Mati Suri, Halusinasi, dan Surga (Bagian 7)

0 176
Mati Suri, Halusinasi, dan Surga (Bagian 7)
Mati Suri, Halusinasi, dan Surga (Bagian 7)

Mati Suri, Halusinasi, dan Surga (Bagian 7)

Gonjreng.com – Dokter Eben Alexander sekali lagi mengingatkan para pembacanya bahwa ia bukanlah seorang ‘softheaded sentimentalist’. Dalam profesi sehari-harinya, ia bergulat dengan kematian. Ia tahu kematian itu terlihat seperti apa. Ia mengerti bagaimana penderitaan itu, dan bagaimana rasa duka terdalam akibat kematian orang-orang tercinta. Sebagai seorang dokter ahli bedah syaraf, ia tahu jelas perbedaan antara fantasi dan realita. Ia berjuang untuk bisa menggambarkan sejelas-jelasnya dan seobyektif-obyektifnya pengalaman paling nyata yang pernah dialaminya pada saat ia mati suri, atau koma itu.

Sementara kembali pada kisah pengalaman astralnya, ia masih terbang di antara awan-awan putih seperti kapas yang tampak kontras berlatarbelakang langit yang berwarna biru tua gelap. Di atas awan-awan itu, jauh lebih tinggi dari awan-awan itu, ia melihat sekumpulan orbs, atau bola-bola cahaya yang transparan – makhluk-makhluk bersinar terang yang melesat melintasi langit, meninggalkan garis-garis panjang di belakang mereka.

Apa itu? Burung? Malaikat? Perbendaharaan kata ini muncul dalam benaknya saat ia menyoba mengingat-ingat, mengumpulkan memori, dan menuliskan kembali pengalamannya di kemudian hari. Namun tak ada kata-kata yang bisa sungguh-sungguh menjelaskan deskripsi dari makhluk-makhluk yang telah dilihatnya itu. Mereka berbeda. Benar-benar berbeda dari apa pun yang pernah ditemuinya di planet bumi. Mereka lebih advanced. Lebih mulia. Lebih ‘tinggi’.

Sebuah suara keras dan menggetarkan seperti nyanyian mantra suci, terdengar turun dari atas ke bawah. Apakah makhluk-makhluk bersayap itu yang menghasilkan suara tersebut? Setelah memikirkannya di kemudian hari, ia menyimpulkan bahwa kegembiraan makhluk-makhluk bersayap itulah yang telah menyebabkan mereka bersuara seperti itu, saat mereka terbang membumbung tinggi. Suara itu sangat terang dan terasa secara fisik, seperti suara jatuhnya air hujan di kulit kita, namun yang tak membuat kita basah.

Melihat dan berada – semua menyatu di tempat itu. Ia bisa mendengarkan keindahan visual dari tubuh-tubuh keperakan makhluk-makhluk menakjubkan yang berada di atasnya, dan ia juga bisa melihat sempurnanya kegembiraan saat mereka bernyanyi. Ia bisa melihat atau mendengar apa pun dari dunia yang merupakan bagian integral dari dirinya. Semuanya memiliki perbedaan, namun semuanya juga merupakan bagian dari yang lainnya, seperti desain karpet Persia yang rumit dan cantik, atau seperti keindahan sayap kupu-kupu.

Desiran angin yang hangat terasa menembusnya seperti angin musim semi yang bertiup di puncak musim panas, menerbangkan daun-daun dari pepohonan, mengalir seperti air surgawi. Kesejukan surgawi. Angin itu mengubah semuanya, menggeser dunia di sekelilingnya dan menaikkannya ke oktaf yang lebih tinggi, ke dalam vibrasi yang lebih tinggi.

BERSAMBUNG

* Laksmi D. Haryanto. Sumber: Proof of Heaven by Eben Alexander, M.D. Simon & Schuster, New York, 2012. Foto: koleksi pribadi.

Category: HakikatTags:
No Response

Leave a reply "Mati Suri, Halusinasi, dan Surga (Bagian 7)"