Payung Hias Juwiring, Fantasi, dan Geulis yang Menawan

Payung Hias
Payung Hias

Gonjreng.com – Di tanah Jawa, payung (termasuk payung hias) memiliki akar sejarah yang cukup panjang. Fungsinya mulai dari sebagai peneduh, penghindar hujan, pelengkap upacara keagamaan, hingga bertransformasi sebagai simbol kebangsawanan.

Jenisnya pun beraneka dengan warna dan corak yang indah. Tidak hanya hadir saat musim hujan saja, tapi sering juga dijadikan sebagai penghias di depan pintu gerbang atau di tempat-tempat ibadah seperti pura atau klenteng.

Payung hias ini biasanya terbuat dari kertas atau kain dengan lukisan tangan yang indah dan bersusun, atau dikenal dengan nama payung fantasi, payung hias Juwiring, payung lukis, atau payung geulis Tasikmalaya.

Payung hias

Payung Hias Nan Cantik

Di Banyumas, tepatnya di Kalibagor, saat ini para pengrajin payung hias mulai menggeliat lagi setelah beberapa waktu lalu pernah mati suri, karena payung tradisional ini dominan dengan warna gelap dan horor yang identik dengan payung kematian. Kesan ini menyebabkan penjualan payung kertas Kalibagor pun turun drastis.

Ketika payung kertas mulai dimanfaatkan sebagai penghias kota saat acara berskala besar, mulailah para pengrajin kembali mendapat pesanan untuk membuatnya, tapi tidak lagi menggunakan warna standar tadi, melainkan lebih beraneka, dan juga eye catching.

Di Jawa Barat, Tasikmalaya merupakan produsen payung kertas hias atau payung geulis (bahasa Sunda). Pemakaian nama geulis ini karena kertas bekas bungkus semen yang ditempel pada kerangka bambu dilukis dengan indah.

Pada awal abad 20, payung geulis merupakan aksesori para pejabat daerah, para noni Belanda dan mojang Tasikmalaya. Berdasarkan catatan Encyclopaedie van Netherlandsch-Indie (1939), Tasikmalaya menggantungkan ekonominya pada industri kreatif seperti batik dan payung geulis ini (sekarang menjadi ikon kota Tasikmalaya).

Payung hias

Payung Hias susun

Lain di Kalibagor dan Tasikmalaya tadi, lain pula di Kecamatan Juwiring-Klaten. Kecamatan ini pun memproduksi payung kertas hias aneka warna yang dikenal dengan sebutan payung hias Juwiring.

Para pemesan yang berasal dari Bali menggunakannya untuk upacara Ngaben, sedangkan pemesan dari Solo dan Jogjakarta sebagai pelengkap upacara keraton.

Pesanan ini membuat sentra payung hias Juwiring pun tetap bertahan, meski para pengrajinnya tinggal sedikit saja, atau hanya para sepuh yang masih terus mengerjakan kerajinan payung hias indah ini, sedangkan generasi muda sekarang lebih menyukai payung hasil buatan pabrik.

Payung hias

Sulaman benang pemersatu rangka

Membuat payung hias ini tidak mudah, karena melibatkan kerja sama dari beberapa pengrajin. Pengrajin bambu akan membuat rangka dasar, kemudian pengrajin payung yang memiliki keahlian menyulam benang aneka warna menyatukan rangka bambu tadi dengan kayu penyangganya, dan terakhir pelukis menyabetkan kuasnya di atas kanvas berupa kertas semen atau kain mori. Mereka saling membutuhkan satu sama lainnya demi sebuah hasil karya payung yang indah.

Dari berbagai sumber, illustrasi: pribadi

Category: PelangiTags:
One Response
  1. author

    Lastri Rahimi8 months ago

    Two thumbs up buat penulisnya. Keren

    Reply

Leave a reply "Payung Hias Juwiring, Fantasi, dan Geulis yang Menawan"