Kelas Kehidupan dan Sang Pencipta (Bagian 5)

0 190
Kelas Kehidupan dan Sang Pencipta (Bagian 5)
Kelas Kehidupan dan Sang Pencipta (Bagian 5)

Kelas Kehidupan dan Sang Pencipta (Bagian 5)

Gonjreng.com – Jika The Law of Attraction atau Hukum Manifestasi adalah hukum alam yang patuh dan tak pandang bulu, mengapa tak semua manusia memanfaatkannya dan menikmati hidup? Apakah karena kebanyakan masih berada di kelas kehidupan victim stage? Jawabannya: karena mendisiplinkan pikiran itu gampang-gampang susah! Juga karena, terutama untuk kelas kehidupan victim stage, tidak banyak yang sungguh-sungguh tahu apa yang diinginkannya dalam hidup.

Beware of what you wish for, because there is great, great, great possibility that you will get it! Pernah dengar pepatah ini? Berhati-hatilah dengan keinginan-keinginan hatimu, karena kemungkinannya sangat, sangat, sangat besar untuk bisa terwujud! Ini adalah ekspresi lain dari Hukum Manifestasi. Ironisnya, hanya sebagian kecil manusia yang sungguh-sungguh tahu apa yang diinginkannya. Kebanyakan tidak yakin, tidak berani bermimpi besar, atau takut kecewa. Dan karena itu, dengan mudah mereka mendiskon, atau mengecilkan harapan-harapan mereka sendiri. Lalu dengan keragu-raguan seperti itu, apakah Hukum Manifestasi tetap berlaku? Ya! Yang akan terwujud dalam hidup mereka adalah realitas yang terdiskon itu, adalah kekecewaan yang – secara sadar atau tak sadar – jadi fokus mereka.

Sesungguhnya hukum semesta yang satu ini sederhana. Kuncinya hanyalah menyelaraskan frekuensi kita dengan frekuensi Sang Pencipta, atau Sang Sumber, atau Semesta, atau label apa pun yang kita berikan pada-Nya. Itulah sebabnya mengapa doa yang khusuk memiliki kekuatan super. Pada tingkat khusuk, pikiran kita mampu menyelaraskan dengan Semesta, dan karenanya gelombang manifestasi mulai bekerja, sering dengan cara-cara tak terbayangkan. Afirmasi, atau penekanan berulang-ulang seperti yang dilakukan Walt Disney dengan “My imagination creates my reality!”-nya juga memiliki ‘kesaktian’ tiada tara.

Lalu bagaimana caranya berlatih mendisiplinkan pikiran kita? Mari kita praktekkan beberapa hal sederhana yang mudah, tapi membawa manfaat besar ini:

Meditasi: Ah, meditasi?! Susah! Lagipula jika pikiran kosong, bisa kemasukan lho! Itu sebuah jawaban tipikal. Namun berbeda dengan anggapan banyak orang, sebenarnya meditasi bukanlah mengosongkan pikiran. Meditasi adalah mendisiplinkan fokus pikiran. Cara meditasi yang paling sederhana adalah berlatih menyingkirkan cicit-cuit segala pikiran yang berlalu-lalang di benak kita dengan memfokuskannya pada pernapasan panjang yang teratur, satu per satu.

Bergembira: Apa hubungannya gembira dengan blue-print hidup kita? Erat! Ingat, kita adalah vibrasi. Kita adalah energi. Pada saat kita bergembira, vibrasi akan meningkat dengan cepat! Dengan makin tingginya vibrasi, keselarasan dengan Semesta juga akan makin mudah tercapai. Sebaliknya, rasa marah, jengkel, atau semua emosi-emosi negatif, akan dengan cepat menurunkan vibrasi ke tingkat terendah, dan akibatnya mempersulit keselarasan kita dengan Sang Sumber.

Tidur: Pada saat tidur, pikiran-pikiran yang berlalu-lalang itu dengan sendirinya berhenti. Tidur adalah istirahat yang tak hanya baik untuk tubuh, namun juga pikiran kita. Tidur yang cukup dapat meningkatkan vibrasi kita.

Mudah, bukan? Mengapa kita tidak mulai bereksperimen dengan hidup yang menarik dan indah ini? Lakukan detik ini juga!

SELESAI

* Laksmi D. Haryanto, dari berbagai sumber. Sumber ilustrasi: pixabay.com.

Category: HakikatTags:
No Response

Leave a reply "Kelas Kehidupan dan Sang Pencipta (Bagian 5)"