Simulacrum Mukidi di Cyberspace

Gonjreng.com – Belakangan Mukidi mendadak viral, menebarkan “virus” di cyberspace atau media sosial. Baik gambar, foto, pun anekdot. Semua merujuk kepada Mukidi. Siapa Mukidi? Banyak pengguna medsos dari Facebook, WhatsApp, Line, Telegram, penasaran dengan Mukidi. Bahkan sejumlah portal berita maupun media televisi mengangkat fenomena Mukidi. Hanya dalam du hari, Mukidi menjadi center of the news.

Dalam suatu blog, dikisahkan Mukidi asal Cilacap sebagai orang biasa. Ia mudah akrab dengan siapa saja. Istrinya bernama Markonah. Dua anaknya masing-masing bernama Mukirin (remaja) dan Mukiran masih SD. Hanya secuil kisah tentang Mukidi dan keluarganya, tanpa identitas yang jelas dan tak ada foto dirinya. Akhirnya, Mukidi bisa menjelma menjadi siapa saja dan bisa berada di mana saja. Mukidi bisa dijumpai dalam bentuk foto, gambar kartun, anekdot, bahkan iklan kopi. Itulah Mukidi.

Mukidi merupakan fenomena komunikasi di ranah virtual. Mukidi berada dalam benak para pengguna cyberspace. Cyberspace adalah ruang artifisial hasil konstruksi teknologis, yang di dalamnya ada relasi kompleks antara tanda dan realitas.

Secara konvensional tanda menjelaskan relasi antara sesuatu yang menandakan (penanda) dan sesuatu yang ditandai (realitas). Namun tanda di dalam cyberspace melampui batas realitas itu. Cyberspace memungkinkan situasi bagaimana tanda tidak memiliki sama sekali relasi alamiah dan subtansial dengan realitas.

Tanda dibangun berdasarkan produksi mandiri dari dan untuk dirinya sendiri (self production system) – inilah tanda artifisial. Mukidi adalah tanda, yang telah dikonversi oleh pengguna media sosial sebagai simbol. Simbol wong ndeso, yang siap di-bully, ditertawakan, atau dibuat lelucon. Mukidi tidak akan marah atau menuntut. Sebab, Mukidi sebuah simulacrum. Meminjam istilah Jean Baudrillard, simulacrum adalah sebuah duplikasi dari duplikasi, yang aslinya tidak pernah ada, sehingga perbedaan antara duplikasi dan asli menjadi kabur.

Media sosial memiliki karakter sebagai medium berlangsungnya masyarakat di dunia virtual. Realitas di dalam media sosial menjadi semu. Kesadaran yang real di benak para pengguna akan berkurang dan tergantikan dengan realitas semu. Kondisi ini disebabkan oleh imaji yang disajikan media secara kontinyu.

Popularitas Mukidi sulit dibendung. Penyebaran (sharing) merupakan karakter dari media sosial. Medium ini tidak hanya menghasilkan konten yang dibangun dari dan dikonsumsi penggunanya, tetapi juga didistribusikan sekaligus dikembangkan penggunanya.
Sebagai nama maupun sosok, Mukidi diserbarkan melalui foto, gambar, maupun teks. Semua mengacu sesuatu yang lucu. Namun dengan bergulirnya waktu, Mukidi akan dilupakan, seperti Jayus yang pernah popular beberapa tahun silam.

* Ius Artanto. Sumber referensi: Yasraf A. Piliang Pos-Realitas, Rulli Nasrullah Media Sosial, Y. Benkler Sharing Nicely. In Social Media Reader, M. Cross Bloggerati, Twitterati: How Blogs and Twitter are Transforming Popular Culture (2011). Sumber gambar: WhatsApp.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *