Mati Suri, Halusinasi, dan Surga (Bagian 5)

0 228
Mati Suri, Halusinasi, dan Surga (Bagian 5)
Mati Suri, Halusinasi, dan Surga (Bagian 5)

Mati Suri, Halusinasi, dan Surga (Bagian 5)

Gonjreng.com – Volume suara indah ini semakin kuat dan akhirnya mengalahkan suara-suara detakan monoton yang selama ini menemaninya di kegelapan. Cahaya yang bersinar itu pun semakin mendekat dan mendekat, berputar dan menyiptakan semburat-semburat sinar putih murni yang di sana-sininya diselingi warna keemasan. Kemudian di tengah-tengah cahaya itu, muncul sesuatu yang lain. Ia memfokuskan kesadarannya, berusaha untuk mengetahui apakah itu.

Ternyata yang muncul adalah sebuah celah, bukaan. Kini ia tidak lagi memandang ‘ke’ cahaya itu, tetapi memandang ‘melalui’-nya. Pada saat ia menyadari hal ini, ia mulai bergerak ke atas. Sangat cepat. Di sekitarnya seperti ada suara desiran, dan dalam sekejap ia telah keluar, menembus celah atau bukaan itu.

Lalu ia menemukan dirinya berada di dunia yang benar-benar baru. Dunia yang paling aneh dan paling indah yang pernah dilihatnya. Dunia yang sangat vibran, brilian, menyenangkan, dan mengagumkan. Sebenarnya tidak ada kata-kata tepat yang bisa melukiskan keistimewaan dan keindahannya. Ia merasa seperti terlahir. Bukan dilahirkan kembali, tetapi terlahir.

Di bawahnya, terlihat sebuah pedesaan yang hijau, subur, membumi. Tempat itu tampak seperti bumi, namun juga seperti bukan bumi. Rasanya sebagian dirinya pernah menjadi bagian dari tempat itu di suatu masa, dan ia merasa gembira karena berada di tempat itu lagi.

Namun ia terus terbang, melewati pepohonan, ladang-ladang, sungai-sungai yang mengalir, berbagai air terjun, dan di sana-sini, juga terlihat orang-orang. Ia melihat anak-anak kecil yang bermain-main dan tertawa, sementara orang-orang menyanyi dan menari dalam lingkaran. Kadang-kadang ia melihat anjing yang berlarian dan melompat-lompat di antara orang-orang, dan merasakan kegembiraan yang sama dengan orang-orang itu. Mereka semua mengenakan pakaian yang sederhana dan simpel, tetapi sangat indah. Warna-warni pakaian mereka seperti warna-warni kehidupan yang mengalir hangat di pepohonan, bebungaan, dan pedesaan di sekitar mereka. Semua indah, menawan, dan seperti mimpi.

Namun, itu bukan mimpi. Meski ia tidak tahu dimana ia berada, bahkan ia tidak tahu siapa atau apa dirinya, ia yakin sepenuhnya akan satu hal: tempat dimana ia berada saat itu nyata, senyata-nyatanya. Namun sudah berapa lama ia terbang, ia tak tahu. Keberadaan ‘waktu’ di tempat itu tidak sama dengan ‘waktu’ bumi yang merupakan garis linear.

Di suatu titik, tiba-tiba ia tersadar bahwa ia tidak sendirian lagi. Seseorang berada di sebelahnya: seorang anak perempuan cantik dengan tulang pipi tinggi dan mata biru. Ia mengenakan pakaian yang sama seperti yang dikenakan orang-orang desa di bawahnya. Rambut panjang berwarna coklat keemasan membingkai wajahnya.

BERSAMBUNG

* Laksmi D. Haryanto. Sumber: Proof of Heaven by Eben Alexander, M.N. Simon & Schuster, New York, 2012. Foto: koleksi pribadi.

Category: HakikatTags:
No Response

Leave a reply "Mati Suri, Halusinasi, dan Surga (Bagian 5)"