Mati Suri, Halusinasi, dan Surga (Bagian 4)

0 220
Mati Suri, Halusinasi, dan Surga (Bagian 4)
Mati Suri, Halusinasi, dan Surga (Bagian 4)

Mati Suri, Halusinasi, dan Surga (Bagian 4)

Gonjreng.com – Semakin lama berdiam di tempat itu, ia merasa semakin tak nyaman. Awalnya ia begitu tenggelam di dalamnya sehingga ia merasa merupakan bagian dari elemen yang setengah menjijikkan, dan setengah familiar dengan sekelilingnya. Tetapi rasa terbenam di kedalaman yang tanpa waktu dan tanpa batas itu, sedikit demi sedikit mulai tergantikan oleh perasaan bahwa ia sesungguhnya bukan bagian dari dunia kelam itu. Ia hanya terperangkap di dalamnya.

Wajah-wajah binatang yang mengerikan mulai menyembul keluar dari lumpur, mengerang dan menjerit, lalu pergi. Sesekali ia mendengar suara auman di kejauhan. Kadang-kadang auman itu berubah menjadi suara mantra ritmis yang berulang-ulang, yang terdengar mengerikan namun juga secara aneh terasa familiar – sepertinya pada suatu titik ia sendiri pernah melakukan puja-puji ritmis itu.

Karena ia tak memiliki memori akan keberadaannya sebelumnya, waktu seakan membentang luas. Sudah berapa lama ia di situ? Beberapa bulan? Beberapa tahun? Sepanjang keabadian? Apa pun jawabannya, ia mulai tiba pada suatu titik di mana rasa tak nyaman mulai mengalahkan rasa familiarnya. Semakin ia menjadi ‘dirinya’, semakin ia merasa ada sesuatu yang memisahkannya dari gelap dan dingin di sekelilingnya, dan juga semakin banyak wajah-wajah buruk mengancam yang menyembul dari kegelapan. Suara-suara ritmis di kejauhan pun terdengar semakin tajam dan keras.

Keadaan di sekitarnya menjadi makin samar, namun ia mulai merasakan sesuatu – seperti dikelilingi oleh makhluk-makhluk reptil atau sejenis cacing, sekali-sekali ia merasa tergesek oleh kulit mereka yang licin atau tajam. Kemudian ia mencium bau yang sedikit seperti bau kotoran manusia, sedikit seperti bau darah, dan sedikit seperti bau muntah. Bau biologis tepatnya – namun biologis kematian, bukan biologis kehidupan. Semakin kesadaran akan ‘dirinya’ bertambah, ia semakin mendekati panik. Ia merasa bahwa siapa atau apa pun dirinya, ia bukan bagian dari tempat itu, dan ia harus segera keluar dari situ.

Tapi, pergi ke mana?

Pada saat timbul pertanyaan itu, tiba-tiba sesuatu muncul dari tengah-tengah kegelapan – sesuatu yang tidak dingin, atau mati, atau gelap – tetapi yang berlawanan dengan semua itu. Walaupun di kemudian hari di sepanjang hidupnya ia akan terus menyoba untuk melukiskan keindahan yang muncul di hadapannya itu, ia tahu ia tak akan pernah bisa menggambarkan sedikit saja apa pun yang bisa mendekati keindahan itu. Sesuatu yang muncul dari kegelapan itu menyinarkan semburat-semburat halus cahaya putih keemasan. Dan, begitu sesuatu yang bercahaya itu muncul, kegelapan langsung hilang.

Kemudian ia mendengar suara baru: yakni suara kehidupan – suara itu adalah suara yang paling kaya, paling kompleks, suara musik yang terindah yang pernah didengarnya.

BERSAMBUNG

* Laksmi D. Haryanto. Sumber: Proof of Heaven by Eben Alexander, M.D. Simon & Schuster, New York, 2012. Foto: koleksi pribadi.

Category: HakikatTags:
No Response

Leave a reply "Mati Suri, Halusinasi, dan Surga (Bagian 4)"