Macan Tutul Jawa di Taman Nasional Gede Pangrango

Gonjreng.com – Macan tutul Jawa (Panthera pardus melas) adalah sub-species dari macan tutul yang hanya ditemukan di pulau Jawa, terutama Jawa Barat, dan satu-satunya keluarga kucing besar yang masih ada di pulau Jawa saat ini. Ia adalah salah satu dari empat jenis kucing besar, selain harimau, singa, dan jaguar, namun ukuran tubuhnya lebih kecil dibanding saudaranya di Afrika, Eropa atau Arab. Pemburu ulung ini dapat memanjat pohon cukup tinggi dan mangsanya pun dibawa untuk dinikmati dan disimpan di sana.

Macan tutul Jawa hidupnya soliter dan hanya memiliki satu pasangan saja seumur hidupnya. Macan tutul dan macan kumbang itu sama, hanya bedanya macan kumbang memiliki pigmen hitam yang berlebihan. Bila dilihat dari dekat bulu macan kumbang memiliki pola yang sama dengan macan tutul.

Saat ini jumlah macan tutul Jawa diperkirakan hanya sekitar 400 ekor saja, dan populasi terbesar hidup di Taman Nasional Gede Pangrango.

Minggu lalu saya beruntung dapat berkunjung ke penangkaran macan tutul Jawa yang terletak di dalam kawasan Taman Safari, Puncak. Di penangkaran tersebut belasan macan tutul yang berasal dari berbagai tempat di Jawa seperti dari Surade, Tasik, dan Cilacap dipelihara di sana, termasuk macan kumbang.

Mereka diselamatkan setelah ditangkap penduduk karena masuk kampung. Kang Didin, sang penjaga sekaligus pawang menceritakan asal binatang asuhannya tadi, dan bagaimana cara merawatnya. Bersama dengan Kang Didin, mereka terlihat bak kucing rumah yang manis, tapi jangan coba mengulurkan tangan ke dalam kandangnya, jika tak ingin tercakar kuku yang tajam.

Cukup mengenaskan melihat para pemburu ulung ini harus menempati kandang yang sempit dan kehilangan kebebasannya, meski makan dan kesehatannya terjaga dengan baik. Awalnya macan tutul atau macan kumbang ini akan dikembalikan ke habitatnya di Taman Nasional Gede Pangrango, namun dari 2 kali pelepasan macan tutul Jawa tadi mati terperangkap jebakan babi hutan yang dipasang oleh penduduk.

Tidak mengherankan karena babi hutan termasuk salah satu mangsa mereka, tapi merupakan hama bagi pertanian yang merugikan penduduk setempat. Akhirnya diputuskan untuk tidak lagi melepaskan macan tutul yang ada di penangkaran tadi kembali ke alam. Banyaknya konversi hutan menjadi pertanian menyebabkan tempat hidup macan tutul pun semakin sempit. Mangsa mereka pun semakin sedikit. Seringkali mereka memasuki kawasan pemukiman untuk mencari mangsa sehingga tertangkap dan dibunuh.

Semoga pemerintah dapat memberikan tempat yang aman, dan cukup luas bagi macan tutul agar dapat berburu kembali serta berkembang biak dengan baik mengingat jumlahnya semakin sedikit saja.

Darmayani Utami. Sumber foto : pixabay.com.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *