Bagaimana Nasib Pasukan Oranye Setelah Ahok Pergi?

Gonjreng.com– Kekhawatiran dan ketidakpastian melanda sebagian besar personil pasukan yang dibangun oleh Gubernur Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. Harapan untuk memperoleh penghasilan berbasis UMP pun terenggut setelah Ahok kalah pada Pilkada DKI 2017 lalu. Dari pasukan pelangi yang dibentuk oleh Ahok, nasib pasukan oranye yang paling mengkhawatirkan. Pasukan hijau, kuning, biru, ungu, tidak terpengaruh karena statusnya PNS bukan PHL (Pekerja Harian Lepas) seperti kebanyakan pasukan oranye.

Puluhan bahkan ratusan orang yang sangat bergantung dengan seragam oranye ini. Pertanyaan-pertanyaan pun berkecamuk di benak mereka terkait adanya isu bahwa anggota pasukan oranye harus memiliki ijazah minimal setaraf dengan SMA.

Bagaimana dengan nasib mereka yang berpendidikan rendah atau hanya mengandalkan keinginan untuk bekerja semata? Selain batasan pendidikan, batasan usia juga menjadi ketakutan selanjutnya.

Ahok akan menjalani masa tahanannya selama kurang lebih 2 tahun, menebus slip of the tongue di Kepulauan Seribu. Jarot sebagai PLT Gubernur akan mengisi kekosongan sebelum jabatannya berakhir. Begitu banyak laporan dan keluhan mengenai nasib pasukan oranye tadi. Mereka mengadukan kegagalan dalam melanjutkan kontraknya dengan alasan yang tidak masuk akal seperti kehabisan kuota, usia tidak sesuai, dan nilai test yang tidak memenuhi standar. Ada beberapa yang memenuhi standar tapi tetap tersingkir, antara lain pihak kelurahan menyatakan mereka gagal karena tidak dapat bermain futsal.

Adakah “titipan kilat” dari keluarga pejabat setempat yang membuat kontrak tidak dapat dilanjutkan? Standardisasinya pun semakin tidak jelas. Sandiaga Uno menjanjikan akan menambah jumlah pasukan oranye dan meningkatkan kesejahteraan mereka. Ia pun berjanji akan memberikan pelatihan untuk mengolah sampah sendiri sehingga dapat menaikkan kesejahteraan dan meningkatkan penghasilan pasukan oranye ini. Semoga bukan hanya janji yang manis di bibir saja.

Nasib garda terdepan kebersihan Jakarta pun berada di ujung tanduk, terombang-ambing menunggu keputusan krusial yang memengaruhi hidupnya. Mungkinkah nasib pasukan oranye ini nantinya akan sama seperti pasukan pelangi yang dibangun oleh Ahok? Kemungkinan besar tidak, mengingat pasukan oranye hanyalah pekerja harian lepas yang bekerja langsung di bawah kelurahan. Jadi nasib mereka sangat tergantung dari kelurahan setempat. Jika Kelurahan sudah tidak bisa lagi dimonitor, entah bagaimana kelanjutan nasib pasukan oranye ini.

*Sumber gambar: youtube.com.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *