Ndeso, Kampung Wisata yang Tak Kampungan

0 843
Ndeso

Gonjreng.com – Memasuki gapura bambu yang dibuat masyarakat desa, seperti memasuki peradaban yang telah hilang sekian tahun lalu. Kehangatan desa hadir, merebak dimana-mana. Masyarakat pun ramah memberikan salam. Itulah Ndeso, kampung wisata yang pada 18 Februari 2018, mengabarkan keberadaannya. Kampung wisata anyar ini terletak di Padukuhan Ngetos Wetan, Sriwedari, Muntilan, Magelang Jawa Tengah. Diawali keinginan untuk melestarikan kerukunan warga, memberdayakan masyarakat desa, serta mewujudkan impian membangun desa tanah kelahirannya, Anang Imamudin SP sosok pemuda desa, kemudian berani mewujudkannya. Ia bertekad membangun kampung wisata.

Pekerjaan mengeraskan jalan, mengecat, membuat pagar, sebenarnya mudah saja. Apalagi jika ada dana, tinggal panggil tukang dan tadaaaa! Pekerjaan selesai. Namun bukan itu yang diinginkan oleh Anang sang pencetus ide. Anang ingin menumbuhkan rasa memiliki dan tanggung jawab untuk terus menjaga dan mengembangkan desanya. Semua masyarakat terutama pemuda dikerahkan untuk bahu-membahu mengerjakan pekerjaan tersebut demi mempercantik desa mereka. Keakraban semakin terjalin, rasa memiliki dan tanggung-jawab sebagai warga pun kemudian bertumbuh kuat.

Ndeso, kampung wisata anyar, tidak hanya menjanjikan keramahan penduduk, keteraturan desa, serta keindahan bentangan sawah saja. Ndeso juga berupaya untuk memanjakan lidah dengan mengenalkan makanan tradisional melalui bazar makanan tradisional setempat.  Ndeso juga menyuguhkan berbagai bentuk kesenian daerah yang sudah kian sulit ditemukan. Anak-anak, remaja, dan orang-tua bersatu dalam segala kegiatan di kampung wisata anyar ini.

Satu hal yang menarik dan patut dicoba di Ndeso adalah tubing, menyusuri sungai Blongkeng yang melintas desa dengan menggunakan ban dalam truk. Sungai Blongkeng cukup dangkal tapi memiliki arus lumayan deras, karena kontur yang berbukit. Batu besar yang berserak, membuat nyali  tertantang untuk mencoba kesejukan air sungai jernih dan pacuan adrenalin.

Sebelum memulai tubing, wajib hukumnya  memakai vest pelampung, helmet pelindung kepala dan alas kaki. Streching dan berdoa adalah kegiatan pertama sebelum start. Tapi jangan salah, sebelum memulai semua di atas tikar tersedia ubi/ketela rambat goreng yang manis dan gurih ditemani segelas kopi, cukuplah untuk mengisi dan menghangatkan perut, apalagi masih pagi.

Menggunakan kendaraan bak terbuka, kami diantar ke titik start tak lebih dari 15 menit. Saat tubing dibagikan, dan mulai duduk, terpancar ketakutan di wajah peserta, mungkin lebih tepat manyun, cemberut. Kami saling mengaitkan kaki ke teman di depan dan membentuk jajaran tubing yang tak terputus. Saat badan menyentuh air yang dingin dan jernih, kesejukan mengalir keseluruh tubuh. Memandang arus sungai yang membuih memecah celah batu, gemuruh air terdengar mengalun sempurna. Kepenatan langsung sirna, mata dimanjakan oleh kehijauan rumput dan tanaman liar. Tubuh bersandar santai, perjalanan dimulai.

Dua kilometer penyusuran akhirnya kami selesaikan dalam 2.5 jam. Tidak ada kata yang bisa melukiskan keindahan, kecantikan Ndeso kampung wisata baru ini.

* Sumber foto-foto: koleksi pribadi

Category: KelanaTags:
No Response

Leave a reply "Ndeso, Kampung Wisata yang Tak Kampungan"