Kehancuran Aleppo dan Konflik Arab yang Membara (Bagian 1)

Kehancuran Aleppo dan Konflik Arab yang Membara (Bagian 1)

Gonjreng.com – Tiba-tiba semua orang mendengar berita tentang kehancuran Aleppo, sebuah kawasan yang porak-poranda oleh Perang Suriah. Wilayah yang sebelumnya tak dikenal ini tiba-tiba menjadi trending topic di dunia karena konflik sosial-politik yang berlarut-larut.

Penyebab konflik sosial-politik di Timur Tengah sebenarnya sangat kompleks, namun nuansa Islam selalu melekat di mana pun konflik itu terjadi. Itu sebabnya, konflik di Jazirah Arab bisa dikatakan sebagai konflik agama dalam arti luas.

Namun konflik agama tersebut sulit disederhanakan menjadi analisa dikotomi seperti konflik yang ada di Indonesia, yakni “perang virtual antara muslim di dunia maya” gara-gara Pilkada DKI, atau “perang” antara muslim “garis lurus” yang ekslusif melawan muslim “garis berkelok-kelok” yang inklusif – yang akarnya tak dapat dielakkan, terletak pada perbedaan mazhab.

Berikut ini adalah analisa saya tentang apa yang membuat Jazirah Arab, tak hanya Aleppo, membara. Ini adalah analisa yang sangat singkat dan tak dapat dikatakan mendalam, sekadar memberikan pengantar untuk memahami konflik di Jazirah Arab secara luas.

Kita mulai dengan Arab Saudi yang merupakan sahabat dekat negara-negara Barat dalam hal politik dan energi. Saat ini Arab Saudi sedang berseteru keras dengan Iran. Paham Islam di Arab Saudi adalah ahlul sunnah wal jamaah dari sayap Wahabi yang ringkasnya adalah aliran Islam “garis lurus yang konsisten”. Sementara itu, sudah sejak lama Iran yang memercayai mazhab Syiah, tidak memiliki hubungan mesra dengan ahlul sunnah wal jamaah. Ditingkahi oleh insiden bom yang dituduhkan pada Iran sebagai inisiatornya, akhir-akhir ini Iran tak diperbolehkan lagi mengirimkan jemaah hajinya ke Mekkah dan Madinah. Karena itu, Iran menyerukan internasionalisasi Mekkah dan Madinah.

Konflik agama antara Arab Saudi versus Iran adalah pertikaian sektarian yang cenderung persisten karena perbedaan aliran, di mana Iran memiliki akar Islam dari Sayidina Ali, sahabat Rasulullah SAW, sementara akar Arab Saudi bukanlah dari Sayidina Ali. Pertarungan reliji ini sebenarnya berasal dari masa lalu yang jauh di belakang, yang terjadi setelah wafatnya Rasulullah SAW. Jadi ini adalah konflik yang bersejarah panjang, namun saya tak akan terpaku di sini.

Sementara itu, ada juga kabar-kabar pertarungan yang belum sampai menjadi konflik, antara Arab Saudi yang bermazhab Wahabi versus negara-negara Arab lain seperti Qatar, UEA, dan Mesir yang mayoritas muslimnya dari aliran organisasi massa (ormas) Islam Ikhwanul Muslimin. Di Indonesia ada juga sebuah partai politik yang beraliran sama dengan ormas Ikhwanul Muslimin yang dianggap sebagai Islam konservatif, tetapi dapat menerima modernitas dan demokrasi dalam praktek kenegaraan. Secara berseloroh, saya bisa katakan Qatar ini sebagai pendukung FC Barcelona yang terkenal dengan bintang-bintang sepak bola top dunia itu – sekadar menyederhanakan betapa modernnya Qatar. Ikhwanul Muslimin menerima ide-ide Barat dalam praktek politik. Dan inilah yang membedakannya dengan mazhab Wahabi. Dengan dasar ini, pemilu demokratis bisa dilaksanakan di Mesir, sekalipun diwarnai kekacauan politik.

Arab Saudi menjaga kuat mazhab Wahabi sebagai “sistem keseimbangan” atas menguatnya mazhab atau aliran Ikhwanul Muslimin di Jazirah Arab. Secara politis, strategi ini adalah cara paling pas untuk melindungi negara Arab Saudi agar tetap dalam tatanan monarki kerajaan. Logika politiknya adalah, bila mazhab Ikhwanul Muslimin masuk ke Arab Saudi, maka akar monarki akan dilemahkan oleh demokrasi, dan Arab Saudi bisa menjadi negara demokrasi seperti Mesir. Ini adalah ancaman besar bagi kelanjutan monarki yang selama ini telah mapan dalam sistem bernegara di Arab Saudi.

BERSAMBUNG

* Arya Hadi Dharmawan – dosen IPB, pengamat masalah sosial. Sumber ilustrasi: wikimedia.org.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *