Mungkinkah Curug Cilember Bertahan Asri?

1 733
Curug Cilember
Curug Cilember

Gonjreng.com – Sengaja saya menggunakan kendaraaan umum menuju Curug Cilember yang berada di desa Jogjogan, Cisarua, Puncak, Jawa-Barat, karena ingin kembali berpetualang, berlari mengejar angkot, kehujanan, dan merasakan sejuknya terpaan angin.

Jam menunjukkan pukul 6 pagi, saat tiba di Stasiun Tebet. Ditemani beberapa teman yang memiliki antusias sama, kami berangkat menuju Bogor dengan Commuter Line (CL) yang sepi peminat. Mungkin karena bukan hari libur dan arahnya ke Bogor.

Stasiun Bogor lengang saat kami tiba, dan singkong rebus adalah cemilan penghangat perut pagi itu. Diiringi gerimis tipis kami menyusuri lorong stasiun, mencari angkot jurusan Curug Cilember. Namun angkot menuju Curug Cilember sudah tidak ada lagi. Rute angkot hanya sampai di jalan raya terdekat, lalu dilanjutkan dengan ojek bertarif Rp 40.000 per trip.

Akhirnya kami memutuskan untuk menyewa angkot saja, apalagi sopir angkot bersedia menunggu sampai kami puas di Curug.

curug-cilember-7-a

Bayangan Curug Cilember saat aku datangi beberapa tahun lalu kembali berkejaran. Jembatan kecil, dengan air jernih dan dingin mengalir di bawahnya, kupu-kupu cantik beterbangan di sekitar bunga-bunga liar, aroma embun bersetubuh dengan rumputan, kicauan burung, dan keceriaan serangga masih jelas di benakku.

Jalan ke Curug Cilember cukup mulus dibanding beberapa tahun lalu. Jam 10.30 kami pun tiba di gerbang Tampat Wisata Curug Cilember.

Gambaran jembatan kecil dengan air deras dan anak-anak yang bermain di selokan beberapa tahun lalu terhapus, berganti jajaran kedai makanan, toko cindera mata, dan banyaknya warga asing – terutama dari Timur-Tengah – membuatku merasa seperti berada di negeri orang lain saja.

Tiga ratus meter dari pintu gerbang kami berjumpa dengan Curug 7, yang merupakan curug terendah dari 7 buah curug yang ada di Cilember.

Saat menuju curug 7, kami melihat banyak pemuda menyusun bunga di atas tanah, membentuk gambar hati yang besar dengan tulisan Arabic.

Rupanya itu adalah tempat berfoto, dan mereka menarik upah untuk dapat berfoto di situ. Suara musisi dadakan juga sangat mengganggu keheningan dan membunuh suara alam di sekitarnya.

Kami pun melanjutkan perjalanan ke Curug 5, yang lebih rendah dari Curug 7, tapi lebih indah dan asri. Sambil memandangi derasnya air terjun, kami membuka bekal di sini. Air terjun terlihat penuh sesak dengan pengunjung yang ingin berfoto, juga berebut mendapat spot foto yang cantik.

Curug Cilember sekarang bukanlah Curug Cilember beberapa tahun lalu. Tuntutan hidup, serta pengunjung dengan aneka budaya sudah menodai keasriannya. Harapan saya, semoga pengelola masih tetap mempertahankan kebersihannya, sehingga tidak mengurangi pesona Curug Cilember, seperti yang aku ingat dulu.

* Witdya Pudjanarko. Sumber gambar: wikimedia.org.

Category: KelanaTags:
One Response
  1. author

    chaerul2 years ago

    enak kali, kalau kita dapat mengikuti petualang Witdya, karena ceritanya Witdya sangat menarik sekali berlari menguber kendaraan, kehujanan, merasakan kebebasan yang Tuhan telah berikan, dimana kita terikat kepada kehidupan kota yang sangat tegang, macet yang membuat kita stress, kayanya dunia ini pengap, sesak napas, pokoknya ngak enak dunia ini, Widtya boleh ngak kita mendapat pemadu wisata tersebut, karena kita menginginkan kebebasan dalam dunia ini, menikmati yang Tuhan telah berikan berupa gunung, hutan, air terjun, sawah, nyaman kali ya ?

    Reply

Leave a reply "Mungkinkah Curug Cilember Bertahan Asri?"