Mati Suri, Halusinasi, dan Surga (Bagian 2)

2 328
Mati Suri, Halusinasi, dan Surga (Bagian 2)
Mati Suri, Halusinasi, dan Surga (Bagian 2)

Mati Suri, Halusinasi, dan Surga (Bagian 2)

Gonjreng.com – Pada saat Dokter Eben Alexander digeledek masuk ke ruang Gawat Darurat, tak seorang pun mengira ia mengidap bakteri Escherichia coli atau E. coli meningitis. Penyakit ini luar biasa langka pada orang dewasa, dan diperkirakan hanya satu dari 10 juta orang dewasa di dunia yang terkontraksi setiap tahunnya. Bakteri meningitis pertama-tama akan menyerang cortex, atau lapisan luar otak yang mengatur akal manusia, memori, bahasa, emosi, serta daya tangkap visual dan pendengaran. Jadi saat organisme E. coli menyerang otak manusia, kerusakan awal yang diderita pasien adalah runtuhnya seluruh fungsi utama yang menjadikannya manusia.

Kebanyakan pasien bakteri meningitis meninggal dunia hanya beberapa hari setelah terserang. Mereka yang berhasil tiba di rumah sakit akan mengalami penurunan fungsi neurologi secara drastis, dan hanya sekitar 10 persen yang berhasil diselamatkan, walaupun pada umumnya hanya dalam arti hidup tanpa daya seperti tumbuh-tumbuhan.

Di rumah sakit, Dokter Alexander meronta-ronta, menjerit, dan mendesis seperti hewan liar yang menderita kesakitan selama dua jam, lalu terdiam. Kemudian secara tiba-tiba ia meneriakkan tiga kata, “God, help me!” sebelum akhirnya menghilang dalam koma. Karena tubuhnya tidak bereaksi terhadap antibiotik dan obat-obatan, kondisi Dokter Alexander terus menurun secara drastis. Pada hari ketujuh, tim dokter angkat tangan, dan meminta keluarganya untuk merelakannya pergi.

Pada saat itulah, terjadi keajaiban. Tiba-tiba Dokter Alexander membuka mata dan tersadar. Selanjutnya, secara perlahan-lahan ia berangsur-angsur sembuh. Walau pada awalnya ia merasa seperti bayi yang baru lahir dan menghadapi kesulitan melakukan komunikasi komprehensif, namun secara ajaib pada akhirnya ia berhasil mengumpulkan semua fungsi manusianya secara utuh, sembuh total, dan lebih ajaib dari semua itu – ia mampu mengingat pengalaman perjalanan astralnya selama ia koma.

Sebelum mengalami peristiwa hidup-mati tersebut, Dokter Alexander tidak percaya terhadap keberadaan jiwa. Ia meyakini bahwa cerita-cerita perjalanan astral para pasiennya yang mati suri atau koma adalah halusinasi akibat sintesa kimiawi otak yang rusak atau mengalami stres berat.

Sebelum ini, ia tidak terlalu memikirkan tentang adanya Tuhan. Namun setelah terbangun dari koma dan bisa mengingat-ingat lagi pengalamannya sendiri, sebagai ahli bedah otak yang handal dan berpengalaman, Dokter Alexander tahu bahwa yang dialaminya adalah nyata.

Ia mengalami sesuatu yang nyata, bukan produk kimiawi otaknya – karena bagian otak yang membuatnya sebagai manusia, saat itu sama sekali dikuasai bakteri, tertutup, dan rusak. Tanpa membaca lebih dulu buku-buku tentang Near Death Experiences (NDEs) lainnya agar tak memperngaruhi obyektivitasnya, ia berusaha menulis setiap detil perjalanan astralnya.

BERSAMBUNG

* Laksmi D. Haryanto. Sumber: Proof of Heaven by Eben Alexander, M.D. Simon & Schuster, New York, 2012. Foto: koleksi pribadi.

Category: HakikatTags:
2 Responses
  1. author

    tagar3 years ago

    masya’alloh syukhron atas artikelnya robot canggih

    Reply
    • author

      Evi Puspa3 years ago

      Terima kasih.

      Reply

Leave a reply "Mati Suri, Halusinasi, dan Surga (Bagian 2)"