Keluarga Pelangi ke Pulau Pari (Bagian 3)

2 236
Keluarga Pelangi ke Pulau Pari (Bagian 3)
Keluarga Pelangi ke Pulau Pari (Bagian 3)

Keluarga Pelangi ke Pulau Pari (Bagian 3)

Gonjreng.com – Pada masa lalu sebenarnya pulau Pari merupakan daerah pertanian yang subur, baik di darat maupun di laut. Keberhasilan budidaya rumput laut yang mencapai puncak di tahun 1995, menyebabkan banyak orang berduyun-duyun datang dan menetap. Tetapi sejak tahun-tahun terakhir ini, semua itu mati. Kematian itu disebabkan oleh industrialisasi di pesisir utara sepanjang Jakarta – Tangerang yang tak terkontrol. Limbah-limbah industri yang mengalir ke sungai-sungai, bermuara di laut, kemudian terbawa ke Kepulauan Seribu, telah menyebabkan pencemaran dan mematikan banyak biota laut. Hilangnya mata pencaharian itu menyebabkan penduduk pulau harus “banting stir”.

Ah. Ini secuil cerita tak indah di balik keindahan liburan di pulau Pari. Berita baiknya adalah, pulau Pari saat ini dapat menarik sedikitnya 500 hingga 800 pengunjung di setiap akhir pekannya. Ekowisata inilah yang menghidupi penduduk pulau ini.

pari13Selama dua hari satu malam, banyak yang telah kami nikmati disana – antara lain bersepeda keliling pulau sambil sesekali berhenti dan berfoto di tempat-tempat indah, ber-snorkeling dan diving menikmati terumbu karang dan biota laut, dan merasakan adrenalin yang menderas di atas banana boat dan sofa boat di lautan lepas yang ditarik oleh speedboat dengan kecepatan tinggi.

pari11Kami juga menyanyi dan menari bersama di tepi laut di malam hari dengan perlengkapan karaoke sederhana yang ber-speaker raksasa. Bermain volley dan makan seafood panggang di tepi laut di malam hari sambil memandangi bintang menimbulkan sensasi tersendiri. Sunset dan sunrise keduanya ada di sini. Menikmati sinar keemasan matahari yang mulai tenggelam di ufuk barat, juga menanti semburat merah sang surya yang akan mucul lagi di ufuk timur – bukankah semua ini adalah kekayaan yang tiada taranya?

pari12Lalu, cerita teman-teman yang lucu-lucu tentang ponsel yang kecemplung WC karena tidak terbiasa dengan WC jongkok, atau tentang teman yang terjatuh dari sepeda reot yang susah dibelokkan, tentang mereka yang pucat pasi sehabis naik sofa boat berkecepatan tinggi, tentang listrik rumah yang padam karena beramai-ramai mengeringkan rambut  dengan hair-dryer ribuan watt, tentang azan subuh yang “berbeda” yang menyebabkan kami terlambat ke mesjid, tentang baywatcher sejati yang menolong teman yang akan tenggelam, tentang diare misterius pada beberapa teman yang tak ketahuan penyebabnya, tentang makan bersama yang lezat di restoran Bandar Djakarta Ancol, tentang teman kami yang terpaksa digotong ambulan ke rumah sakit karena terlalu lelah, dan tentang teman dokter kami yang melupakan sakitnya karena harus menolong teman yang sakit lainnya – bukankah semua ini adalah kekayaan yang tiada tara?

Semua itu adalah bagian dari kenangan indah kami di Pulau Pari yang tak akan terlupakan.

SELESAI

* Laksmi D. Haryanto. Foto: koleksi pribadi.

Category: KelanaTags:
2 Responses
  1. author

    Dewa Laut Jakarta3 years ago

    Saya suka gaya penuturan berceritanya. Thumbs up

    Reply
    • author

      Laksmi3 years ago

      Terima kasih atas kunjungannya.

      Reply

Leave a reply "Keluarga Pelangi ke Pulau Pari (Bagian 3)"