Hari Bumi: Semua Hewan dalam Buku Cerita Anak Punah

0 527
Hari Bumi
Hari Bumi

Gonjreng.com – Hari Bumi yang diperingati dunia setiap 22 April, selalu memberi nuansa manis-pahit bagi manusia, terutama bagi para pejuang lingkungan hidup.

Betapa tidak? Bumi tercinta telah melindungi dan membiarkan spesies manusia, Homo sapiens, berkembang biak sangat cepat. Namun ironisnya, dari tahun ke tahun topan badai semakin dahsyat dan semakin merusak, kebakaran hutan semakin luas, begitu pula perusakan alam, banjir, tanah longsor, dan berbagai bencana lainnya semakin menghebat.

Bahkan menurut data ilmiah, kehadiran manusia di bumi mempercepat tingkat kepunahan hewan menjadi 1000 kali lipat dibanding kecepatan alaminya. Dalam jangka 10-100 tahun lagi, jika tidak ada upaya pelestarian serius, para ilmuwan memprediksi semua hewan kesayangan dalam buku cerita anak-anak, akan punah.

Mengapa? Karena hutan digundulkan dengan kecepatan luar biasa, produksi carbon dan polusi meningkat pesat. Sebentar lagi singa akan punah. Harimau pun menyusul musnah. Badak? Gorila? Gajah? Beruang? Semua akan lenyap, tinggal legenda.

Adalah Senator Gaylord Nelson di Amerika Serikat yang pertama kali menggagas Earth Day karena keprihatinannya yang mendalam. Ketika bertahun-tahun perjuangannya membangkitkan kewaspadaan terhadap kehancuran bumi gagal total di parlemen, ia berpaling pada rakyat dan mengajak mereka bersama-sama menyuarakan perlindungan terhadap bumi.

Nelson mengusulkan 22 April 1970 sebagai hari untuk menyuarakan keprihatinan rakyat Amerika terhadap krisis lingkungan yang mereka hadapi. Dukungan rakyat yang masif membuat para politikus menyimak dan mengakui betapa kritisnya masalah perusakan alam.

Bola salju yang menggulir makin besar membuat PBB pada konferensinya di Stockholm, Swedia, tahun 1972 menetapkan 22 April sebagai Hari Bumi International. Sejak saat itu hampir seluruh negara di dunia merayakan Hari Bumi sebagai bagian dari upaya pelestarian lingkungan hidup. Intinya adalah menggugah perhatian masyarakat dunia untuk peduli terhadap alam. 

Keberadaan Homo sapiens di bumi ini ternyata baru 140.000 tahun, jauh lebih muda dari umur bumi yang telah mencapai 4,5 milyar tahun. Jika umur bumi yang 4,5 milyar tahun itu dikondensasi dalam analogi satu hari atau 24 jam, maka berapa umur keberadaan manusia dalam perbandingan itu? Tiga detik! Hanya dalam “tiga detik” itu, apa saja yang telah dilakukan manusia terhadap bumi? Apakah manusia menjaga planetnya? Memeliharanya? Mencintainya?

Ironis. Homo sapiens, yang artinya “makhluk bijaksana”, telah berhasil memisahkan partikel-partikel atom. Namun pada saat bersamaan atom-atom yang kita urai itu juga menghasilkan senjata nuklir ampuh yang berpotensi menghancurkan bumi. Homo sapiens juga telah berhasil menciptakan mesin-mesin canggih yang mampu menavigasi kita di luar angkasa.

Namun bersamaan dengan penjelajahan luar angkasa itu, kita mengabaikan dan menelantarkan bumi, rumah kita. Padahal, bumi dalam tata suryanya adalah satu-satunya planet yang memiliki kehidupan. Itu adalah kemungkinan satu di antara semilyar triliun triliun planet – satu diikuti 33 nol.

Bumi dengan Homo sapiens adalah sebuah miracle! Keajaiban. Anugerah. Inilah planet yang posisinya sempurna terhadap matahari – tidak terlalu dekat sehingga tak terbakar dan tidak terlalu jauh sehingga tak membeku – yang memungkinkan kehidupan eksis, dan semua species di dalamnya terhubung secara genetis satu dengan lainnya.

Keseimbangan inilah yang harus dijaga. Krisis utama kita bukanlah global warming, atau perusakan lingkungan, atau pembantaian binatang – tetapi kita sendiri. Manusia. Karena nafsu dan keserakahan, kita telah kehilangan refleksi spiritual, koneksi dengan bumi. Kita lupa bahwa semua berhubungan satu sama lain untuk menyiptakan keseimbangan alam. Atas nama profit, korporasi-korporasi sengaja membuat kita lengah dan tak peduli terhadap kelestarian alam.

Namun seiring dengan meningkatnya gaung Hari Bumi, kesadaran berjuta-juta manusia di dunia terhadap perlindungan alam ternyata makin membesar. Di Indonesia, Hari Bumi diperingati dengan berbagai kegiatan seperti seminar lingkungan hidup, kampanye pelestarian alam, serta gotong royong membersihkan pantai, sungai dan selokan dari sampah plastik.

Ikatan Alumni SMA Negeri 8 Jakarta (IA Smandel) pun tak ketinggalan memperingati Hari Bumi. Pada 8 April 2017 mereka akan menyerahkan 1.000 bibit pohon alpukat, 2.000 bibit pohon kayu-kayuan, serta 20 sumur bor kepada masyarakat di sekitar Gunung Pancar, Sentul, Jawa Barat, di mana acara penanaman pohon dilakukan. Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya, berencana hadir pada kegiatan tersebut.

Selain penanaman pohon, keluarga IA Smandel juga akan mengadakan kegiatan berkemah dan trekking, untuk mengapresiasi alam. “Menyelamatkan bumi adalah tugas seluruh manusia di dunia,” ujar Wahyu Suhendar, Ketua Panitia acara. “Kami mulai dari kelompok kecil dulu yaitu Ikatan Alumni SMA Negeri 8 Jakarta.

Saya berharap apa yang kami lakukan dapat bermanfaat bagi bumi.” Untuk keluarga besar IA Smandel yang berminat mengikuti kegiatan ini dapat segera mendaftar pada Riry melalui email riry_s88@yahoo.com. Mari kita jaga bumi kita!

* Dari berbagai sumber. Sumber gambar:

Category: PelangiTags:
No Response

Leave a reply "Hari Bumi: Semua Hewan dalam Buku Cerita Anak Punah"