Ibadah Haji adalah Momen untuk Berserah Diri

Gonjreng.com – Ibadah haji sebagai rukun Islam ke-5, hukumnya wajib bagi semua muslim yang mampu. Mampu secara fisik, mental, dan materi. Berbeda dengan ibadah-ibadah lainnya seperti sholat, puasa, dan zakat, ibadah haji membutuhkan kesiapan fisik dan mental yang baik. Oleh karena itu, pergi ke Tanah Suci selagi muda dan sehat, sangat dianjurkan. Kesiapan fisik dan mental yang sangat baik dibutuhkan bukan hanya untuk menyiapkan perjalanan panjang 9 jam penerbangan, tapi utamanya adalah untuk menjalani ritual haji seperti wukuf di Arafah, mabid (bermalam) di Mina dan Muzdalifah, melempar jumroh, thawaf, dan sa’i yang semuanya itu dilakukan selama 3-5 hari berturut-turut tanpa putus.

Berhaji hanya dapat dilakukan di Tanah Suci Mekkah. Oleh karenanya, diperlukan juga kesiapan materi, baik untuk berangkat ke Tanah Suci maupun untuk bekal hidup keluarga yang kita tinggalkan di Tanah Air. Ketika berangkat berhaji, sedapat mungkin urusan keuangan terkendali. Meski masih ada outstanding pinjaman, pastikan sudah dilindungi oleh asuransi. Sehingga bila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan pada diri kita di Tanah Suci, tidak akan merepotkan keluarga.

Ibadah haji adalah momen berkumpulnya kaum muslim dari berbagai penjuru dunia, dari berbagai golongan, status sosial, dan ras. Berihrom sebagai rukun haji yang pertama memberi makna persamaan dan universalitas. Di hadapan Allah semua manusia sama derajatnya, kecuali taqwa. Dengan berihrom kita melepaskan semua urusan duniawi seperti pangkat, jabatan, dan kekayaan. Selain itu kita juga diingatkan bahwa ketika mati tidak ada yang bisa kita bawa kecuali selembar kain kafan yang kita pakai.

Rasulullaah SAW bersabda, bahwa haji adalah wukuf di Arafah. Oleh karenanya banyak ulama sepakat bahwa wukuf di Arafah merupakan rukun haji yang paling utama. Wukuf hanya dapat dilakukan di Padang Arafah, tidak di tempat lain. Untuk mendapatkan sahnya ibadah haji, dalam kondisi apa pun, semua jamaah harus datang ke Arafah pada tanggal 9 Dzulhijah, mulai terbit fajar hingga terbenamnya matahari. Saat itu merupakan waktu paling mustajab bagi kita untuk berdoa, berserah diri kepadaNya. Semua doa yang dipanjatkan diyakini akan terkabul, karena pada saat itu hampir tidak ada batas antara manusia dengan Sang Pencipta. Keadaan di Arafah juga merupakan gambaran kecil dari Padang Mahsyar, tempat dimana seluruh manusia akan dikumpulkan setelah dibangkitkan kembali (dari kematian). Di sana manusia tidak dapat berlindung dan bernanung, kecuali kepada Allah SWT.

Berhaji memunculkan kepuasan jiwa dan perasaan makin dekat dengan Sang Khaliq. Bahkan ketika kaki kita melangkah dari Tanah Air menuju Baitullah, niat yang ikhlas sudah tertanam dalam diri kita untuk hanya berserah diri kepadaNya. Seperti kalimat Talbiyah brikut ini: Labbaik Allahumma Labbaik, Labbaika laa syariika labbaik. Innalhamda wanni’mata laka wal mulk laa sayriikalak (HR Muslim).

* Tri Oetami. Sumber foto: pixabay.com.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *