Mati Suri, Halusinasi, dan Surga (Bagian 9)

0 186
Mati Suri, Halusinasi, dan Surga (Bagian 9)
Mati Suri, Halusinasi, dan Surga (Bagian 9)

Mati Suri, Halusinasi, dan Surga (Bagian 9)

Gonjreng.com – Kepadanya juga diperlihatkan kehidupan-kehidupan di berbagai semesta, termasuk berbagai peradaban yang jauh lebih tinggi dari peradaban manusia. Ia juga melihat berbagai dimensi yang lebih tinggi. Hukum sebab-akibat juga eksis di dimensi-dimensi tinggi itu, namun tidak dalam konsep seperti di bumi. Ruang dan waktu bumi terhubung dengan dimensi di atasnya, dan semuanya terkoneksi. Satu-satunya cara untuk mengerti dimensi-dimensi yang lebih tinggi ini hanya dengan masuk dan mengalaminya. Namun dimensi-dimensi yang lebih tinggi itu tak dapat diakses dari dimensi yang lebih rendah. Hanya makhluk-makhluk dari dimensi yang lebih tinggi bisa mengakses dimensi yang lebih rendah.

Semua yang dipelajarinya, tidak sama seperti proses belajar di bumi. Pengetahuan dan pencerahan terjadi begitu saja, langsung masuk dan tersimpan selamanya dalam pikiran tanpa proses mengingat. Juga tidak ada proses lupa, seperti yang dialami manusia di bumi. Setelah terbangun dari mati suri, melalui keterbatasan fisik, ia mengalami berbagai kendala untuk memproses kembali semua informasi itu. Namun sebelum terlupa, ia berhasil mencatat semua yang bisa diingatnya secara seksama.

Ada tiga pesan paling penting dalam perjalanan astral itu: (1) You are loved and cherished. (2) You have nothing to fear. Dan, (3) There is nothing you can do wrong. Jika ketiganya disatukan dalam sebuah kalimat singkat, esensinya adalah: You are loved. Cinta adalah esensi dari segalanya. Dan ini bukannya cinta yang abstrak, tetapi adalah cinta seperti yang kita berikan pada kekasih, pada anak-anak, pada binatang peliharaan kita. Unconditional love.

Ini adalah realitas dari seluruh realitas, inti dari seluruh semesta yang infinite, tak terbatas ini. Sesungguhnya tak ada kata-kata duniawi yang mampu mengekspresi seluruh pengalaman atau pelajaran yang didapat selama perjalanan astralnya. Namun pesan terpenting, dan inti dari seluruhnya memang yang satu ini: unconditional love.

Setelah prognosis kematiannya mencapai 97 persen dan harapan hidup anjlok mendekati nol, team dokter angkat tangan dan menyerah. Keluarga dipanggil untuk merelakannya pergi. Namun pada hari ketujuh setelah koma, terjadilah keajaiban itu. Dokter Eben Alexander tiba-tiba membuka matanya dan sadar. Infeksi meningitis yang menyebabkan kerusakan neocortex di otak, hampir selalu berakhir dengan kematian. Jadi ‘kebangkitannya’ adalah precedence. Keajaiban.

Keajaiban lainnya adalah, ia tidak berakhir dalam kondisi vegetative, atau hidup cacat seperti tumbuh-tumbuhan. Namun secara cepat ia berangsur pulih, dan bahkan bisa mengingat-ingat seluruh pengembaraan astralnya selama mati suri. Dalam dua bulan seluruh pengetahuan bedah otaknya sudah kembali dan ia mulai meneliti seluruh kejadian ini dalam kaca mata seorang dokter, ilmuwan. Kesimpulannya: ada kesadaran tertinggi manusia yang tidak disetir oleh otak. Kesadaran tertinggi itu mengorbit di luar fisik manusia. Dan, kesadaran itu real, bukan halusinasi.

BERSAMBUNG

* Laksmi D. Haryanto. Sumber: Proof of Heaven by Eben Alexander, M.D., Simon & Schuster, New York, 2012. Foto: koleksi pribadi.

Category: HakikatTags:
No Response

Leave a reply "Mati Suri, Halusinasi, dan Surga (Bagian 9)"