Membunuh Fobia Ketinggian dengan Canopy Trail

0 206
Canopy Trail
Canopy trail di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango

Gonjreng.com – Fobia adalah ketakutan irasional yang bisa menguntungkan dan merugikan. Menguntungkan karena dapat menghalangi dari melakukan hal-hal berbahaya, merugikan karena dapat menjadikan paranoia atau ketakutan berlebihan. Salah satu fobia yang umum menghinggapi manusia adalah acrophobia atau ketakutan akan tempat tinggi, atau fobia ketinggian. Penderita acrophobia akan merasa gelisah dan gugup saat  berada di ketinggian. Namun kini ada terapi bantuan mandiri yang telah terbukti efektif. Salah satunya adalah melintasi canopy trail atau titian gantung yang berada di ketinggian dan menghubungkan tajuk pohon yang satu ke pohon yang lain.

Canopy trail

Canopy trail di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango

Canopy trail yang paling dekat dari Jakarta adalah canopy trail yang berada di Taman Nasional Gunung Gede-Pangrango (TNGGP), tepatnya di dekat curug Ciwalen di area lokasi Mandalawangi. Empat buah pohon rasamala (Altingia excelsa) dengan diameter rata-rata 1,2 meter menyangga dengan sangat gagah. Dengan bentangan 130 meter dari satu pohon ke pohon lain, jembatan ini memiliki beban angkat sebesar 350 kg. Jadi untuk melintas harus antri dan hanya dibolehkan 5 orang per lintasan. Jangan lupa siapkan biaya tiket Rp. 48.000 per orang. Harga tersebut adalah tiket masuk, tiket canopy trail, perawatan dan asuransi. Pintu lintasan selalu terkunci, dan hanya dibuka 4 kali sehari  pada pukul 09.00, 11.00, 13.00 dan 15.00 WIB. Seorang jagawana  akan membukakan pintu serta menemani menuju curug.

Berjalan melewati canopy trail Ciwalen dengan ketinggian 45 meter, layaknya seperti burung terbang di ketinggian, bebas lepas. Dikelilingi pemandangan yang asri, udara sejuk, suara gemericik air sungai, serta desau angin dan tarian dedaunan, sungguh merupakan kepuasan maha tinggi. Liukan sungai di bawah, seperti seekor ular naga panjang. Aroma daun basah, tanah lembab, wangi bunga dan teriakan kera saling sahut melengkapi pesona maha karya agung. Bilah-bilah besi, tali-tali baja seolah mengajak dan menjanjikan kekuatan untuk dilintasi. Bagi manusia normal melintas di ketinggian dengan goyangan akibat langkah sendiri atau karena kuatnya dorongan angin, atau akibat kejahilan teman, merupakan pemicu adrenalin yang menggembirakan. Sedangkan bagi penderita acrophobia ini adalah neraka.

Canopy trail

Canopy trail – Air terjun Ciwalen

Lutut yang tiba-tiba lemas, gerakan tangan refleks menggapai pegangan, atau langsung terduduk, adalah reaksi awal bagi penderita fobia ketinggian. Bantuan teman dan keinginan untuk memerangi ketakutan adalah terapi mandiri. Untuk membunuh ketakutan ini, biarkan mereka melihat orang lain melintas di depannya. Beri keyakinan untuk tidak melihat ke bawah, tapi anjurkan untuk memandang teman yang sudah mendahului. Biarkan berjalan sendiri untuk mengurangi goyangan canopy trail yang menguat. Rasa takut juga bisa dialihkan dengan bergaya untuk difoto. Dukungan teman, keluarga dan kemauan kuat untuk sembuh sangat membantu proses membunuh fobia ini.

Bagi penderita acrophobia, coba deh melintas di canopy trail yang berada di TNGGP. Walaupun lintasannya cukup panjang, namun tersedia tempat beristirahat. Selain itu pelintasnya dibatasi, sehingga goyangan jembatan bisa berkurang hingga di ujung titian. Setelah melintasi, perjalanan akan dilanjutkan dengan menaiki undakan tanah berbatu. Dan masih ada kejutan diujung perjalanan ini. Yup. Curug Ciwalen akan menyambut dengan curahan airnya yang sejuk dan indah. Ketakutan saat menyebrangi titian akan terbayar tunai dengan menikmati indahnya curug Ciwalen. Maka fobia ketinggian pun akan pergi dan tidak akan kembali.

* Sumber foto: koleksi pribadi

Category: KelanaTags: