Pemerintahan Jokowi Dikritik dan Dikritik Lagi

Gonjreng.com – Pemerintahan Jokowi dikritik, bukanlah hal yang menakjubkan sebenarnya, biasa saja. 

Ketika pemerintahan Soeharto atau Orde Baru masih berkuasa, kritik dianggap hal yang tabu. Tak heran jika banyak “Media Plat Merah” waktu itu.

Maksudnya “Media Plat Merah” adalah media yang cenderung memuji dan memberitakan tentang keberhasilan pemerintahan Soeharto (Orde Baru).

Cukup mengherankan jika masih ada blog, blog jurnalis atau media apalah namanya berkelakuan seperti “Media Plat Merah” dengan alasan yang cenderung dicari-cari, misalnya “demi kenyamanan”, “demi ketenteraman”, “demi manfaat bagi banyak orang”, dan demi-demi lainnya. 

“Tulisan penjilat” pun cenderung lebih dihargai atau mendapat posisi terhormat. Namun di sisi lain, harap maklum, karena dikelola “sekumpulan manusia amatir” yang tidak tahu dan memahami arti demokrasi. Mungkin ketika masa jaya pemerintahan Soeharto belum lahir atau masih anak kecil.

Tapi bukankah sejarah bisa dipelajari? 

Bukankah ada istilah “jas merah”, jangan sekali-kali melupakan sejarah?

Ya, tapi kalau memang pada dasarnya malas belajar sejarah, mau bilang apa? Semakin miris jika di baliknya ada alasan “demi dapur tetap mengebul”.

Masa “Media Plat Merah” berakhir dengan datangnya era Reformasi. Seharusnya tidak ada lagi pihak yang merengek-rengek dan mengatakan selama ini kebebasan pers dibungkam dan terkukung.

Kritik dianggap tabu pada masa pemerintahan Soeharto, tapi Habibie yang tampil sebagai presiden menggantikan “guru besar politik”- nya berkoar membebaskan rakyat berbicara dan mengeluarkan pendapat, padahal pemerintahan Habibie mendapat “hadiah” dari pendukung Reformasi, bukan hasil karyanya kebebasan berbicara tadi. 

Memangnya Habibie pernah mendukung kebebasan berbicara dan mengeluarkan pendapat saat menjabat wakil presiden selama kurun waktu lima tahun?

Pemerintahan Habibie relatif berjalan singkat, tapi itupun tak lepas dari kritik. Presiden berikutnya Gus Dur pun demikian, bahkan bukan hanya kritik, juga cacian, makian, dan hinaan. Menurut ekonom senior dan mantan aktivis mahasiswa Rizal Ramli, terbilang brutal hinaan yang ditujukan kepada Habibie, Gus Dur dan SBY saat masih menjabat presiden.

Sila baca juga: Jokowi Dihantam Kritik yang Tajam dan Menyengat!

Kini pemerintahan Jokowi yang berkuasa dan sudah memasuki periode kedua. 

Pandemi virus corona (Covid-19) datang, pemerintahan Jokowi dikritik lamban dalam penanganan virus maut tadi.

Bukan hanya sekali pemerintahan Jokowi dikritik, tapi berkali-kali, lalu muncul telegram Kapolri Idham Azis. Salah satu poin dari telegram tadi berkait dengan penindakan hukum terhadap penghina presiden dan pejabat negara dalam situasi pandemi virus corona saat ini.

Pemerintahan Jokowi dikritik SBY. Menurutnya, isu penghinaan terhadap presiden ini klasik, tidak ada yang luar biasa, bahkan bisa mempermalukan Indonesia di mata dunia internasional. 

Sila baca: Penghina Presiden dan SBY yang Bijaksana.

Pemerintahan Jokowi dikritik lagi oleh politikus Partai Demokrat lainnya.

Polri jangan mengintimidasi masyarakat terkait aturan penghinaan presiden dan pejabat dalam penanganan virus corona (Covid-19). Sebaiknya Polri tetap fokus menegakkan hukum seperti biasa, kata Wakil Ketua Fraksi Partai Demokrat DPR RI Didik Mukrianto. 

“Penegakan hukum tidak boleh dilakukan dengan basis intimidatif dan menimbulkan nuansa kebatinan ketertekanan masyarakat terhadap penegak hukum. Apalagi kebebasan yang bertanggung jawab adalah hak setiap warga negara,” katanya di sini.

Pemerintahan Jokowi dikritik SBY sehubungan telegram Kapolri Idham Azis.

Tak lama kemudian pemerintahan Jokowi dikritik lagi oleh politikus Partai Demokrat.

Luar biasa?

Ah tidak, biasa saja.

Ingat kata Rizal Ramli tadi. Habibie, Gus Dur, dan SBY pernah dihantam kritik mulai yang faktual hingga asal kritik, juga hinaan bersifat fisik yang luar biasa brutal, vulgar dan masif, tapi para presiden itu tidak asal menangkap orang-orang yang mengkritik, bahkan mencaci dan menghinanya. 

Biasa saja.

***

Sumber gambar: kompas.com.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *