Marlina Si Pembunuh, Kaleidoskop Hidup yang Kaya

Marlina Si Pembunuh

Gonjreng.com – “Aku tak sudi nonton film pembunuhan,” pikirku saat tahu ada film yang berjudul aneh ‘Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak’ sedang beredar. Awalnya aku bergeming. Meski film yang disutradarai Mouly Surya ini terpilih jadi satu-satunya wakil Asia Tenggara di Festival Film Cannes yang bergengsi, aku sama sekali tak tertarik untuk menontonnya. Sebelum tayang di Indonesia, film ini telah mengunjungi Cannes, Toronto, New Zealand, Busan, Melbourne, dan Maroko, serta menuai berbagai penghargaan dan pujian internasional.

Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak

Sumba yang indah sebagai setting ‘Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak’

“Kenapa judulnya pakai kata pembunuh?” protesku. “Kenapa tidak dijuduli ‘Marlina’ saja, titik. Itu akan lebih menjual, bukan?” Wait, wait! Seorang sahabatku yang saat itu sedang bersama, tertawa berderai. Ia mengingatkan, “Hellow. Itu judul zaman Now, zaman millennial!”

Aku terhenyak. Kesadaran bahwa aku hidup di zaman yang semuanya sedang berubah cepat inilah yang kemudian membawa langkahku memasuki Teater XXI untuk ‘memeriksa’ – seperti apa sebenarnya ‘Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak’ ini? Seperti apa sih film zaman Now itu?

Maka, terpanalah aku. Padang rumput keemasan dengan gundukan perbukitan dan jalanan sunyi yang meliuk, menjulur ke laut biru, tiba-tiba membentang indah di layar lebar. Seperti memasuki ‘dunia lain’, dengan lahap kunikmati sajian-sajian sinematografis cantik Mouly Surya dari berbagai sudutnya. Aku mencatat, Sumba adalah permata, dan akan jadi tujuan wisataku berikutnya.

Tapi aku tak bisa bermimpi lama. Di layar lebar tiba-tiba terlihat sebuah golok terhunus, dan dengan ketegangan yang mampu menandingi film-film Quentin Tarantino, sebuah kepala tertebas, melayang, lalu menggelinding ke sudut kamar. “Hey, ini bukan film pariwisata! Ini film pembunuhan!” aku mengingatkan diriku.

Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak

Mouly Surya, kedua dari kiri, sutradara ‘Marlina Si Pembunuh’ dalam Empat Babak’

‘Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak’ kemudian mengalir seperti sebuah kaleidoskop hidup yang kaya. Ini adalah kisah seorang janda yang disatroni segerombolan perampok di rumahnya yang terpencil di tengah padang rumput. Tak hanya dirampok, ia juga diperkosa. Dalam upaya membela diri ia membunuh beberapa perampok, termasuk menebas kepala pimpinan rampoknya. Kemudian nurani kemanusiaan dan rasa keadilan membawa langkahnya menuju kantor polisi. Ia ingin bertanggung jawab secara ksatria. Namun apa yang dialaminya?

Layaknya kehidupan, kaleidoskop mengalir berganti-ganti antara gelap dan terang, antara tangis dan tawa, jahat dan baik, keras dan lembut, dosa dan pahala. Semua kontras kehidupan tertuang jadi satu lukisan karya bak pelangi. Tak hanya kekelaman dan cahaya saja yang hadir, warna abu-abu pun selalu membayang di antara kontras-kontras itu. Yang kita anggap jahat belum tentu jahat, dan yang kita anggap baik belum tentu baik. “Marlina itu enggak sadis, dia anggun dan baik hati,” papar Mouly di hadapan media beberapa saat lalu.

Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak

Marsha Timothy, Pemeran Utama ‘Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak’

Marsha Timothy sang pemeran utama ‘Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak’ ini pun begitu total dalam penghayatannya. Kekuatan karakter Marlina yang keras tapi juga lembut, miris tapi juga tegar, depresif tapi juga kuat – dapat dituangkannya dengan sempurna. Melalui ‘Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak’ ini Marsha bahkan mampu menyabet penghargaan aktris terbaik di ajang Sitges International Fantastic Film Festival, mengalahkan berbagai aktris internasional papan atas lainnya.

Mouly Surya, menurut review dari Cannes, telah menghadirkan sebuah genre baru, ‘Satay Western’, dalam dunia perfilman internasional. Aku sama sekali belum ‘ngeh’ makhluk apakah ‘Satay Western’ ini. Namun yang jelas, film yang tidak biasa dan luar biasa ini, layak ditonton. Keluar dari zona nyaman itu, memperkaya.

* Sumber foto: koleksi pribadi.

Category: PelangiTags: