Lurik, Makin Lama Makin Menarik dan Dicintai

1 301
Lurik
Lurik

Gonjreng.com – Lurik adalah hasil tenunan benang tradisional yang berasal dari Jawa Tengah dengan motif dasar garis atau kotak dengan warna suram dan diselingi aneka warna benang-benang hiasan.

Lurik berasal dari akar kata rik yang berarti garis atau parit. Mengenakan kain tenun jenis ini bermakna sebagai pagar atau pelindung bagi pemakainya. Selain sebagai pelindung juga sebagai pengingat bahwa hidup ini memiliki tujuan yang lurus, dan karenanya hidup harus dijalani dengan lurus dan terus beriringan dengan sesama.

Di masa lalu, biasanya kain ini diwarnai dengan warna-warna bumi seperti coklat, hitam, atau abu-abu. Warna-warninya saat ini sudah semakin semarak, karena penggunaan pewarna beralih dari pewarna alami ke zat warna kimia.

Mengapa? Pewarna alami sudah semakin langka, dan karenanya menjadi mahal dan tidak praktis lagi. Penggunaan pewarna alami sebenarnya melestarikan tradisi, kearifan, serta pengetahuan lokal yang sudah berkembang sejak dulu.

Meninggalkan pewarna alami dan menggantinya dengan pewarna kimia sebagian besar telah memutus tradisi kearifan lokal warisan para leluhur. Namun ternyata, warna-warni semarak ini telah menjadikan kain ini makin menarik dan dicintai, karena tampak lebih indah seperti pelangi.

Menggunakan pewarna alami memang menghasilkan warna yang lebih redup dibandingkan dengan pewarna kimia, namun lebih sehat bagi para perajinnya dan lebih ramah lingkungan. Limbahnya pun tidak berbahaya bagi masyarakat sekitar.

Hal inilah yang menyebabkan mengapa harga dengan pewarna alami lebih tinggi dibanding dengan harga dengan pewarna kimia.

Lurik modern dengan pewarna kimia lebih dikenal dengan nama lurik pelangi. Lurik pelangi mudah dijumpai di mana-mana. Di Jakarta seperti di Pasar Jatinegara, Thamrin City, atau Pasar Grosir Cililitan, kita bisa dibuat bingung melihat pilihannya yang beraneka.

Dengan harga yang sangat beragam, kita harus pandai memilih. Mahal-murahnya harga biasanya tergantung dari bahan dasar yang dipakai, dan kerapatan tenunannya.

Jenis tenunan ini juga menjadi inspirasi bagi beberapa designers terkenal seperti Lulu Lutfi Lababi, Didiet Maulana, Stephanus Hamy, dan Zaskia Sungkar.

Mereka senang membuat pakaian dengan bahan lurik yang berwarna lawas, atau warna-warna alam. Para designers muda ini sangat bersemangat berkarya mengangkat lagi warisan leluhur.

Desain-desain yang diciptakan sangat menarik sehingga mampu mengangkat pesona lurik menjadi terkenal, mendunia, makin menarik dan dicintai.

Sesungguhnya lurik lawas atau modern, semuanya tetap merupakan kain tenun asli Indonesia. Apa pun pilihan Anda, dengan memakainya berarti kita turut serta melestarikan wastra Nusantara dari Jawa, warisan leluhur kita.

* Witdya Pudjanarko, dari beberapa sumber. Sumber foto: wikipedia.org.

Category: PelangiTags:
One Response
  1. author

    chaerul2 years ago

    bu kalau di Jakarta bisa dicari dimana ya, sebelumnya terimakasih

    Reply

Leave a reply "Lurik, Makin Lama Makin Menarik dan Dicintai"