Pahawang, Keindahan Lampung yang Nyaris Perawan

Gonjreng.com – Dua tahun lalu hampir tak ada yang mengenal Pahawang. Perairan di sekitar Kepulauan Pahawang di Lampung Selatan itu, saat itu masih merupakan keindahan alam perawan yang murni dan tersembunyi, yang hanya dinikmati penduduk dan nelayan lokal. Sepasang warga Perancis yang lebih dulu “menemukannya”, yang mengira keindahan Pahawang akan terus tersembunyi, membangun sebuah komplek bungalow yang indah di Pulau Pahawang Kecil untuk dinikmati secara pribadi. Di sekitarnya tumbuh pohon-pohonan berbunga indah yang berakhir di garis pantai berpasir putih.

Pahawang
Pahawang

“Bagaimana mungkin warga asing bisa membeli pulau ini?” aku bertanya-tanya dalam hati, sambil menghirup air kelapa. Duduk di pasir putih, kupandangi bungalow milik pasangan Perancis itu dari kejauhan. Indah, tapi tampak angkuh, kosong, dan dingin. Sebenarnya area itu milik pribadi, jelas pemanduku, namun di kala pemiliknya tidak ada, orang-orang luar boleh menikmati keindahan pulau ini selama tidak mendekati komplek bungalow. “Tentu saja!” seruku dalam hati, menahan rasa marah yang menyeruak. “Bagaimana mungkin penduduk Pahawang dilarang menikmati keindahan tumpah darahnya sendiri?”

Pahawang
Pahawang

Kulangkahkan kakiku menyusuri bibir pantai. Di seberang pulau tampak sebuah pulau kecil lainnya yang dipenuhi gerumbul pepohonan. Aku tertarik. Bagaimana cara menyeberang ke sana? Namun ketika kutajamkan penglihatanku, aku terpana. Kulihat banyak orang berbondong menyeberangi laut menuju pulau kecil itu, hanya dengan berjalan kaki. Tanpa menumpangi perahu. Bagaimana bisa? Ternyata perairan di sekitar pulau kecil itu, Tanjung Putus, sangatlah dangkal. Pada saat-saat tertentu di mana air laut surut, membayangkan seperti Nabi Musa membelah laut, aku bisa menyeberangi lautan dari satu pulau ke pulau lainnya dengan berjalan kaki. Tentu saja aku sangat gembira dengan pengalaman pertamaku ini!

Pahawang
Pahawang

Dan, tak hanya ini yang menarik! Setelah aku dan rombongan bercapai lelah dalam bus, kapal ferry, dan perahu – aku pun gembira melihat kejutan penginapanku! Sebuah wisma yang terapung di tengah laut! Ketika kubuka jendela-jendela kamarnya, tak hanya aku bisa memandang laut lepas nan biru, atau bayangan sebuah gunung di cakrawala lautan, tetapi juga aku bisa mengagumi pemandangan kehijauan hutan mangroves di belakang wisma. Di “halaman” depan, kami bisa mengambil ikan dari karamba untuk langsung dibakar dan diganyang bersama! Ikan segar bakar nan lezat adalah salah satu menu makan malam kami!

Pahawang
Pahawang

Pahawang yang masih nyaris perawan, adalah keindahan yang patut dinikmati. Pulau-pulau yang berpasir putih dengan pohon kelapa yang melambai-lambai, lautan yang indah jernih berwarna biru – hijau tosca, dan alam bawah laut yang luar biasa indah, seakan terus menerus memanggilku untuk kembali. Begitu pula, bayangan ikan-ikan Nemo setrip-setrip yang berenang-renang di antara tanganku di laut, juga akan selalu membuatku tersenyum.

* Laksmi D. Haryanto. Sumber ilustrasi: koleksi pribadi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *