Kawah Ijen
Kawah Ijen

Gonjreng.com – Blue fire atau Api Biru Kawah Ijen yang indah merupakan salah satu fenomena alam langka di dunia. Tak sedikit pendaki gunung yang rela meninggalkan jam tidurnya di malam hari untuk mendaki, agar bisa melihat Api Biru Kawah Ijen yang terkenal itu. Dinginnya malam dan jalur pendakian yang menanjak terus sangat menguras tenaga. Setelah sampai di bibir kawah pendaki masih harus menuruni kawah untuk mendekati danau kawah agar dapat menyaksikan si cantik blue fire. Terkadang kabut menutup pandangan ke arah danau kawah sehingga blue fire pun tak tampak dari bibir kawah.

Menuruni Kawah Ijen di kegelapan malam dengan hanya diterangi head lamp atau lampu sorot yang diikat di kepala adalah perjuangan berikutnya. Diperlukan stamina kuat dan kehati-hatian luar biasa untuk melalui jalur sepanjang 1,5 kilometer yang terdiri dari bebatuan. Apabila terpeleset dapat berakibat fatal. Asap belerang yang terkadang pekat juga berbahaya.

Namun usaha keras para pendaki akan terbayar oleh keindahan blue fire. Setelah matahari terbitpemandangan lereng pegunungan Ijen yang diselimuti kabut juga sangat indah dan mistikal.

Namun untuk para penambang belerang di Gunung Ijen, pendakian adalah pekerjaan sehari-hari mereka. Untuk mengambil belerang dari kawah, mereka harus membawa naik keranjang yang sudah penuh oleh belerang ke bibir kawah, melewati jalur berbatu, dan terkadang berkejaran dengan asap. Setelah itu mereka harus memanggul keranjang itu sejauh 3 kilometer menuruni lereng gunung menuju ke tempat penimbangan di sekitar Paltuding, pos pendakian pertama.

Kawah Ijen
Kawah Ijen

Apabila mampu dan cuaca mengijinkan, dalam sehari penambang melakukan dua kali perjalanan pengambilan belerang. Sekali jalan mereka dapat mengangkut 85 kilogram belerang senilai Rp 60.000. Apabila mereka bisa melakukan 2 kali pengambilan maka dalam sehari mereka dapat membawa pulang Rp 120.000.

Aku sempat terkaget-kaget mendengar nilai nominal itu ketika berbincang dengan penambang, saat berjalan kembali ke Paltuding. Terbayang medan yang harus mereka tempuh untuk memikul 2 keranjang belerang seberat 85 kilogram dari kawah sampai ke pos penimbangan. Terkadang cuaca yang tak bersahabat membuat asap belerang terkurung dan terhirup sehingga mereka  mengalami keracunan yang dapat berakibat fatal. Namun keherananku berganti dengan rasa kagum saat salah seorang penambang itu berkata, “Dari pada kami mencuri, lebih baik begini.”

Di sepanjang jalur pendakian, terdapat ukiran-ukiran belerang yang dijual para penambang. Mengukir batu belerang adalah kemahiran tambahan yang mereka manfaatkan agar bisa menambah pendapatan. Sungguh, perjalanan ini membuka mata hatiku. Allah selalu memelihara mahluk-Nya dengan cara-Nya. Dengan penghasilan Rp 120.000 yang belum tentu bisa tiap hari mereka dapatkan, hingga kini para penambang dan keluarganya masih bisa bertahan hidup.

* Nina Adriani. Sumber foto: pixabay.com.

Sila Komentar

Sila Tinggalkan Komentar Anda
Masukkan Nama Anda di Sini

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.