Kota Tanpa Sampah, Mungkin!

0 267
Kota Tanpa Sampah
Kota Tanpa Sampah, Mungkin!

Gonjreng.com – Pagi itu lingkungan di seputar Jalan Camar dan Pinguin (Caping), Bintaro Jaya Sektor 3, Tangerang Selatan (Tangsel), tampak kinclong. Perumahan dan pekarangan di sekitarnya bersih, asri, dan tertata rapi. Tak ada sampah sama sekali. “Jadi kota tanpa sampah, mungkin?” batinku takjub sambil mengamati kebersihan di sekelilingku.

Kota Tanpa Sampah

Wilma menjelaskan konsep Kota Tanpa Sampah

“Kota tanpa sampah, mungkin!” kata Wilma Chrysanti dengan yakin. Ia adalah salah seorang penggiat komunitas Kota Tanpa Sampah di wilayah Bintaro Jaya Sektor 3. Karena gaung komunitas Kota Tanpa Sampah ini semakin lama semakin kencang, pagi itu aku meluangkan waktu untuk mengetahui apa saja yang telah mereka lakukan, sehingga selain beberapa kali menyabet juara kebersihan di Bintaro Jaya, komunitas ini juga pernah dikunjungi oleh team pengamat dari Swedia.

“Tadinya konsep kebersihan warga di sini sama seperti umumnya – bersih artinya sampah tidak kelihatan lagi. Bersih artinya membuang, atau memindahkan sampah ke tempat lain. Setelah jam 09.00 lingkungan di sekitar Caping ini tampak kinclong! Itu karena truk pengangkut sampah sudah selesai bertugas. Tapi sebelum jam 09.00, plastik-plastik sampah terlihat bergelantungan di pagar-pagar rumah,” ungkap Wilma. “Jadi, bersih itu hanya sebatas mata kami terbebas dari memandang sampah. Padahal problem tumpukan sampah hanya kami pindahkan ke tempat lain.”

Kota Tanpa Sampah

Novita Sari dengan Komposter

Paradigma hidup yang ‘pokoknya sudah buang sampah ke tempat lain’ atau ‘pokoknya terima beres karena sudah bayar iuran kebersihan’ inilah yang menurut Novita Sari, salah seorang penggiat Kota Tanpa Sampah, perlu digeser karena menciptakan bom waktu. “Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Cipeucang kini tak sanggup lagi menampung sampah warga yang membludak, sehingga sampah harus dititip-buangkan di TPA Rawa Kucing, milik tetangga.”

TPA Cipeucang yang setiap harinya menampung puluhan ton sampah warga tanpa pengolahan apa pun – akhirnya harus menyerah, karena overloaded. “Bayangkan, sebelum ada kegiatan Kota Tanpa Sampah, tiap rumah tangga di sini rata-rata membuang 4 kilogram sampah tiap harinya. Untuk RW 8 jumlah ini dikalikan 840 keluarga, sehingga tiap harinya ada 3.360 kilogram sampah,” jelas Wilma. “Dalam sebulan satu RW ini saja sudah menghasilkan 100.800 kilogram sampah!”

Kota Tanpa Sampah

Berbagai Sosialisasi Kota Tanpa Sampah

Menurut Kepala Bidang Persampahan Dinas Lingkungan Hidup Tangsel, Yepi Suherman, yang bulan Agustus lalu mengunjungi TPA Cipeucang dan diberitakan palapanews.com, volume sampah yang dihasilkan masyarakat Tangsel setiap harinya mencapai 1.500 ton. Jika sampah ini terus menerus ditumpuk tanpa pengolahan apa pun, kita hanya akan menciptakan gunung sampah yang tinggi di mana-mana! “Karena itu harus ada paradigm-shift,” ujar Heru Triongko, salah satu warga Caping. “Dengan dimulai dari diri sendiri, kita perlu mengubah mind-set. Diawali oleh lima warga Caping RW 8, kami bertekad mewujudkan proyek Kota Tanpa Sampah sejak 2015 lalu.”

Bagaimana mewujudkan kota tanpa sampah? Nah, komunitas Kota Tanpa Sampah ini ternyata tak cuma beretorika. Mereka telah menerapkan ‘Upaya Tiga Pintu’ – sebuah proyek yang kedengarannya mudah, namun sesungguhnya sangat sulit diterapkan karena menggeser paradigma yang sudah berurat akar. ‘Upaya Tiga Pintu’ adalah upaya mengubah mind-set dalam kerangka ‘3 R’ atau ‘Reduce, Reuse, Recycle’ – yang diterapkan di semua lini pintu yang ada – yakni pintu depan, pintu tengah, dan pintu belakang.

Kota Tanpa Sampah

Penandatanganan Komitmen Warga Tangsel

Upaya mengubah mind-set di pintu depan adalah mengubah kebiasaan pada saat berbelanja. “Kami mulai menerapkan belanja bijak, yaitu saat belanja sebisa mungkin tidak ikut membawa pulang sampah,” ungkap Novita. “Kami selalu membawa tas belanja dan wadah-wadah dari rumah. Contohnya, daging, sayuran, buah-buahan, atau bumbu yang biasanya dibungkus plastik, akan kami langsung masukkan ke dalam wadah , tanpa membawa pulang plastik. Kami juga membiasakan membawa tumbler atau botol minuman dari rumah dan tidak membeli minuman botol.” Kebiasaan ini, menurut Novita, akan sangat mengurangi sampah dan bahkan mengurangi konsumsi yang tidak perlu. Inilah perwujudan Reduce.

Kota Tanpa Sampah

Pupuk Kompos Cair

Setelah upaya Reduce dilakukan di pintu depan, upaya Reuse kemudian dilakukan di pintu tengah. Ini adalah upaya memilah-milah, mana sampah yang masih bisa dimanfaatkan dan mana yang benar-benar tidak bisa diapa-apakan lagi. “Sisa-sisa masakan dan sampah yang bisa terurai, dikumpulkan dalam wadah komposter untuk diolah jadi pupuk kompos. Bahkan air cucian beras pun dapat dimanfaatkan sebagai penyiram tanaman yang menyuburkan. Barang-barang bekas yang masih bisa diperbaiki, kami perbaiki. Sedang barang bekas yang masih bisa dimanfaatkan namun tidak terpakai lagi, kami berikan pada tukang loak,” jelas Novita. “Setelah melalui proses pemilahan, sampah yang benar-benar harus dibuang, jumlahnya berkurang drastis. Biasanya ini adalah pembalut, pampers, cotton buds.”

Lalu dengan upaya ini, berapa persen sih sampah warga komunitas ini berkurang? “Sampah kami bisa berkurang antara 50 hingga di atas 90 persen!” ujar Priyanto, salah satu warga komunitas Kota Tanpa Sampah dengan bangga. Betapa tidak bangga? Meski upaaya dilakukan sedikit demi sedikit, kini mereka telah menjadi bagian dari model perwujudan solusi persampahan yang mendera banyak kota besar di Indonesia.

Kota Tanpa Sampah

Kompos yang Dihasilkan untuk Bercocok Tanam

Tak hanya itu. Di pintu belakang, mereka masih melakukan Recycle. Dengan memproduksi komposter sederhana dari ember, sampah-sampah organik yang degradable atau dapat terurai, diproses menjadi pupuk kompos padat dan cair. Warga banyak yang telah memiliki komposter dan berhasil mengubah sampah menjadi sesuatu yang bermanfaat! Bahkan, karena mampu memproduksi pupuk kompos sendiri, ini merangsang warga untuk bercocok tanam. Maka bersemilah kehijauan di Kota Tanpa Sampah!

Meski satu langkah demi satu langkah telah dilalui untuk mewujudkan Kota Tanpa Sampah, namun menurut Santo Sutoyo, Priyanto, dan Adi Wibowo – para relawan pertama komunitas ini – perjuangan masih panjang dan tak mudah. “Walau masih banyak yang tak peduli, kami tetap melakukan sosialisasi dan berbagai kegiatan. Kami berharap upaya kecil ini dapat menular ke berbagai tempat, sehingga permasalahan serius sampah dapat tertanggulangi.”

* Sumber foto: koleksi Kota Tanpa Sampah, dan pribadi.

Category: PelangiTags:
No Response

Leave a reply "Kota Tanpa Sampah, Mungkin!"