Mahfud MD Kurang Kerjaan, Iseng, atau Apa?

Gonjreng.com – Mahfud MD kurang kerjaan?

Weleh-weleh.

Benarkah Mahfud MD kurang kerjaan sehingga memberi tanggapan terhadap sesuatu yang bukan termasuk bidang atau tugasnya sebagai menko polhukam?

Jangan-jangan hanya iseng saja.

Tudingan Mahfud MD kurang kerjaan, atau iseng ini berkait dengan pernyataannya tentang Formula E, dan menduga alasan Anies mengeluarkan keputusan menunda pergelaran yang rencananya akan diadakan di Monas, Jakarta. 

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan telah memutuskan untuk menunda pergelaran Formula E yang tadinya akan dilaksanakan pada 6 Juni 2020 dengan alasan yang berkait dengan adanya wabah virus corona di Indonesia, khususnya Jakarta yang tertuang dalam surat bertanda tangan Anies kepada Organizing Committee (OC) Jakarta E-Prix, Rabu (11/3). 

“Mencermati perkembangan Covid-19 di berbagai belahan dunia khususnya di Jakarta, maka penyelenggaraan Formula E yang semula dijadwalkan pada bulan Juni 2020 agar ditunda pelaksanaannya,” kata Anies Baswedan seperti dikutip dari cnnindonesia.com.

Atas keputusan Anies tadi, Mahfud MD pun ikut mengomentari dan menanggapinya.

Weleh-weleh.

Beberapa hari lalu terjadi pro dan kontra setelah Jokowi mengumumkan 4 kandidat Kepala Badan Otorita Ibu Kota Baru di Kalimantan Timur, dan ada nama Ahok sebagai salah satu kandidat.

Apakah Menko Polhukam Mahfud MD ikut menanggapinya?

Di sinilah mungkin saja ada sebagian pihak tersenyum simpul dan geli serta berasumsi Anies Baswedan lebih populer dibanding Ahok di mata Mahfud MD sehingga menko polhukam itu ikut menanggapi atau mengomentari keputusan Anies terkait penundaan Formula E tadi.

Namun di sisi lain mungkin saja ada sebagian pihak yang menilai wajar jika Menko Polhukam Mahfud MD ikut mengomentari atau memberi tanggapan atas keputusan Anies tadi karena jabatan gubernur DKI Jakarta lebih bergengsi dibanding komisaris utama sebuah BUMN. 

Bukankah jabatan gubernur itu setingkat menteri? Bahkan lebih bergengsi dibanding menteri untuk bidang tertentu, menurut pendapat sebagian pihak, sedangkan jabatan komisaris utama sebuah BUMN selama ini tidak ada pihak yang mengatakannya setingkat menteri, apalagi lebih dari itu.

Hmmm.

Ada juga dugaan yang mengatakan nama Ahok dan Anies masih merupakan magnet berita, dan apapun yang berkait dengan kedua sosok ini bisa dijadikan pengalihan isu untuk kasus-kasus besar seperti kasus dugaan korupsi gila-gilaan atau mega skandal pada kasus Jiwasraya dan Asabri.

Ahok Anies…Anies Ahok…diselingi berita lainnya yang bisa menarik perhatian masyarakat seperti ISIS, kemudian menghilang begitu saja atau tidak jelas kelanjutannya…lalu kembali lagi tentang Ahok dan Anies dijadikan berita hangat hingga publik pun lupa ada kasus dugaan korupsi gila-gilaan atau mega skandal yang disebut kasus Jiwasraya dan Asabri serta kasus mega skandal lainnya, teringat era Soeharto (Orde Baru).

Ahok Anies…Anies Ahok…Ahok Anies…Anies Ahok…diperkirakan tahun 2020 ini tidak sedikit berita hangat yang muncul terkait kedua sosok tadi.

Mahfud MD pula yang pertama kali mengatakan ada dugaan korupsi gila-gilaan seperti kasus Jiwasraya, kemudian dikenal sebagai kasus Asabri. 

Awalnya cukup keras komentar atau tanggapan Mahfud MD terkait kasus Asabri, tapi selanjutnya terkesan melempem atau tidak ada lagi suaranya.

Sudah ada beberapa tersangka pada kasus Jiwasraya, sedangkan kasus Asabri hingga saat ini belum ada tersangkanya. Apakah ada komentar atau tanggapan Mahfud MD terkait hal ini?

Maka dari itu, mungkin saja ada anggapan menko polhukam kurang kerjaan, atau iseng ketika ikut menanggapi keputusan Anies Baswedan menunda pergelaran Formula E tadi.

Apa komentar Mahfud MD?

Menurutnya ada kekhawatiran kegiatan Formula E itu tidak berlangsung sukses, makanya ditunda. 

“Karena melihat situasi jangan-jangan itu tidak sukses kan, karena kecenderungan di banyak dunia menghendaki agar menghindarkan perkumpulan-perkumpulan orang terlalu banyak, seperti tontonan dan sebagainya.”

Apa urusannya sukses atau tidaknya sebuah pergelaran Formula E dengan jabatan Mahfud MD saat ini?

Mau sukses kek, mau rugi kek, apa urusannya?

Kurang kerjaan.

Iseng banget jadi orang.

Kayak gak ada lagi urusan yang jauh lebih penting yang berkait dengan polhukam.

Mungkin saja ada keheranan sebagian pihak seperti itu, selain ada anggapan Anies Baswedan lebih populer dibanding Ahok di mata Mahfud MD.

Tapi masih ada pernyataannya yang lain.

“Yang tahu alasan penundaan itu tentu Pak Anies, karena memang Pak Anies yang punya program itu, program Formula itu, dia yang mengumumkan dulu bahwa akan ada itu, lalu dia juga yang kalau harus ditunda, dia juga menunda.” 

Kalau sudah tahu Anies yang lebih tahu, mengapa ikut menanggapi ditundanya pergelaran Formula E?

Kurang kerjaan, iseng, atau apa?

Ada apa sebenarnya?

Segala tudingan di atas tadi bisa buyar seketika setelah mengamati komentar atau tanggapan Mahfud MD selanjutnya.

Alasan Anies menunda pergelaran Formula E karena terkait wabah virus corona di Indonesia, termasuk Jakarta.

Menurut Mahfud MD, keadaan Jakarta saat ini masih terbilang aman, dan ia pun memberi jaminan atau memastikan hal itu.

“Pak Anies lah itu yang berhak menjawab alasannya, saya merasa Jakarta aman saja. Menurut saya sih keamanan dan situasi Jakarta itu biasa-biasa saja, enggak ada kepanikan yang luar biasa.” 

Ternyata ada usaha untuk menenangkan masyarakat agar tidak panik, resah, dan gelisah atas wabah virus corona saat ini sesuai anjuran Jokowi. 

Beberapa hari lalu Jokowi mengatakan jangan panik, tapi kalau khawatir boleh.

Sila baca juga: Jangan Panik, Kalau Khawatir Boleh, Kata Jokowi.

Awalnya Mahfud MD menduga alasan ditundanya pergelaran Formula E karena ada kekhawatiran akan mengalami kerugian, yang sebenarnya bukan urusan seorang menko polhukam, tapi setelah itu ada usaha untuk menenangkan masyarakat terkait wabah virus corona yang sedang melanda Indonesia, termasuk Jakarta. Bukankah hal ini pun termasuk tugas seorang menko polhukam, jabatan yang disandang Mahfud MD saat ini?

Ada-ada saja.

Kirain kurang kerjaan.

Iseng banget jadi orang. Hal yang bukan bidang atau tugasnya kok dibahas?

Kayak gak ada aja masalah atau urusan yang jauh lebih penting.

Tapi ujung-ujungnya masih ada juga kaitannya dengan polhukam.

Di sinilah tidak tertutup kemungkinan ada yang tertawa ngakak atas segala tudingan kepada Mahfud MD tadi sambil menyarankan agar lebih mempelajari dan mendalami jurus politik yang dinamakan “muter-muter kayak gasing”.

Muter-muter dulu, gazebo (gak zelas bo), ooo…ternyata arahnya ke sana.

***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *