Mengejar atau Menyipta Kebahagiaan?

0 219
Kebahagiaan
Kebahagiaan

Gonjreng.com – Saya banyak bertemu dengan sahabat-sahabat yang mengejar kebahagiaan dengan susah payah sepanjang hidupnya, seringkali dengan menghalalkan segala cara. Kemudian setelah bertahun-tahun mengejar, tiba-tiba mereka terhenyak, merasa kosong, dan akhirnya mempertanyakan lagi, makhluk apakah sesungguhnya kebahagiaan itu?

“Kebahagiaan adalah saat aku mendapatkan pria yang kucintai,” seorang teman yang sedang jatuh cinta menjawab dengan mata berbinar-binar.

“Bahagia adalah memiliki rumah besar yang indah,” jelas seorang teman lain.

“Kalau aku kaya raya, berkuasa, disegani segala kalangan – aku bahagia,” seorang teman mengutarakan pandangannya.

“Kebahagiaanku adalah jika semua orang yang kusayangi bahagia.”

“Kalau penyakit sial ini sembuh.”

“Kalau aku bisa balas dendam pada semua yang telah menyusahkan hidupku.”

Secara individu, definisi kebahagiaan tak terhitung bak bintang-bintang di langit. Secara biologis, bahagia dihubungkan dengan produksi serangkaian happiness hormones dalam tubuh. Tiga yang paling dominan adalah serotonin, endorphins, dan dopamine. Kita bisa merangsang produksi hormon-hormon bahagia ini antara lain melalui eksposur yang cukup terhadap matahari, lewat makanan-makanan yang tepat, dengan berhubungan seks, atau olah raga. Produksi hormon-hormon bahagia ini berlimpah dalam tubuh seseorang yang sedang jatuh cinta.

Jika kebahagiaan didefinisikan secara keagamaan, psikologis, atau filosofis – jumlahnya pun sangat beragam. Namun secara konsensus umum, kebahagiaan adalah kondisi mental seseorang dalam memanifestasikan “kesejahteraan batin” yang disertai serangkaian emosi positif atau menyenangkan – mulai dari perasaan damai, hingga rasa gembira yang meluap-luap.

Walaupun kita bisa menjabarkan artinya menurut banyak terminologi, sesungguhnya yang terpenting dalam hidup ini adalah jawaban dari satu pertanyaan yang sangat sederhana: “Apakah Anda bahagia?”

Pertanyaan ini sangat, sangat sederhana. Namun ternyata banyak orang tak mampu menjawabnya secara jernih dan jujur. Kebanyakan orang mengaitkan kebahagiaan dengan destinasi personal yang harus dicapainya dalam hidup ini. Karena dikondisikan sebagai paket yang terikat pada benda-benda material, ambisi pribadi, atau bahkan obsesi psikologis seperti kebutuhan pada pengakuan, kebutuhan pada penghormatan, atau kekuasaan – maka tak heran jika kita menemui begitu banyak manusia tak pernah benar-benar bahagia seumur hidupnya.

Setelah mengalami perjalanan hidup yang naik-turun seperti roller-coaster selama sepuluh tahun belakangan ini, saya membuktikan bahwa kebahagiaan sesungguhnya adalah state of mind – keputusan mental saya sendiri untuk mewujudkan “kesejahteraan batin”. Kebahagiaan tak bisa kita kejar atau cari, namun harus kita ciptakan sendiri. Kita adalah pencipta kebahagiaan kita sendiri, dan bertanggungjawab 100 persen terhadap bahagia atau tidaknya diri kita.

Musuh terbesar dari kebahagiaan adalah tendensi  menyalahkan apa saja di luar diri kita. Dan musuh kedua adalah kecenderungan untuk selalu mengasihani diri sendiri – selalu menempatkan diri sebagai korban dalam setiap drama hidup ini.

* Laksmi D. Haryanto. Foto: koleksi pribadi.

Category: HakikatTags:
No Response

Leave a reply "Mengejar atau Menyipta Kebahagiaan?"