Kehancuran Aleppo dan Konflik Arab yang Membara (Bagian 2)

Aleppo
Aleppo

Kehancuran Aleppo dan Konflik Arab yang Membara (Bagian 2)

Gonjreng.com – Sementara itu, Turki dipimpin oleh Presiden Erdogan yang sekalipun berasal dari partai berhaluan Ikhwanul Muslimin, namun negara ini telah lama berayun ke sekularisme ala Eropa. Mengapa? Karena tak hanya sebagian wilayahnya masuk di wilayah Eropa, tetapi juga modernisasi Barat yang dilakukan Kemal Attaturk sangat kuat mengakar di Turki.

Selain Turki, Jordania juga salah satu negara Arab yang menerapkan modernitas Barat. Modernitas tak terpisahkan dalam kehidupan sehari-hari di kawasan yang relatif aman dari konflik ini. Seperti di Barat, perempuan-perempuan muslim di Jordania pun banyak yang tak mengenakan kerudung.

Lalu, bagaimana dengan Yaman? Sudah lama Yaman terpecah dua menjadi Yaman Utara dan Selatan. Benturan perbedaan ide sosialisme versus non-sosialisme telah memecah belah dan meledakkan peperangan antar wilayah, dan hingga kini wilayah itu masih dalam kecamuk konflik yang tak kunjung usai.

Dan, Palestina? Palestina adalah negara multi-agama yang berasal dari Nabi Ibrahim. Tiga agama yang berakar dari Nabi Ibrahim – Yahudi, Kristen dan Islam – ini sesungguhnya bersaudara. Dari sejarahnya, konflik Palestina sebenarnya bukanlah konflik agama, tetapi adalah konflik aneksasi wilayah teritorial Palestina oleh “negara bentukan Barat”, Israel. Konflik Palestina versus Israel adalah konflik kawasan. Israel terus menerus menggerus wilayah Palestina yang menyebabkan wilayah kekuasaan Palestina terus berkurang dan tinggal sedikit. Perjuangan Palestina untuk mempertahankan wilayahnya ini mendapatkan simpati dunia, termasuk dari Indonesia.

Lantas, bagaimana dengan Irak dan Suriah yang saat ini sedang dilanda kekacauan? Di masa pemerintahan Saddam Husein, Irak dikenal sebagai negara ekspansif. Mungkin kita masih ingat bagaimana Irak mengekspansi Kuwait di kawasan Teluk pada tahun 1990-an sehingga memaksa Amerika Serikat dan negara-negara Barat lainnya turun tangan.

Sementara, Suriah sejak lama dipimpin oleh Presiden yang dianggap “naik takhta dan berkuasa” secara tidak demokratis, yang menyebabkan timbulnya perlawanan dari akar-rumput. Pada awal konflik, tidak ada perjuangan atas nama agama di sana. Awalnya, perjuangan akar-rumput adalah murni memperjuangkan pemimpin yang demokratis. Situasi jadi memanas ketika para pejuang akar-rumput mengangkat senjata menentang Pemerintah Suriah, disusul oleh gerakan radikal-fundamentalis yang menyeruak di dekade 2000-an, yang ingin membawa ide Islam garis keras ke kursi kekuasaan. Sontak beberapa negara Arab menentangnya karena tak ingin kehadiran rezim yang dianggap pengacau itu meluaskan pengaruhnya ke Suriah.

Agenda utama gerakan Islam radikal-fundamentalis ini adalah menguasai Irak dan Suriah untuk dijadikan pusat “pan Islamisme” dunia. Itulah sebabnya mengapa tak hanya negara-negara Arab tetapi juga negara-negara Barat kemudian tak segan-segan mengirimkan tentara dan pesawatnya untuk membombardir gerakan ini. Kedua pemerintah di dua negara tersebut tentu saja adalah pihak yang paling ingin membendung invasi dari gerakan radikal-fundamentalis Islam, sampai kini.

Namun, sesungguhnya konflik tak sesederhana itu. Pada saat pejuang akar-rumput atau pemberontak pemerintah bergerak dan kemudian bersatu dengan gerakan Islam radikal-fundamentalis, Pemerintah Suriah meminta bantuan Iran. Karena itu kemudian masuklah pejuang akar-rumput poros Syiah untuk mendukung rezim yang berkuasa. Hubungan yang makin erat antara Pemerintah Suriah dengan Iran yang beraliran Syiah ini, mendorong Saudi Arabia yang beraliran Sunni turun gelanggang untuk menahan gerakan Syiah di Suriah.

Peperangan antar akar-rumput yang melibatkan Arab Saudi dan Iran ini menjadi kompleks, karena sesungguhnya tujuan mereka tidak sama dengan tujuan gerakan Islam radikal-fundamentalis di Suriah dan Irak. Peperangan antar pejuang akar-rumput dan antara pejuang akar-rumput melawan tentara Pemerintah Suriah tak terelakkan dan menghebat, dengan bayangan poros Saudi Arabia (Sunni) dan Iran (Syiah) di latar belakangnya.

Belum juga peperangan ini mereda, hubungan Pemerintah Suriah yang secara politik dekat dengan Rusia, telah menyebabkan Rusia ikut campur tangan. Dan karena Rusia masuk, maka Amerika Serikat pun masuk juga ke gelanggang.

Jadi, Perang Suriah adalah perang segi tiga, bahkan segi empat, atau bahkan segi lima. Alhasil negeri yang dulunya sangat indah dengan kota-kota bersejarahnya seperti Palmyra dan Aleppo, kini hancur lebur, luluh-lantak. Sungguh, ini adalah tragedi dunia yang memilukan.

Singkatnya, konflik Jazirah Arab tidak memiliki penyebab tunggal dan sangat rumit. Pada intinya, semoga kita tidak memandang dengan kaca-mata kuda, sebab-musabab konflik yang terjadi di Jazirah Arab saat ini, dan kemudian menghubung-hubungkannya dengan Indonesia. Konflik di Jazirah Arab tidak bisa dibandingkan seperti “apple to apple” dengan dinamika antar umat muslim di Indonesia yang saat ini sedang “diuji”. Namun demikian, apa pun perbedaan kita, kita semua tetap bersaudara, bersatu sebagai bangsa Indonesia, dalam naungan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang tercinta.

* Arya Hadi Dharmawan – dosen IPB, pengamat masalah sosial. Sumber ilustrasi: wikimedia.

Category: Nawacita
No Response

Leave a reply "Kehancuran Aleppo dan Konflik Arab yang Membara (Bagian 2)"