Radio Lawas Sampai Saat Ini Masih Dicintai!

Radio Lawas Sampai Saat Ini Masih Dicintai!

Gonjreng.com – Tahun 1901, Guglielmo Marconi mengirim sinyal komunikasi radio menggunakan gelombang elektromagnet, dan sinyal radionya berhasil melintasi Samudra Atlantik dari Inggris ke Newfoundland, Canada.

Dunia pun mencatatnya sebagai penemu radio.

Jutaan radio sudah dihasilkan oleh berbagai pabrikan seperti: Marconi, HMV, PYE, Portadyne, General Radio, Philips, Sony, Sharp, Nasional, Panasonic, dan masih banyak lagi. Sebagian besar pabrikan tersebut terpaksa tutup dengan berkembangnya teknologi transistor dan digital.

Pabrikan yang disebut diawal adalah pabrikan pembuat radio tabung paling handal di masanya. Sampai sekarang masih banyak para penyuka radio lawas (Vintage), baik di luar negeri maupun di Indonesia.

Di London, ada kumpulan penyuka Radio Lawas bernama British Vintage Wireless Society (BVWS) yang anggotanya lebih dari 1200 orang, dan tersebar di seluruh dunia. Mereka berbagi pengadaan spare-parts, service, pendataan dan rekonstruksi.

BVWS memiliki koleksi radio Vintage lebih dari 4000 buah yang disimpan di Museum Radio, London. Mereka juga mengeluarkan quaterly bulettin bagi anggota dan penggemar lainnya, serta mengadakan pertemuan rutin tiap 6 bulan.

Di Indonesia, penyukanya cukup banyak, tapi sayang belum terkoordinasi dengan baik, sehingga radio lawas hanya menjadi pajangan.

Sulitnya menemukan spare-parts asli membuat banyak radio lawas berubah menjadi radio transistor atau digital biasa, tapi dengan bentuk radio lawas.

Salah satu wadah Vintage adalah Padmaditya di Yogjakarta. Selain sering mengadakan pameran, juga berbagi pengalaman, namun masih belum banyak peminatnya.

Bagi penyuka radio lawas ada beberapa tips agar radio anda tetap enak didengar dan dinikmati, antara lain sebagai berikut:

1. Bersihkan secara rutin dengan menggunakan kain flanel yang lembut, karena radio lawas biasanya terbuat dari kayu oak, pinus dan bakelite.

2. Radio lawas tidak dibuat untuk nyala dalam jangka waktu lama, karena pada masanya siaran radio hanya 4 sampai 10 jam saja. Jika terlalu lama berakibat radio menjadi panas yang memengaruhi komponen resistor, capasitor, koil, dan transformernya.

3. Jarak antara radio ke dinding minimal 20 cm, agar radio tetap bernapas, dan sirkulasi udaranya berjalan lancar. Selain itu letakkan radio di tempat yang kering dan jauh dari kelembaban.

4. Rutin menyalakan radio selama 30 menit  hingga 4 jam sehari. Radio lawas yang dibiarkan mati sepanjang tahun akan merusak komponennya.

5. Jangan perlakukan kasar seperti perangkat modern, karena radio tabung setidaknya membutuhkan waktu 10-20 detik agar listrik terkumpul di elco perata dan menyalakan filamen tabung.

6. Cara menyimpan radio, yaitu bungkus radio yang sudah bersih dengan plastik, kemudian masukkan ke dalam kardus, dan beri silica gel. Jangan diletakkan di lantai, agar radio anda tidak menjadi lembab.

* Witdya Pudjanarko (BVWS’s member No. 6104 dan anggota Padmaditya). Sumber gambar: pixabay.com.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *