisai. Namun setelah 5 menit, mereka dipisahkan untuk saling bersalaman dan berangkulan. Demikianlah satu persatu wakil kelompok bertarung, berganti-gantian dalam menyerang dan bertahan. Sungguh merupakan tarian simbol kejantanan lelaki Manggarai!

Kejantanan
Kejantanan

Terus terang aku tegang melihatnya. Bayangan betapa sakitnya terkena cambuk membuatku ngeri. Penonton di sebelahku menjelaskan bahwa yang boleh dicambuk hanya lengan, punggung, dan dada saja. Sedang hiasan di kepala mereka yang terbuat dari tanduk kerbau berfungsi sebagai pelindung. Cambuknya sendiri terbuat dari kulit kerbau atau sapi yang dikeringkan. Bisa dibayangkan betapa perihnya jika cambuk itu menyentuh kulit! Tarian Caci biasa dipentaskan saat pesta setelah panen, tahun baru, atau saat seperti waktu kutonton – peresmian rumah adat.

Selain untuk ritual adat, tarian ini juga dipakai oleh para lelaki Manggarai untuk menunjukkan kejantanan mereka. Ketangkasan dan keberanian para lelaki dikemas dalam ritual adat dan seni, walau tak jarang membuat tubuh penari berdarah-darah akibat terkena cambuk. Meski demikian, di akhir tarian kedua kelompok selalu akan saling bersalaman. Tidak ada rasa dendam di antara mereka. Jadi tarian ini juga menunjukkan sifat ksatria dan sportivitas.

Hmm… sungguh aku merasa sangat beruntung bisa menyaksikan tarian unik yang penuh kejantanan ini. Suasana yang meriah dari pendukung kedua kelompok pun menghangatkan hatiku. Indonesia memang kaya akan kesenian yang sarat dengan kearifan lokal yang penuh pesan moral.

* Darmayani Utami. Sumber foto: www.merdeka.com dan koleksi pribadi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *