Noblesse Oblige dan Tiga Srikandi Padi Organik (Bagian 3)

Noblesse Oblige dan Tiga Srikandi Padi Organik (Bagian 3)

Gonjreng.com – Di saat itulah ia mengajak Tuti Waryati untuk bergabung mewujudkan impiannya. Tuti adalah seorang perempuan tangguh yang baru saja pensiun dari pekerjaannya sebagai penyuluh pertanian di Jawa Barat. Di Ciparay ia merangkul petani-petani di sekitarnya untuk bergabung dalam beberapa kelompok tani yang fokus pada persawahan organik dan didukung oleh Itikurih Hibarna. Dengan trial-and-error mereka belajar bagaimana caranya membersihkan tanah dari bahan-bahan kimia, bagaimana caranya membersihkan air, dan bagaimana membuat pupuk serta pestisida dari binatang atau tumbuh-tumbuhan. Hanya dengan modal keyakinan ‘kalau kita bersahabat dengan alam, maka alam juga akan bersahabat dengan kita’ inilah yang membuat mereka tanpa lelah belajar terus menerus, bersama-sama, selangkah demi selangkah.

Dan seperti halnya pada manusia, tanah yang dibersihkan atau didetoksifikasi, akan mengalami penurunan produksi. Awalnya Tien dan Tuti sempat khawatir karena selama empat musim pertama sejak mereka membebaskan tanah dari berbagai bahan kimia, produksinya sempat turun drastis hingga 30 persen. Namun mereka terus menerus berkomunikasi dengan Pemerintah Kabupaten Bandung dan juga Balai Penelitian Pertanian Sukamandi. Mereka juga menyoba beberapa varietas padi yang paling cocok dengan kondisi sawah mereka di Ciparay, seperti berbagai varietas Impari dan Aeksibundong.

Setelah empat musim berlalu, tiba-tiba alam seperti berterima kasih pada mereka. Dengan perlahan tapi pasti, produksi sawah organik mereka terus meningkat, bahkan bisa sampai 130 persen lebih tinggi dibandingkan dengan produksi sebelum diorganikkan. Dengan telaten Tuti terus menerus merangkul para petani di sekelilingnya dan melakukan penyuluhan sambil terus belajar bersama.

Yang menggembirakan adalah, sejak mereka melakukan pertanian organik, tak hanya produksinya bisa melebihi sawah konvensional, tetapi juga secara mengejutkan hama menjadi sangat sedikit, populasi tikus hampir punah, dan sawah mereka tidak pernah kebanjiran. Bahkan varietas beras merah Aeksibundong yang ditanam di Ciparay ternyata hasilnya lebih baik dan lebih pulen dibandingkan dengan produksi di daerah asalnya di Sumatera. Dengan semangat mereka terus menerus melakukan peremajaan dan pembibitan sendiri, di samping juga terus menerus merangkul dan membina berbagai kelompok tani.

Agar para petani terbebas dari tengkulak-tengkulak yang biasanya membeli padi dengan harga murah secara langsung di sawah, mereka pun membeli seluruh produksi petani binaannya dengan harga lebih tinggi dari harga pasar. Biasanya sekitar 25 persen di atas harga pasar. Niat mulia ini seringkali menimbulkan kepusingan tersendiri karena Tien berprinsip, “Berapa pun akan dikeluarkan untuk menyukseskan persawahan organik ini.” Dengan begitu menurut putri Tien, Dewi Mylitta, yang baru saja menggantikan ibunya menjadi ketua yayasan, “Seringkali kami harus meminjam uang ke sana-sini dan berjuang keras hanya supaya bisa membeli seluruh hasil produksi petani, supaya mereka tidak menjual beras dengan harga murah pada tengkulak. Mau rugi atau tidak, Mama tidak peduli. Yang penting sawah organik ini harus jalan.”

BERSAMBUNG

* Laksmi D. Haryanto. Sumber: Laksmi D. Haryanto, ‘Sosial Ekonomi Pertanian – Catatan Ringan Alumni IPB Lintas Angkatan’, Sosek Reborn – Sosek Caring, IPB Press, 2016. Foto: koleksi pribadi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *