Noblesse Oblige dan Tiga Srikandi Padi Organik (Bagian 4)

Noblesse Oblige dan Tiga Srikandi Padi Organik (Bagian 4)

Gonjreng.com – Kepusingan lainnya, menurut Dewi Mylitta yang bernama panggilan Ita ini, adalah setelah membeli putus dari petani, awalnya mereka sama sekali tidak tahu apa yang harus dilakukan dengan beras yang menggunung di gudang! Mereka tidak memiliki jalur produksi sama sekali selain mengandalkan jalur pribadi di pertemuan-pertemuan atau arisan-arisan. Tentu saja beras yang dijual melalui jalur pribadi ini hanya bisa dalam jumlah kecil. Selama berbulan-bulan, berpuluh-puluh ton beras menganggur di gudang, tanpa tahu harus diapakan.

Lalu ketiga perempuan perkasa itu – Tien, Tuti, dan Ita – melakukan pembagian tugas. Tien akan fokus di ide-ide besar, Tuti dengan kehandalan teknisnya berjuang membina petani secara langsung di lapangan, dan Ita harus bisa memasarkan beras organik yang menggunung di gudang! Tapi, bagaimana caranya?

Selain mensertifikasi produk organiknya dan mematenkan serta mendaftarkan merek ‘Sarinah’ sebagai merek jualnya, Ita pun mulai bergerilya. Ia menyurati berbagai perusahaan, mengetuk pintu para distributor dan pemilik toko retail secara door-to-door, dan terus menerus melakukan follow-up. Apa saja dicobanya, sampai akhirnya pintu-pintu mulai terbuka.

Ketika Ita berhasil menempatkan beras ‘Sarinah’ di rak-rak penjualan berbagai toko retail seperti Kem Chicks, ia memerhatikan bahwa penjualan produk yang sama dengan memakai store brand ternyata lebih laris dan perputarannya lebih cepat. Penemuan ini membuatnya mengubah strategi. “Akhirnya saya mengerti bahwa building brand awareness itu ternyata lama dan mahal. Karena goal saya adalah secepatnya menjual beras dengan harga layak, maka saya sudah tidak ngotot lagi harus memakai brand sendiri.”

Dengan Foodhall akhirnya ‘Sarinah’ menyetujui untuk memakai store brand ‘Daily Choice’, dan dengan Nutrifood beras dijual memakai merek ‘Tropicana Slim’. Bagaimana hasilnya? Ternyata penjualan berjalan lancar, harga yang mereka dapatkan sangat layak, petani terlindungi dan senang, konsumen mengapresiasi produk organik yang berkualitas, dan demand membanjir jauh melebihi supply!

Perjuangan tak kenal lelah membela dan melindungi petani kecil ini akhirnya membuahkan banyak kebaikan. Kini area sawah organik yang mereka kelola terus berkembang dan telah mencapai sekitar 50 hektar. Pada Desember 2015, Tuti Waryati dianugerahi penghargaan Adi Karya Pangan Nusantara oleh Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo, atas pencapaiannya yang luar biasa dalam membina dan mengembangkan gabungan kelompok tani di Ciparay. Ketiganya sangat gembira! Kepada ibunya, dengan riang Ita sempat berujar, “Mama, you have been living your dreams!”

Di tengah semua pencapaian itu, tentu saja, Tien, Tuti, dan Ita – ketiga Srikandi padi organik itu tak akan pernah berhenti. Dari hari ke hari mereka selalu memikirkan ‘What’s next?’ untuk menyiptakan kebaikan selanjutnya. Dengan pamrih sederhana mengembangkan dan melindungi para petani di desanya, sesungguhnya mereka telah menerapkan noblesse oblige: mereka melakukan kewajiban melindungi yang lemah.

Dalam skala yang berbeda-beda, kita semua bisa menerapkan prinsip ini di dalam hidup sehari-hari. Dengan sedikit kekuasaan dan privilese yang kita miliki, anugerah itu bisa kita gunakan untuk melindungi yang lebih lemah dari kita. Itu adalah kewajiban universal semua manusia. Tak jadi soal besar atau kecil, kewajiban itu sama mulianya seperti pesan terakhir Ben Guggenheim, “If anything should happen, tell my wife I’ve done my best in doing my duty.”

SELESAI

* Laksmi D. Haryanto. Sumber: Laksmi D. Haryanto, ‘Sosial Ekonomi Pertanian – Catatan Ringan Alumni IPB Lintas Angkatan’, Sosek Reborn – Sosek Caring, IPB Press, 2016. Foto: koleksi pribadi. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *