Kain Lurik, Nyaman dan Sarat Makna!

Gonjreng.com – Gelap masih menyelimuti stasiun Tugu, ketika di depanku lewat sebuah sepeda onthel membawa tanggok bambu sarat isi. Di belakangnya seorang ibu tua dengan bakul terikat erat di punggung berjalan bergegas, diikuti gadis muda dengan ceret dan ember di tangannya. Pandanganku mengikuti mereka. Ternyata mereka berhenti di emper toko yang masih tutup, lalu menggelar selembar kain berwarna hitam bergaris coklat dan hijau, terlihat lusuh. Pandanganku beralih ke pengendara sepeda, yang juga menurunkan bawaannya. Dagangan mereka beraneka – bubur gudeg, sambel krecek, opor ayam, dan lauknya.

Yang membuatku heran, meski pagi itu udara sangat dingin menembus tulang, namun mereka terlihat santai dalam balutan baju tipisnya. Aku perhatikan ternyata pakaian mereka – kebaya kutu baru dan surjan (pakaian khas laki-laki di Yogja) – semua memiliki warna dan corak garis-garis yang mirip. Aku langsung bertanya, dan dengan senyum mereka menjawab bahwa pakaian mereka adalah hasil tenunan sendiri. Kain tenun itu bernama Lurik yang keistimewaannya adalah terasa hangat di saat dingin, tapi terasa sejuk di saat panas. Saat itulah aku jatuh cinta pada kain garis-garis ini.

Kata Lurik berasal dari bahas Jawa, lorek yang artinya garis, merupakan lambang kesederhanaan. Sederhana dalam penampilan dan pembuatan, namun sarat dengan makna. Lurik memilik banyak fungsi seperti simbol status, ritual keagamaan, atau sebagai penutup dan pelindung tubuh.

Abdi Dalem dengan lurik

Pada jamannya, proses pembuatan lurik diawali dengan menyiapkan lawe (benang) yang berasal dari tumbuhan perdu dengan warna dominan hitam dan putih. Inilah sebabnya lurik selalu nyaman dikenakan dalam cuaca apa pun. Lawe kemudian diberi pewarna alami seperti kulit batang mahoni yang menghasilkan warna coklat, atau rendaman daun pohon tarum (Bahasa Sunda). Jenis tanaman Indigofera atau Fabaceae yang merupakan tanaman polong-polongan ini  menghasilkan warna biru alami atau hitam.

Lawe harus dicuci berkali-kali, lalu dipukul-pukul hingga lunak, dijemur, dan dibaluri (dioles) nasi dengan menggunakan kuas yang terbuat dari sabut kelapa. Setelah kaku dan kering diberi warna, dijemur lagi, dan akhirnya ditenun. Alat tenun bendho dan gendong adalah dua alat tenun yang dipakai untuk menenun lurik di masa lalu. Bendho digunakan untuk menenun stagen (ikat pinggang dari tenunan yang sangat panjang dan dikenakan saat wanita Jawa menggunakan jarik). Sedangkan gendong digunakan untuk membuat jarik (kain panjang), bahan pakaian, selendang lebar.

Walaupun lurik hanya berupa garis-garis, namun menurut ahli wastra tradisioinal Nian S. Djoemena, ragamnya luar biasa. Corak seperti klenting kuning, sodo sakler (sebatang lidi), lasem, tuluh watu, lompong keli – masing-masing mengandung pesan dan falsafahnya yang sarat makna. Penasaran dengan lurik? Yuk kita buktikan kenyamanannya!

* Witdya Pudjanarko dari berbagai sumber. Sumber ilustrasi: ressti_ayu_tenun-lurik-pedan, Yogjanet

2 thoughts on “Kain Lurik, Nyaman dan Sarat Makna!

  • 05/09/2016 at 10:47 pm
    Permalink

    Bagus tulisannya, sebagai bangsa Indonesia kita harus melestarikan kain Lurik sebagai asset bangsa, terimakasih telah mengingat saya.

    Reply
    • 15/09/2016 at 2:51 am
      Permalink

      Terima kasih, semoga menjadi perpanjangan tangan untuk lebih mengenal salah satu wastra Nusantara

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *