Jokowi Sindir Kepala Daerah, Wali Kota Solo Sebaliknya?

Gonjreng.com – Jokowi sindir kepala daerah terkait operasional moda transportasi Kereta Rel Listrik (KRL) di Jabodetabek yang banyak digunakan orang seperti pekerja harian, buruh, pedagang asongan, dan profesi lainnya.

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil, dan Wakil Wali Kota Bogor Dedie A. Rachim sempat menyuarakan agar operasional KRL dihentikan selama masa PSBB agar penyebaran virus corona (Covid-19) tidak semakin meluas saja.

Menurut Jokowi, permintaan itu akan dikabulkan asal daerah telah mempersiapkan semuanya serta bersedia menanggung akibat dari keputusan penghentian operasional KRL tersebut.

“Jangan hanya meminta dihentikan dan ya sudah masyarakat dibiarkan cari sendiri-sendiri. Enggak bisa seperti itu. Itu yang saya enggak bisa. Bukan masalah kebijakannya. Bukan itu,” kata Jokowi seperti dikutip dari cnnindonesia.com.

Jokowi sindir para kepala daerah di sini.

Bolehkah?

Ya, boleh saja.

Hanya disindir kok, lewat kata-kata.

Bagaimana kalau ada sebagian pihak yang mengatakan kata-kata itu bisa lebih tajam dari sebilah pedang? 

Bukankah cukup sering ada yang mengatakan seperti itu?

Ya, biar saja.

Kalau ada yang percaya, bahwa kata-kata bisa lebih tajam dari sebilah pedang, memangnya siapa yang bisa melarang?

Rambut boleh sama hitam, tapi pikiran orang siapa yang tahu, dan pikiran orang itu tidak bisa dilarang atau dicegah, apalagi dimasukkan ke dalam penjara.

Jika di atas tadi Jokowi sindir kepala daerah, menurut berita di sini, justru Jokowi terkesan disindir Wali Kota Solo.

Menurut penilaian Wali Kota Solo tadi, larangan mudik yang ditetapkan Jokowi pada 21 April lalu sudah terlambat, karena cukup banyak masyarakat yang sudah terlanjur pulang ke kampung. 

“Telat. Wis pada mudik kabeh, kok (sudah mudik semua kok),” kata Wali Kota Solo FX Hadi Rudyatmo.

Ia pun berharap pejabat di Jakarta pun berkomitmen mematuhi larangan mudik yang dikeluarkan oleh Jokowi tadi.

“Kalau sudah ada aturan begini ya orang Jakarta jangan ke Solo meskipun itu VVIP. Mosok VVIP saya karantina, kan ya ra mathuk (tidak pantas).”

Jokowi sindir kepala daerah, tapi ada juga pejabat daerah yang terkesan melakukan sebaliknya, menyindir Jokowi.

Bagaimana ini?

Biasa saja, gak usah lebay menanggapi adanya sindiran antar pejabat tadi.

Toh sindiran itu dilakukan hanya lewat kata-kata, bukan sebilah pedang.

***
Sumber gambar: cnnindonesia.com.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *