Istana Alwatzikoebilah, Kejayaan Kesultanan Sambas Masa Lalu

Kesultanan Sambas
Kesultanan Sambas

Gonjreng.com – Saat melangkah hendak memasuki halaman istana Alwatzikoebilah dan Mesjid Jamie yang indah, yang berusia hampir 400 tahun, aku sempat terpekur membayangkan kejayaan Kesultanan Sambas di masa lalu. Kesultanan Sambas yang masih ada kaitannya dengan Kesultanan Brunei ini, pernah memiliki pusat pemerintahan yang besar di Kota Sambas, yang dibuktikan oleh dua situs peninggalannya yang masih utuh ini.
Kota Sambas adalah ibukota Kabupaten Sambas yang terletak di bagian utara Kalimantan Barat. Kota ini merupakan tempat pertemuan 3 sungai, yakni Sungai Subah, Sungai Sambas Kecil, dan Sungai Taberau dengan luas 247 km2. Apa yang paling menarik dari kota ini? Tentu saja, Istana Alwatzikoebillah dan Mesjid Jamie!

Komplek Istana Alwatzikoebillah terletak dipinggir sungai, tepat di pertemuan 3 sungai tadi. Mengingat transportasi utama di Kalimantan adalah sungai, maka tak mengherankan pemilihan lokasi istana di tepi sungai. Komplek Istana Alwatzikoebilah ini didominasi oleh warna kuning yang merupakan warna bangsawan dalam budaya Melayu.

Kesultanan Sambas
Kesultanan Sambas

Untuk memasuki istana yang cantik ini, pengunjung harus melalui alun-alun istana yang memisahkan halaman istana dengan jalan raya, setelah terlebih dahulu melewati bangunan gerbang dua lantai yang besar. Itulah Mesjid Jamie yang tua! Terbuat dari kayu ulin yang sangat indah, mesjid ini terlihat terawat baik. Di tengah alun-alun tampak sebuah tiang bendera yang ditopang oleh 4 buah tiang. Di bawah tiang bendera tadi terdapat 3 meriam kuno yang menghadap gerbang masuk alun-alun. Pengunjung akan melewati satu gerbang besar berlantai 2 sebelum memasuki halaman istana.

Kesultanan Sambas
Kesultanan Sambas

Istana Alwatzikoebilah terdiri dari bangunan utama berupa ruangan luas untuk menerima tamu, ruang tidur, dan ruang makan. Di sisi kiri kanan bangunan utama terdapat bangunan dimana salah satunya dulu digunakan sebagai dapur kerajaan. Saat ini bangunan sisi kanan digunakan oleh keluarga kerajaan untuk tempat tinggal, sementara sisi kiri merupakan tempat penyimpanan pusaka kerajaan, di antaranya gong, payung, dan tombak serta meriam-meriam kecil.

Keluarga Kerajaan Sambas masih memiliki pertalian darah dengan keluarga Kerajaan Brunei. Pada saat Kota Sambas ditetapkan menjadi ibukota Kesultanan Sambas di abad 17, dan sejak itu mulai berkembang, Kerajaan Sambas dipimpin oleh Raja Sulaiman yang bergelar Sultan Muhammad Shafiuddin. Ia adalah putra adik Sultan Brunei yang memerintah di Sarawak.

Kesultanan Sambas
Kesultanan Sambas

Kesultanan Sambas adalah kerajaan terbesar di pesisir barat Kalimantan yang berjaya sampai awal abad ke 19. Namun kejayaannya mulai meredup saat Pemerintah Hindia Belanda – dibantu oleh pihak keluarga kerajaan yang berkhianat – berhasil melakukan kudeta. Ini adalah salah satu keberhasilan taktik pecah belah yang dilakukan Hindia Belanda di seluruh nusantara. Sejak saat itu peran Kesultanan Sambas dialihkan ke Kesultanan Pontianak bentukan Hindia Belanda.

* Nina Adriani. Sumber foto: koleksi pribadi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *