Idul Adha, Keteladanan Nabi Ibrahim

Gonjreng.com – Dari tempatku bersimpuh, di tengah lautan manusia yang bersholat Idul Adha di Jatiwaringin, Jakarta, kulihat kubah Masjid Al Barkah yang keemasan berkilauan tertimpa cahaya surya. Tajuk dua pohon asam yang daunnya berguguran tampak membingkai kubah masjid itu di kiri-kanannya, menciptakan lukisan indah. Ah, andai aku membawa ponsel, pasti sudah kuabadikan kecantikan ini. Duh, kutepuk jidatku. Kuingatkan diriku untuk fokus pada kotbah sang imam, Ahmad Buchori, tentang Idul Adha dan keteladanan Nabi Ibrahim.

Hari ini seluruh umat Islam, bersama sekitar empat juta jamaah haji yang sedang melaksanakan ibadah haji di Tanah Suci, merayakan Idul Adha. Pada hakekatnya, Idul Adha adalah mengingat keteladanan Nabi Ibrahim. Nabi Ibrahim, atau Abraham, tak hanya merupakan milik umat Islam saja, namun juga dijunjung oleh seluruh umat agama-agama Abrahamik – yaitu agama yang berasal dari Nabi Ibrahim, namun dalam perjalanannya kemudian terpecah menjadi Katolik, Protestan, Yahudi, dan Islam.

Dari sekian banyak suri-tauladan yang diberikan oleh Nabi Ibrahim di sepanjang hidupnya, ada empat hikmah yang diutamakan oleh kaum muslimin:

1. Manusia sama di hadapan Allah, harus meninggalkan yang haram serta melakukan yang halal: Ibadah haji yang dimulai dengan ihram dan diakhiri dengan tahallul, sarat dengan makna. Saat ihram, pakaian yang dikenakan adalah kain putih tak berjahit. Ini menyimbolkan, yang akan dikenakan jasad manusia di saat kematiannya hanyalah selembar kain kafan. Pakaian ihram berwarna putih melambangkan tidak adanya perbedaan di antara sesama manusia di mata Allah. Ihram melambangkan pengharaman, dan tahallul penghalalan. Esensi keseluruhannya, seorang haji siap meninggalkan yang diharamkan dan melakukan yang dihalalkan.

2. Bergerak untuk melakukan kebaikan dan berkorban: Ibadah haji merupakan ibadah yang bergerak – dari rumah menuju Tanah Suci. Setelah melakukan ritual hingga tahallul di sana, jemaah harus bergerak untuk melaksanakan puncak ibadah haji, menuju Arafah untuk wuquf. Malam harinya menuju Muzdalifah untuk mabit dan mengumpulkan batu, dan keesokan harinya melontar di Mina. Kemudian setelah Tawaf Ifadhah di Mekkah, kembali lagi ke Mina untuk melontar hingga selesai. Apa makna dari semua ini? Setiap muslim hendaknya harus terus bergerak ke arah kebaikan – mencari nafkah, menuntut ilmu, menegakkan dan memperjuangkan nilai-nilai kebaikan dan kebenaran, tanpa henti.

3. Menjadikan masjid sebagai pusat aktivitas: Ketika jamaah haji berkesempatan berziarah ke Madinah, mereka berbondong-bondong melaksanakan shalat berjamaah lima waktu di Masjid Nabawi. Meski ini tidak menjadi bagian dari ibadah haji, namun makna apa yang tersirat di dalamnya? Setiap muslim harus memiliki ikatan batin dengan masjid. Ikatan batin inilah yang menjadikan masjid selalu ‘hidup’.

4. Keinginan Nabi Ibrahim untuk terus menimba ilmu: Keinginan ini tercatat dalam Surat As Syu’ara: 83-84, “Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku hikmah dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang saleh, dan jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang yang datang kemudian.” Dalam tafsir Al Mishbah, amal ilmiah diartikan sebagai amal yang baik berdasar ilmu. Nabi Ibrahim yang meminta ilmu agar bisa selalu menjalani kehidupannya di jalan Allah, merupakan kemuliaan yang dijunjung tinggi oleh kaum muslimin.

Semoga kita semua dapat mengikuti keteladanan Nabi Ibrahim!

* Laksmi D. Haryanto. Sumber: Kotbah Idul Adha Ahmad Buchori, Ar, Lc, di Masjid Al Barkah, Jatiwaringin, Jakarta, 12 September 2016. Sumber ilustrasi: wikipedia.org.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *