Kota Tua Jakarta
Kota Tua Jakarta

Gonjreng.com – “Ah, Pasar Pagi tak ramai lagi. Mau gak kita menyusuri gang-gang sempit di sekitar sini? Yuk lihat, apakah kawasan Kota Tua Jakarta masih menarik?” ajakku pada seorang sahabat yang menemani berkeliling kawasan Kota Tua Jakarta akhir tahun lalu. Niat awal untuk melihat keramaian akhir tahun di Pasar Pagi pun berubah menjadi wisata mengamati bangunan-bangunan tua.

Salah Satu Gang di Kota Tua Jakarta

Gang-gang sempit yang kami telusuri di seputaran Pasar Pagi ternyata punya banyak belokan bak labirin. Meski seperti memasuki dunia masa lalu, di gang-gang kecil ini pun nadi perdagangan ternyata berdenyut kencang. Tak jarang kami harus menepi karena berpapasan dengan para pekerja yang mendorong troli-troli besar berisi barang-barang. Yang membuatnya khas, di gang-gang kecil ini toko-toko jadi satu dengan tempat tinggal.

Dinamikanya bisa tiba-tiba berubah drastis, seperti memasuki lorong waktu. Di suatu sudut, kami melihat toko kue yang hanya menjual beberapa potong roti dan beberapa botol minum. Seperti hidup segan mati tak mau, toko kuno itu hanya ditunggui oleh sebuah kursi bobrok yang mungkin berasal dari zaman perang! Di sudut lain, seorang kakek Tionghoa duduk termangu di kursi rodanya sambil memandang hampa ke luar. Sebenarnya aku ingin bertanya, “Apa yang dipikirkannya? Apakah ia mengenang masa lalu yang telah hilang?”

Toko Tua Ala Kadarnya

Namun biarlah pertanyaan itu kusimpan sendiri. Langkah kami sampai di halaman belakang SMP Negeri 32 di Jalan Pejagalan. Di situ, dengan sedih kami menatap sebuah reruntuhan gedung kuno yang baru dua hari berselang rubuh. “Tiba-tiba saja gedung kuno yang masuk daftar cagar budaya ini runtuh,” ujar Bapak Silaban, salah seorang guru yang mengajar di SMP Negeri 32. “Beruntung saat itu tidak ada siapa-siapa di dalamnya.”

Sebuah Cagar Budaya yang Runtuh

Meski atapnya runtuh dan menghancurkan sebagian besar bangunan, aku masih bisa melihat sisa-sisa keindahan di bekas-bekas pagar balkon kayu yang berukiran ala Victoria. Bangunan tua yang dibangun pada tahun 1880 dan beratap khas arsitektur Cina itu, dulunya adalah tempat tinggal keluarga pedagang Cina. Ia membangun hotel di tepi sungai yang bisa dilalui kapal. Karena lokasinya strategis, hotel itu sering dikunjungi oleh para pedagang yang datang ke Batavia. Sekarang kompleks itu menjadi SMP Negeri 32. Dengan prihatin aku mengamati sekali lagi gedung kuno yang kini tinggal reruntuhan dan dikelilingi oleh pita kuning garis polisi. Sebuah cagar budaya yang seharusnya terawat namun tidak terurus, lagi-lagi mengucapkan selamat berpisah!

Deretan Rumah Tua di Kota Tua Jakarta

Perasaan kami masih campur-aduk saat meneruskan langkah. Bangunan-bangunan kuno yang kami harapkan masih berdiri dengan gagah di Kota Tua Jakarta, banyak yang sudah diambrukkan dan diubah menjadi gedung modern. Aku bertanya-tanya dalam hati, “Apakah perlindungan cagar budaya tak lagi bertaji dan begitu lemah?” Ah, beruntung di Jalan Kopi dan Jalan Tiang Bendera masih ada sederetan bangunan kuno berbalkon yang mengingatkanku pada rumah-rumah ala Perancis. Namun, tak banyak. Di sana-sini terselip beberapa rumah kuno yang tak terawat, dan bahkan hancur karena ditumbuhi pepohonan besar.

Bekas Gedung VOC yang Masih Gagah

Barulah setelah melalui bawah jembatan kereta api dan jalan tol Tanjung Priok, di hadapan kami berdiri sebuah gedung kuno yang masih terlihat sisa-sisa kemegahannya. Gedung yang didirikan pada abad 17 dan berlogo gambar kapal layar itu adalah peninggalan VOC Belanda. Meski sayap kirinya sudah dimanfaatkan untuk restoran, namun ada spanduk besar membentang bertuliskan ‘disewakan’. “Susah mencari penyewa, Bu,” ujar staf keamanan yang menemui kami. “Karena gedung ini masuk cagar budaya, tidak boleh ada perubahan apa-apa. Sedangkan biaya perawatannya sendiri sangat besar.”

Lambang Bergambar Kapal di Gedung Tua

Aku mengamati jendela-jendela dan gerbang-gerbang kayunya yang terbuat dari kayu-kayu jati tebal yang tak lekang dimakan waktu. Meski usianya sudah ratusan tahun, semuanya masih berdiri kokoh, seakan menantang senja. Namun sampah-sampah yang berserakan di depan gerbang mengisahkan cerita miris tersendiri. Gedung VOC ini pernah sangat megah, sangat gagah, dan sangat sibuk di masa jayanya. Namun, saat ini mungkin hanya hantu dan gelandangan yang bisa menyusup masuk saja, yang menjadi penghuninya.

Menara Syahbandar di Kota Tua Jakarta

Pengembaraan kami senja itu berakhir di batas pantai Utara Kota Tua Jakarta. Berjalan ke Utara, tiba-tiba kami melihat sebuah menara yang indah. Itulah Menara Syahbandar yang di zaman VOC merupakan titik nol Kota Batavia. Syahbandar adalah kepala pelabuhan, dan Menara Syahbandar adalah menara yang digunakan untuk memantau lalu-lintas kapal di Pelabuhan Sunda Kelapa di zaman VOC Belanda. Tentu saja kami tak menyia-nyiakan kesempatan untuk mendaki tangga menuju puncak menara yang hanya 12 meter! Cuma dengan 5000 rupiah saja, kami telah memegang tiket untuk bisa menaiki menara dan mengunjungi Museum Bahari yang terletak di sebelahnya.

Jendela Ke Arah Pelabuhan Sunda Kelapa

Angin pantai bertiup sepoi-sepoi saat kami berada di puncak Menara Syahbandar yang jendela-jendelanya terbuka ke segala arah. Dari jendela pandang, kami dapat menikmati Pelabuhan Sunda Kelapa, Museum Bahari, dan sebuah bangunan yang sedang dibangun di atas areal yang dahulunya adalah Pasar Ikan. Di kejauhan tampak dua menara masjid Luar Batang yang berseberangan dengan Pelabuhan Sunda Kelapa. Kami masih bisa mengamati bekas jalur-jalur kanal yang dulu dibangun VOC Belanda, namun yang sekarang sudah mengering dan kebanyakan berubah menjadi jalan aspal beton.

Sambil menikmati angin yang bertiup, aku membatin, “Kawasan Kota Tua Jakarta masih menarik dengan serba-serbi sejarahnya. Terlepas dari bagaimana kejamnya Belanda di masa lalu, tak seharusnya kita mengabaikan peninggalan-peninggalan sejarah yang berharga ini. Sejarah adalah fondasi kebangsaan Indonesia.”

* Foto-foto adalah koleksi pribadi.

Sila Komentar

Sila Tinggalkan Komentar Anda
Masukkan Nama Anda di Sini

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.