Mati Suri, Halusinasi, dan Surga (Bagian 10)

0 323
Mati Suri, Halusinasi, dan Surga (Bagian 10)
Mati Suri, Halusinasi, dan Surga (Bagian 10)

Mati Suri, Halusinasi, dan Surga (Bagian 10)

Gonjreng.com – Sebelum jatuh koma, Dokter Eben Alexander adalah seorang dokter sekuler yang menghabiskan hampir seluruh hidupnya di berbagai institusi penelitian terkenal di dunia, berusaha mencari koneksi antara otak manusia dan kesadaran. Sebagai seorang ahli bedah otak, berulang-kali ia mendengar kisah-kisah tentang Near Death Experience (NDE) dari pasien-pasiennya, namun ia selalu menganggap semua itu adalah halusinasi yang disebabkan oleh otak yang terganggu, atau otak yang dipengaruhi oleh obat-obatan. Sebagai seorang dokter, ia tahu inti dari kesadaran manusia adalah otak. Hanya otak yang mampu ‘mengatur’ manusia menjadi manusia. Itu fakta ilmiah.

Sebagai ilmuwan ia mendasari pengalaman mati surinya pada berbagai asumsi ilmiah seperti: Apakah itu halusinasi dari pengaruh obat-obatan? Apakah itu intrusi dari kondisi REM (Rapid Eye Movement) yakni tidur yang teramat dalam, dimana neotransmitter seperti serotonin berinteraksi dengan receptor di neocortex? Apakah itu hasil dari program primitif dari otak yang teraktivasi secara otomatis untuk menghilangkan sakit dan penderitaan? Apakah itu fenomena dimana pineal gland yang tereaksi oleh stres akibat persepsi ancaman ke otak, memproduksi substansi yang disebut DMT (N,N-dimethyltryptamine) yang berfungsi menenangkan dan menghasilkan halusinasi? Apakah itu fenomena dari otak melakukan ‘rebooting’ seperti komputer yang overheated?

Agar semua asumsi itu valid, neocortex – bagian otak yang menjadikannya manusia – harus mampu melakukan respon. Namun pada saat ia koma, neocortex-nya rusak dan mati karena digerogoti bakteri E. coli. Dengan begitu semua asumsi halusinasi gugur. Yang terjadi padanya bukan halusinasi. Perjalanan astralnya, adalah realita.

Keinginannya mempelajari kesadaran ini membawanya pada berbagai ilmu, mulai dari neuroscience, psychology, philosophy, hingga ilmu fisika terkini, quantum mechanics. Eksperimen-eksperimen quantum mechanics telah mengejutkan para ilmuwan karena berhasil membuka pintu pada masuknya pengertian-pengertian mistikal dan karenanya sering ditandai sebagai titik temu antara sains dan spiritualisme, yang selama ini dianggap terpisah. Ada tiga hal penting yang digarisbawahinya di sini.

Yang pertama, realita tidak bisa dipisahkan dari kesadaran, dan kesadaran atau consciousness adalah inti dari keberadaan semuanya. Kedua: kita semua secara tak terpisahkan, terhubung dengan semesta yang maha luas. Dan ketiga: ada kekuatan belief (atau keyakinan) yang bisa merealisasikan “mind-over-matter” atau mematahkan hukum fisik yang berlaku di dunia.

Semesta yang luas itu letaknya ‘di sini’, di mana kita berada. Kita tak dapat mendeteksinya karena frekuensinya berbeda dengan frekuensi kita. Di semesta yang infinite ini, Tuhan hadir di setiap partikelnya. Mengobrol dengan Tuhan kedengarannya seperti tak mungkin, tetapi sesungguhnya itu adalah pengalaman paling manusiawi, karena Tuhan hadir di dalam kita, setiap saat. Kita semua terhubung menjadi satu kesatuan melalui rantai suci Sang Pencipta.

SELESAI

* Laksmi D. Haryanto. Sumber: Proof of Heaven by Eben Alexander, M.D., Simon & Schuster, New York, 2012. Foto: koleksi pribadi.

Category: HakikatTags:
No Response

Leave a reply "Mati Suri, Halusinasi, dan Surga (Bagian 10)"