Kampanye Senyap Ala Ahok-Djarot

0 279
Ahok-Djarot
Ahok-Djarot

Gonjreng.com – Senyap, satu kata yang tetiba menjadi judul berita utama di jagad portal berita media siber. Istilah ‘senyap’ mendadak popular, sejak Ahok-Djarot melakukan blusukan dan menyambangi warga Jakarta tanpa liputan media. Dari aktivitas blusukan gaya “diam-diam” tersebut,  yang kemudian dikenal sebagai “kampanye senyap”. Seperti diberitakan portal berita detiknews, pada Jumat, 10 Maret 2017,  berjudul, Ini Wilayah yang Dikunjungi Ahok Selama Kampanye ‘Senyap’,

Jika menelusuri sekitar dua tahun silam, sebetulnya kata “senyap” bukan sesuatu yang baru. Pada 2014, kata senyap pernah menjadi perbincangan hangat di kalangan para pencinta film dokumenter. Baik level nasional maupun internasional. Betapa tidak. Film berjudul Senyap (The Look of Silence) merupakan film dokumentar berbahasa Indonesia, Jawa, disutradarai Joshua Oppenheimer  yang telah banyak dinominasikan di sejumlah festival atau ajang penghargaan. Film Senyap pun  masuk nominasi Acadamy Award dalam kategori Best Documenter Feature.  Meski akhirnya tak meraih piala Oscar (Academy Award), film Senyap meraih banyak kemenangan  dari berbagai festival film dunia, antara lain, Berlin International Film Festival, Venice Film International Festival, Busan International Film Festival, Sofia International Film Festival, serta penghargaan bergensi lainnya.

Pada konteks ini, film Senyap memang tak berhubungan dengan kampanye Ahok.  Walau demikian, ‘senyap’ tetap memiliki makna denotatif yang sama; sunyi, sepi, dan lengang. Bahkan ada beberapa lagu yang liriknya menggunakan kata senyap, sunyi, dan sepi untuk menggambarkan suatu situasi atau suasana hati. Namun, secara konotatif, kata senyap bisa berbeda maknanya. Makna konotatif sebagai film, biarlah penonton film Senyap  yang mengomentarinya. Sedang makna konotatif yang terkait dengan “kampanye senyap” adalah,  yang kini diidentikan dengan gaya kampanye Ahok tanpa liputan media massa.

Meski demikian, tetap saja kampanye tersebut memicu reaksi pro-kontra dalam jelang putaran kedua  kontestasi Pilkada DKI. Bawaslu memprotes ‘kampanye senyap’ yang dilakukan Paslon Ahok-Djarot, dianggap menyalahi aturan yang telah ditetapkan. Sesuai yang diberitakan Jitunews (20 Maret 2017) berjudul, “Kampanye Senyap’ Ahok-Djarot Diprotes Bawaslu. Dalam pemberitaannya, Ketua Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) DKI Jakarta, Mimah Susanti, memprotes kegiatan kampanye cagub-cawagub DKI Jakarta nomor urut dua, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok)–Djarot Saiful Hidayat di putaran kedua Pilkada DKI Jakarta kali ini. Menurut Mimah, selama ini ada beberapa agenda Ahok-Djarot yang tidak diketahui Bawaslu, sehingga pihaknya (Bawaslu) tidak dapat melakukan pemantauan dan pengawasan.

“Kalau tak ada laporan kepada kami, kami bisa bubarkan kegiatan kampanye yang dilakukan para pasangan calon gubernur,” tukas Mimah, Minggu (19/3).

Kegiatan-kegiatan Ahok-Djarot tersebut, lanjut Mimah, sebaiknya memang dipublikasikan dan dibuat kampanye. Tujuannya adalah agar warga dapat mengetahui visi dan misi Ahok-Djarot secara jelas. Menanggapi  teguran Bawaslu tersebut,  Djarot justru memiliki pendapat berbeda. Bagi Djarot, tidak semua agenda keduanya harus dilaporkan ke Bawaslu. Sebab, tidak semua kegiatannya merupakan bentuk kampanye.

“Kalau setiap aktivitas saya didaftarkan ya repot ya, contoh saya mau potong rambut nih sama keluarga, masa kita ke Bawaslu,” jelas Djarot usai blusukan di Klender, Jakarta Timur, Minggu (19/3).

Namun lepas dari yang kontradiktif, dalam konteks komunikasi, ‘senyap’  hampir mirip dengan Teori Spiral of Silence   yang digagas Elisabeth Noella Nuemann (1974). Artinya, ketika individu ingin beropini tentang suatu isu, namun memiliki perasaan was-was, cemas, ketakutan, sehingga merasa  terisolasi  untuk menentukan apakah akan menyampaikan opininya di depan publik atau tidak. Maka itu, agar tidak terisolasi bagi individu atau kelompok minoritas tersebut mencari dukungan atas opininya dari lingkungannya, terutama media massa. Implikasi ini menggulirkan opini minoritas menjadi opini mayoritas. Namun, jika yang terjadi justru sebaliknya, maka sebagai minoritas akan melakukan aksi diam, menyimpan opininya agar aman, sehingga kemudian setuju atau tidak setuju akan menerima opini mayoritas. Sebab, pada dasarnya, suara mayoritas kerap dianggap suara kebenaran.

Terkait dengan fenomena komunikasi yang terjadi di putaran pertama Pilkada DKI, hal ini yang memunculkan strategi komunikasi yang berbeda di kubu Ahok-Djarot di putaran kedua yang dikenal sebagai kampanye senyap.  ‘Kampanye senyap’ merupakan refleksi dari opini yang tak tersalurkan sebagaimana mestinya di putaran pertama. Maka itu, ada kalanya kelompok minoritas ingin menyampaikan opininya secara benar, namun justru menjadi ketakutan tatkala opininya mewakili suara minoritas, yang kerap dianggap bukan sebagai opini kebenaran. Dengan kampanye senyap, segala aksi yang dilakukan Ahok-Djarot diharapkan tak mengalami distorsi komunikasi. Artinya, warga DKI yang dituju sebagai sasaran kampanye Ahok-Djarot berlangsung secara efektif dan efisien, tanpa hura-hura yang cenderung menjadi huru-hara.

*Sumber gambar: youtube.com.

Category: NawacitaTags:
No Response

Leave a reply "Kampanye Senyap Ala Ahok-Djarot"