Mati Suri, Halusinasi, dan Surga (Bagian 8)

0 216
Mati Suri, Halusinasi, dan Surga (Bagian 8)
Mati Suri, Halusinasi, dan Surga (Bagian 8)

Mati Suri, Halusinasi, dan Surga (Bagian 8)

Gonjreng.com – Meski ia masih memiliki sedikit fungsi bahasa, paling tidak seperti yang dimilikinya ketika masih hidup di bumi, ia mulai mengajukan berbagai pertanyaan tanpa kata kepada makhluk surgawi yang dapat ia rasakan kehadirannya di balik, atau di dalam semua kejadian itu.

“Where is this place?”

“Who am I?’

“Why am I here?”

Setiap bertanya, jawabannya secara instan masuk seperti ledakan cahaya, warna, cinta, dan keindahan yang ditiupkan ke dalamnya. Seperti gelombang lautan yang memecah pantai, semua pertanyaannya langsung terjawab tuntas, tanpa bahasa, namun mengalir ke dalam dirinya. Jawaban-jawaban yang diterimanya tidak samar-samar, tidak ambigu, atau abstrak – namun solid dan instan.

Ia terus bergerak maju dan menemukan dirinya dalam kehampaan luas, kegelapan pekat yang tak bertepi – namun terasa sangat nyaman. Anehnya, meski gelap gulita, kegelapan itu juga dipendari cahaya. Situasi ini ibarat sebuah janin di dalam kandungan sang ibu. Janin melayang-layang di dalam kandungan, namun selalu terhubung pada sang ibu oleh tali pusar atau placenta. Melalui placenta ini sang janin akan mendapatkan nutrisi dan kasih sayang.

Sang ibu dalam analogi itu adalah Tuhan, Sang Pencipta, sumber dari segala sumber di alam semesta ini. Tuhan seperti menjadi satu dengannya, namun juga ia merasa Tuhan maha luas tak bertepi. Ia hanyalah sebuah partikel kecil dalam kemahaluasan itu.

Tanya jawab terus berlangsung, dan masih tanpa bahasa. ‘Suara’ yang menjawab setiap pertanyaannya hangat, personal, sangat mengerti karakter manusia, dan bahkan lebih manusiawi dari manusia. Ia merasa bahkan ada semburat-semburat ironi dan humor dalam komunikasi itu.

Dalam ‘percakapan’ itu ia diberitahu bahwa semesta tak hanya satu. Jumlah semesta sangat banyak – jauh lebih banyak dari yang bisa ia bayangkan. Dan yang menjadi pusat dari semua semesta adalah cinta. Evil, atau kuasa jahat, juga eksis di berbagai semesta itu, tetapi dalam jumlah yang sangat kecil. Mengapa evil harus eksis? Karena tanpa evil, manusia tidak bisa mengeksekusi free will atau kebebasan berkehendak, hadiah paling berharga dari Sang Pencipta. Dan tanpa free will, tidak mungkin ada growth pada kita seperti yang dikehendaki Sang Pencipta. Meski evil atau kejahatan seringkali seperti tak terkalahkan di dunia ini, sesungguhnya dalam gambaran lebih luas, yang mendominasi semua semesta ini adalah cinta. Pada akhirnya cinta akan selalu keluar sebagai pemenang. Cinta adalah esensi dari semua semesta.

BERSAMBUNG

* Laksmi D. Haryanto. Sumber: Proof of Heaven by Eben Alexander, M.D., Simon & Schuster, New York, 2012. Foto: koleksi pribadi.

Category: HakikatTags:
No Response

Leave a reply "Mati Suri, Halusinasi, dan Surga (Bagian 8)"