Sie Jin Kwie Teater Koma

Gonjreng.com – Di pementasan Teater Koma ‘Sie Jin Kwie Melawan Siluman Barat’ kemarin, ada satu momen yang menggugahku saat Hwan Lie Hoa, sang panglima perang perempuan dari Kerajaan Tang bertanya pada dewa, “Aku ingin tahu, apakah perjalananku ini diberkati Langit? Perjuanganku kali ini sangat berat dan panjang.”

Satu pertanyaan sederhana itu tiba-tiba mampu mengubah seluruh perspektifku terhadap esensi pementasan ‘Sie Jin Kwie Melawan Siluman Barat’, produksi ke-150 Teater Koma yang digelar di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, 10 – 19 November 2017.

Ini adalah bagian penutup, menyusul pementasan trilogi Sie Jin Kwie lima tahun lalu. Pementasan ini mengisahkan tentang perjuangan menantu perempuan Sie Jin Kwie, Jendral Hwan Lie Hoa, dalam peperangannya melawan Kerajaan Tartar Barat  yang kuat, yang dilindungi oleh para siluman.

Pesan apa yang dibawa oleh Teater Koma, khususnya oleh N. Riantiarno, sebagai penyadur dan sutradara? Apakah Indonesia juga sedang melawan para siluman? Dan, apakah Indonesia diberkati Sang Langit?

Sie Jin Kwie Melawan Siluman Barat
Anak dan Menantu Sie Jin Kwie dalam Perang

“Pada pementasan ini, kami tidak akan mengritik pemerintah, biarpun korupsi tetap dilakukan,” tulis N. Riantiarno dalam buku panduan pementasan ‘Sie Jin Kwie Melawan Siluman Barat’ yang dibagikan pada seluruh penonton. “Kebrutalan politik dan hal-hal yang sering dipakai agar lawan politik kalah, juga tidak kami bahas dalam lakon. Kami berusaha agar lakon ini dilakukan dengan bagus, menarik, dan bermakna.”

Benarkah? Ah, Teater Koma bukan Teater Koma jika tak mampu menyelipkan canda-tawa politik sebagai rempah-rempah dalam pagelarannya. Pada kenyataannya, Budi Ros, sang dalang yang jenaka selalu mampu mengundang derai tawa penonton tiap kali ia menyelipkan guyonan di balik panggung wayangnya. Contohnya: “Meikarta itu bukan bagianmu. Itu bagiannya ‘Papa Minta Saham’.

Grrrr. Penonton pun cekikikan. Pertunjukan yang dikemas dalam perbauran antara Drama, Potehi, Wayang Kulit Cina Jawa, Wayang Tavip, Opera Cina, Wayang Golek Menak, dan Wayang Wong itu pun terasa renyah dan gurih.

Sie Jin Kwie dalam Layar Wayang

Sie Jin Kwie atau Xue Rengui adalah seorang jendral besar yang hidup di abad 7, di masa awal Dinasti Tang, Cina. Kisah-kisah kepahlawanannya yang menjadi tutur-tinular di kalangan rakyat, akhirnya ditulis oleh Tio Keng Jian, penulis abad 13, di zaman Dinasti Yuan. Kisah itu kemudian diedit oleh Luo Guanzhong, sang penulis epos terkenal Sam Kok, yang hidup pada masa Dinasti Ming (abad 14 – 17). Kisah Sie Jin Kwie ini akhirnya jadi kisah klasik yang terkenal di seluruh dunia, termasuk di Indonesia.

Sie Jin Kwie menemui ajalnya saat melawan Yo Hoan, mantan tunangan menantunya, Hwan Lie Hoa, di suatu pertempuran. Di pagelaran penutup ini, sang anak dan sang menantu, Sie Teng San dan Hwan Lie Hoa, yang ditugasi oleh raja Tang untuk mengalahkan Tartar Barat, kembali bertempur melawan musuh-musuh almarhum Sie Jin Kwie yang tangguh. Apakah mereka bisa menang?

Prajurit Tang dalam Sie Jin Kwie
Prajurit Tang dalam Sie Jin Kwie

“Yang dilawan oleh Hwan Lie Hoa dan pasukannya adalah para siluman,” ungkap N. Riantiarno dalam tulisannya ‘Sie Jin Kwie, Batik dan Perang’. “Sebagian besar pimpinan di Tartar Barat bisa mengubah dirinya menjadi kepala tiga dan tangan enam. Bahkan penghuni langit pun, biasanya berupa binatang, ikut membantu manusia bumi. Entah mengapa, mereka sangat simpati kepada Tartar Barat.”

Meski N. Riantiarno mengaku pertunjukan kali ini jauh dari pesan-pesan politik, toh di sudut tulisannya terbersit juga sebuah tanya penuh makna, “Mungkin yang sekarang kita lawan adalah siluman juga. Siluman yang nampak seakan-akan seperti manusia, tapi sebetulnya siluman. Kenapa? Karena yang mereka lahap adalah hak milik rakyat jelata. Mereka yang hanya bisa melihat tapi tak sanggup berbuat apa-apa, diam saja. Apa betul yang kita lawan sekarang ini adalah siluman? Benarkah mereka siluman?”

Tanya itu tetap terbersit hingga di akhir pertunjukan. Kembali Teater Koma menyuguhkan tak hanya sebuah pagelaran budaya yang ciamik, namun juga pekerjaan rumah untuk kita semua: “Apakah Indonesia diberkati oleh Sang Langit?”

Jawabannya adalah tanggung jawab kita bersama.

* Sumber foto: buklet Teater Koma ‘Sie Jin Kwie Melawan Siluman Barat’, dan koleksi pribadi

Sila Komentar

Sila Tinggalkan Komentar Anda
Masukkan Nama Anda di Sini

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.