Kelas Kehidupan dan Sang Pencipta (Bagian 3)

0 223
Kelas Kehidupan dan Sang Pencipta (Bagian 3)
Kelas Kehidupan dan Sang Pencipta (Bagian 3)

Kelas Kehidupan dan Sang Pencipta (Bagian 3)

Gonjreng.com – Apakah tahu-tidaknya akan kelas kehidupan memengaruhi kemampuan manusia sebagai co-creator realitas hidupnya? Bagaimana dengan manusia-manusia yang tidak pernah tahu tentang kelas kehidupan, tidak tahu tentang The Law of Attraction atau Hukum Manifestasi, namun selalu berhasil mewujudkan hidup sesuai dengan keinginannya?

Pertanyaan ini membuatku menengok ke masa lalu. Mengenang lagi perjalanan hidupku sejak kecil, aku menyadari bahwa hampir semua yang kuinginkan dalam hidup, pada akhirnya cepat atau lambat, tercapai. Bahkan hal-hal yang kemungkinannya sangat kecil dan nyaris merupakan keajaiban, pada akhirnya terwujud. Apakah itu berarti sejak kecil aku telah mengenal The Law of Attraction yang saat ini sedang heboh itu? Tidak. Apakah aku sadar sedang berperan sebagai co-creator dalam hidupku sendiri? Tidak juga.

Setelah Rhonda Byrne menerbitkan buku ‘The Secret’ yang menjadi best seller di dunia, dan memopulerkan istilah The Law of Attraction yang menjadi perbincangan di mana-mana, barulah banyak manusia – termasuk Oprah Winfrey, motivator Amerika yang terkenal itu – menghadapi ‘aha moment’: “Aha! Jadi yang kulakukan selama ini ada teorinya. Ada namanya!”

Dan, para ilmuwan pun tak ketinggalan. Mereka segera meneliti kekuatan pikiran, gelombang pikiran, kesadaran, kesadaran kolektif, dan korelasinya dalam mewujudkan realitas hidup. Salah satunya adalah eksperimen William Braud. Eksperimen ini menunjukkan bahwa seseorang yang ‘mengirimkan’ pikiran-pikirannya pada orang lain, secara psikologi dapat memengaruhi kondisi penerima pikiran itu secara nyata. Ini adalah sebuah studi yang membuktikan bahwa pikiran-pikiran kita sangat powerful, dapat dikirimkan, dan memiliki kekuatan yang bisa memengaruhi kondisi orang-orang di sekitar kita, terutama orang-orang yang kita sayangi. Pikiran-pikiran yang dikirimkan secara kolektif, bersama-sama, bahkan dapat memengaruhi kondisi suatu tempat, atau masyarakat secara spesifik.

Jadi, apa sebenarnya pikiran itu? Mengapa memiliki kekuatan besar? Dan, mengapa dapat dikirimkan? Sebelum menjawab pertanyaan ini, kita harus menyadari bahwa manusia sesungguhnya adalah ekstensi, atau perpanjangan, atau bagian, dari Sang Sumber, atau Sang Pencipta, yang tak berwujud fisik. Sang Sumber, dengan beragam label nama-Nya, adalah energi.

Bagaimana Albert Einstein, salah satu manusia yang tergenius di masanya bisa sampai pada pengetahuan ini, kita tak mengerti. Namun menurutnya, semua adalah energi: “We have been all wrong! What we have called matter is energy, whose vibration has been lowered as to be perceptible for the senses.”

Semua adalah energi. Benda-benda fisik adalah energi yang bervibrasi rendah, sehingga keberadaannya dapat tertangkap indera manusia. Pikiran pun adalah energi, adalah vibrasi yang memiliki beragam frekuensi. Keselarasan frekuensi inilah yang menurut Hukum Manifestasi menjadi kunci, mengapa ada doa yang terjawab, dan ada yang ‘belum terjawab’, mengapa ada keinginan yang terkabul, dan ada yang ‘belum terkabul’.

BERSAMBUNG

* Laksmi D. Haryanto, dari berbagai sumber. Sumber ilustrasi:

Category: HakikatTags:
No Response

Leave a reply "Kelas Kehidupan dan Sang Pencipta (Bagian 3)"