Menantu Luhut dan Perusahaan-perusahaan Luhut

Gonjreng.com – Menantu Luhut, Mayjen Maruli Simanjuntak menulis tentang orang-orang yang mengkritik pemerintahan Jokowi di akun Facebook-nya.

Menurut penilaiannya status Facebook tadi pernyataan pribadi, dan menantu Luhut pun mengatakan sama sekali tidak memiliki unsur politis di dalamnya. 

Seperti ini status Facebook menantu Luhut, Mayjen Maruli Simanjuntak yang saat ini menjabat Komandan Pasukan Pengamanan Presiden (Danpaspampres).

Kritik kepada Pemerintah adalah hal yg lumrah, bagian dari proses untuk mencapai tujuan, namun jangan percaya pada orang yg mengkritik;
1. Bekas pejabat Pemerintah masa lalu, atau diberhentikan. Komisaris, Deputy dsbnya (dulu kemana saja)
2. Orang yang ingin jadi pejabat, tapi kalah pilkada, atau tidak terpilih menteri dll.
3. Silahkan isi lagi ……..
Google namanya umumnya kira 2x begitu.

Nitizen pun mengkritik menantu Luhut, sebagai seorang TNI seharusnya netral.

Awalnya menantu Luhut mengatakan hanya pendapat pribadi, tapi kemudian meluruskan alasannya tadi bahwa ia hanya ingin menyerukan kepada semua pihak untuk bahu membahu dengan pemerintahan Jokowi dalam menangani pandemi virus corona (Covid-19).

“Kita fokus saja perbaiki, kerja. Enggak usah kritik-kritik. Itu kan kata-kata yang gak baik,” kata menantu Luhut di sini.

Entah nyambung atau tidak alasan menantu Luhut ini. Di status Facebook-nya tadi ditulisnya “Kritik kepada Pemerintah adalah hal yg lumrah”.

Luhut belakangan ini menjadi sorotan publik sehubungan pernyataannya bahwa virus corona (Covid-19) tidak tahan cuaca panas Indonesia. Faisal Basri pun meradang, protes keras atas pernyataannya tadi, dan berkicau di akun Twitter-nya “Luhut Panjaitan lebih berbahaya dari coronavirus COVID-19”.

Sila baca: Luhut Lebih Berbahaya dan Fadli Zon yang “Ngambang”.

Sebelum ada cuitan Faisal Basri tadi, pihak Luhut berselisih dengan Said Didu, dan menuntutnya agar meminta maaf dalam waktu 2×24 jam atas pernyataan Said Didu dalam sebuah video di Youtube yang dianggap pihak Luhut telah menebarkan fitnah dan ujaran kebencian, sementara pihak Said Didu mengatakan pernyataannya itu hanya sebuah kritikan kepada pemerintah dan Luhut.

Sejak adanya tuntutan minta maaf tadi, jika tidak dilakukan maka Said Didu akan dituntut secara hukum, mantan Sekretaris Kementerian BUMN itu terkesan santai saja menanggapinya.

Ia pun sempat mengunggah video di akun Twitter-nya sedang memandikan sapi-sapinya dan memetik bunga anggrek di kebun, seolah-olah ingin mengatakan kepada publik bahwa dirinya baik-baik saja, meski ada ancaman dari pihak Luhut tadi.

Sila baca juga: Said Didu Santai Saja Menghadapi Ancaman Luhut.

Waktu 2×24 jam dari pihak Luhut tadi sudah berakhir, Said Didu sama sekali tidak meminta maaf, apakah mantan Sekretaris Kementerian BUMN itu akan dituntut secara hukum?

Ketika pihak Luhut melalui Juru Bicara Menko Kemaritiman dan Investasi Jodi Mahardi melayangkan tuntutan agar Said Didu meminta maaf, Ruhut Sitompul lewat akun Twitter-nya mengatakan seperti ini:

“Mantap kreeeeeeeeen banget Pak LBP, Semoga berdasarkan Dasar Hukum yg berlaku di Indonesia sebagai Negara Hukum Gambar SD disebelah cepat diproses dan diborgol seperti Penjahat2 penyebar Fitnah lainnya biar yg lainnya k a p o k MERDEKA.”

sumber gambar: akun twitter ruhut sitompul

Nah, waktu 2×24 jam itu sudah lewat, seandainya Said Didu yang tidak meminta maaf itu ternyata tidak dituntut secara hukum, apa kata dunia nanti? Bagaimana dengan penilaian publik? 

Omdo (omong doang), mungkin saja ada tudingan seperti itu kepada pihak Luhut. Kencang sekali koar-koarnya di media, tapi tidak sesuai dengan kenyataan, itulah yang disebut omdo.

Sampai saat ini memang belum ada tuntutan secara hukum dari pihak Luhut kepada Said Didu, tapi sebaiknya jangan cepat menuding ada pihak yang omdo.

Tunggu dan ikuti saja seperti apa perkembangan selanjutnya.

Said Didu dituntut karena ada pernyataannya dalam sebuah video Youtube berjudul “MSD: LUHUT HANYA PIKIRKAN UANG, UANG, DAN UANG”. 

Sebuah berita di sini mengangkat topik tentang perusahaan Luhut.

PT Toba Sejahtra (Perseroan) merupakan grup perusahaan yang bergerak di bidang energi, baik kelistrikan, pertambangan, dan migas, serta perkebunan & hutan tanaman industri, properti, dan industri yang sahamnya dimiliki Luhut sebesar 99,9%, tapi per Oktober 2017 lalu hanya tersisa 9,9% saja. Tidak dijelaskan dalam berita itu mengapa saham Luhut hanya tersisa 9,9% dari tadinya sebesar 99,9%.

Ada 16 anak perusahaan di PT Toba Sejahtra (Perseroan) yang bergerak di berbagai sektor, dan beberapa di antaranya dibahas dalam berita itu.

Luhut menjadi sorotan dan perhatian publik, bermula dari pernyataan Said Didu yang dianggap fitnah, kemudian ada tuntutan minta maaf dalam waktu 2×24 jam, tapi Said Didu justru mendapat dukungan moral dari banyak pihak.

Tak lama kemudian ada pernyataan Luhut yang kontroversial sehingga Faisal Basri meradang dan mengatakan Luhut lebih berbahaya dari virus corona (Covid-19). Perusahaan-perusahaan Luhut pun menjadi topik sebuah berita, ditambah lagi ada status Facebook menantu Luhut Mayjen Maruli Simanjuntak, Komandan Pasukan Pengamanan Presiden (Daspaspampres). Luhut pun tetap dan masih menjadi sorotan publik.

Apakah di balik semua ini ada pengalihan isu? Agar perhatian masyarakat tidak hanya tertuju pada pendemi virus corona yang datanya diragukan telah menampilkan jumlah korban sebenarnya? Apakah termasuk pengalihan isu dari kebijakan darurat sipil yang dianggap blunder itu?

Dalam permainan catur ada prinsip seperti ini. Tak peduli buah catur apapun, termasuk buah catur Menteri, sila dikorbankan asal bisa meraih kemenangan.

Menteri mengorbankan diri, atau sengaja dikorbankan demi meraih kemenangan, hal yang biasa dalam permainan catur.

Sumber gambar: brito.id.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *